Apa yang aku pelajari di usia 24 (menuju 25)

By Khata S. Fluorida - Mei 14, 2022


Udah berapa bulan blog ini ditinggalkan? perkembangan diriku rasanya sejauh ini cukup signifikan. Kalau dipikir-pikir, sosial media dan blog-blog yang aku punya itu jadi semacam milestoneku, tempat aku melihat perkembangan diriku dari hari ke hari. 


 

Terus terang aku baru benar-benar mempelajari diriku ya beberapa tahun ini. Aku sudah pernah bilang ini di blog tapi aku ingin bilang lagi. Sebelum ini aku masih bergerak dalam pola-pola acak, ibarat kalau aku pengendara, aku mengendarai kendaraanku secara zig-zag, nerabas lampu lalu lintas, kebut-kebutan, ganggu pengemudi lain, udah gitu ga jelas juga tujuannya kemana.

1. Mengenali diri sendiri

Aku sudah pernah tuliskan mengenai aku yang masih belajar mengenali diriku sendiri di umur 22 dan sekarangpun aku masih belajar buat mengenali diriku sendiri. kali ini aku menceritakan awal mula perjalananku dalam mempelajari diriku sendiri itu.

Tahun 2018 itu memang tahun yang biasa-biasa aja tapi disisi lain juga jadi titik balik mindsetku. 2018 itu permulaan dari semua permulaan. Kayanya banyak sekali yang berubah sejak tahun 2018. dari mulai cara aku menanggapi masalah, caraku melihat diriku sendiri, caraku merawat diri, termasuk caraku memandang orang lain. Di tahun 2018 aku gak langsung berubah jadi orang yang baik, tapi 2018 lah permulaanku untuk berani menapakkan kakiku, betul-betul ke tanah, berani menghadapi apa yang ada di depanku, kukuh sama apa yang aku inginkan, walaupun tentu aja aku masih memiliki banyak sekali masalah setelah itu.

Ketika aku pikir lagi, ada 2 orang dan kejadian kunci yang selalu teringat yang menjadi titik sadarku sama semua hal ini. Yang pertama, youtuber Ali Abdaal. padahal video dia yang aku tonton ngga terlalu signifikan dengan masalah hidupku, tapi menonton video dia memunculkan minatku pada self help book, yang kedepannya ternyata sangat banyak sekali membantuku untuk merubah banyak caraku dalam bereaksi kepada orang lain.

yang kedua, saran dari seniorku di fisip. tiap kali aku pikir milestone apa sebenarnya yang aku ambil di 2018 aku merasa kalau saran kecil dari seniorku ini adalah saran yang bener-bener ngubah hidupku sampai saat ini. Dia bilang "lah kamu ga ada buku buat coret-coret? pulang nanti, kamu beli buku kecil yang bisa dibawa kemana-mana. kamu coret-coret langsung disitu. mimpi kamu, ide-ide kamu, apa aja itu dicoret disitu." Sepulangnya dari ketemu beliau aku langsung beli buku tulis. Instruksinya, tulis apa yang mau aku capai di halaman pertama. aku betul-betul tulis. halaman sisanya tiap hari aku isi. kadang-kadang hanya coret-coret, kadang-kadang cerita ideku, kadang-kadang gambar random. kadang-kadang aku curhat. Dari buku kecil itu aku jadi mulai aware sama diriku sendiri. dan yang paling penting, yang sebelumnya aku nggak punya tempat 'bercerita', aku jadi punya.

kemudian kejadian pertama lagi, ketika aku akhirnya mencoba skincare korea pertamaku. Sebelumnya aku gak pernah mencoba tapi aku udah hopeless luar biasa. Penampilan itu adalah hal yang paling tidak kusukai dari diriku. apalagi dengan jerawat yang besar dan sakit-sakit di wajahku. Bertemunya aku dengan skincare ini ibaratnya menutup salah satu pencarian terbesar dalam hidupku. Rasanya hampir kaya bertemu jodoh yang tepat setelah lama sekali nyari-nyari. Semenjak itu, berangsur-angsur kepercayaan diriku membaik lagi.

yang kedua, aku baca buku The Power of Habitnya Charles Duhigg. Aku doakan semoga beliau hidupnya selalu diberkahi, soalnya buku itu betul-betul berjasa dalam kehidupanku. Buku itu buku yang terus kubaca berulang-ulang sampai saat ini, tentunya karena aku masih belajar buat jadi lebih baik. 

Keempat hal ini kemudian yang menjadi pemantiknya, pemantik kesadaranku kalau aku harus mulai mencoba, sedikit, pelan-pelan belajar mengenai diriku sendiri. 

 Ali Abdaal pemancingku untuk tertarik mendalami diriku sendiri. Buku tulis membantuku menata pikiranku yang semrawut dan mendata apa-apa yang aku ketahui tentang diriku sampai saat ini. buku the power of habit memberikan cara dan mindset yang aku harus punya, dan skincare membuatku sadar kalau proses mengenali diri sendiri ini pasti akan panjang, sakit, akan ada titik dimana aku akan menyerah tapi jangan menyerah karena nanti akan ada saatnya, aku menemukan diriku sendiri.

2. Kesalahan dalam mengenali diri sendiri

Kalau tadi cerita mengenai jalanku sehingga akhirnya aku bisa mengenal diriku, sekarang ini aku cerita mengenai kesalahanku. Mungkin selama ini aku menilai diriku sama kaya aku menilai warna undertoneku. selama ini aku berpikir kalau aku warm tone. jadi aku mencoba pakai baju yang kekuningan, hijau, dll. Aku pede dan sangat yakin dengan ini selama setidaknya 3-4 tahun. Lucunya, ternyata temanku lebih bisa menilai aku daripada diriku sendiri. ketika temanku bilang kalau dia sama sekali gak merasa aku berkulit kuning langsat, aku masih merasa tidak percaya, karena di dalam pikiranku kulitku kuning langsat. aku baru sadar setelah aku sadari kalau selama ini aku selalu pakai baju warna biru dan abu, dan itu bukan warna undertone warm. Rupanya aku gagal mengenali diriku sendiri. Itulah mengapa selama ini warna pilihanku selalu salah..

Dari sini aku mulai mikir..

Kalau penilaianku pada diriku sendiri aja bisa salah, gimana penilaianku terhadap orang lain? Pasti sangat banyak kesalah pahamanku kepada orang lain selama ini yang nggak aku sadari tapi mungkin aku ngotot benar. Aku seringkali memandang orang lain itu buruk, padahal yang pasti buruk juga masih ada alasan di baliknya. Aku aja udah hidup 25 tahun tapi masih bisa salah bahkan untuk menilai yang nampak oleh mata, aku jadi penasaran bagaimana selama ini aku bisa menilai hati orang, ya?

3. Jangan cepat menyerah

kalau sekarang aku mudah menyerah, maka kedepannya willing powerku akan sampai disitu aja. kalau aku takut gagal, maka aku ga akan melangkah kemana-mana.

Tiap kali aku tidak mau mencoba sesuatu aku selalu ingat kalau dari aku masih bocah, aku memang terlalu takut untuk mencoba banyak hal sampai-sampai aku jadi tidak bisa menguasai skill-skill yang umumnya orang kuasai.

Sebenarnya mungkin takut-takut ini bawaan lahir, karena dari kecil aku memang benar takut mencoba hampir segala hal. Contohnya naik sepeda, karena dari kecil aku sangat takut untuk mencoba, akhirnya berdampak sampai aku dewasa. Aku jadi belum bisa mengendarai apa-apa sampai sekarang, disaat itu adalah kemampuan umum yang orang bisa lakukan. itu dampak yang kelihatan, dampak yang tidak terlihat di diriku, karena dari umuran itu (umuran yang seharusnya jadi umur aku bereksplorasi penuh) aku sudah takut mencoba, akhirnya semakin tua aku malah semakin takut mencoba banyak hal

 ..Dan kalau rantai takut-takut ini tidak kuputuskan maka aku akan ketakutan terus selamanya.

 Aku ingat keadaan-keadaan nyaman yang malah berdampak padaku sampai sekarang.

Yet again ini masih cerita tentang ceritaku waktu kecil dulu. tiap kali aku ingin mundur karena takut salah, takut gagal, aku selalu ingat kalau sekarang aku tidak bisa mengendarai sepeda karena dulu terlalu takut jatuh. jadi aku nyaman-nyaman saja terus-terusan duduk dalam boncengan kakakku atau abangku, karena itu yang aku anggap aman, aku dilindungi oleh seseorang, dan kemungkinan aku jatuh juga kecil. kalaupun aku jatuh, ya aku bisa menyalahkan orang lain yang bertanggung jawab.

Sekilas memang terdengar menyenangkan. tapi, dampaknya, akhirnya di umur sekarang aku jadi baru mulai belajar lagi, setidaknya belajar untuk tidak takut jatuh. Aku jadi tidak luwes untuk menerima kalau aku suatu saat akan jatuh, atau malah jatuh berulang kali itu wajar karena itu proses belajar.

Aku juga ingat saat-saat ketika aku menyontek. saat-saat menyontek itu menyenangkan, saat lihat nilai yang tinggi rasanya senang dan berpuas diri. Pada saat itu, yang tidak kuketahui saat itu adalah dampak menyontek itu merugikan diriku sendiri. Karena terbiasa menyontek, aku jadi mengakselerasi kemampuanku untuk merasakan sakit belajar dan sakitnya gagal. Akhirnya ketika jatuh sejatuh-jatuhnya aku jadi depresi.

Padahal kalau mengikuti jalan yang benar, kalau saat itu aku benar-benar belajar keras dan belajar dengan baik, lalu ketika ujian mendapat nilai yang fluktuatif, bisa jadi tinggi dan bisa jadi rendah, tapi karena itu semua hasil yang aku usahakan, aku akan lebih baik dalam menilai diriku sendiri.

Jadi, saat ini, kalau aku tergoda untuk mencari jalan pintas, aku selalu mengingat kalau aku sering mengambil jalan pintas, dan tidak ada dampak jangka panjangnya yang baik. Jadi aku harus bersabar..

 4. Belajar memberikan orang lain kepercayaan

Ketika menuliskan poin diatas, aku jadi kepikiran, apa trust issue itu sebenarnya bukan karena adanya trauma, ya? Tapi sebenernya emang manusia tuh ada yang diwariskan gen trust issuenya dari orang tua? ada kode gen tertentu yang bawa sifat trust issue? soalnya aku suka heran sama diriku sendiri. kalau dipikir-pikir, keluargaku nggak berantakan. teman-temanku juga aku rasa cukup baik. kalau ada yang ngga baik, itu aku. kenapa aku tidak bisa baik, karena aku susah percaya sama orang. kenapa aku susah sekali membuat diriku sendiri percaya sama orang lain? masih jadi misteri. apa aku punya pengalaman ga enak yang terus ada di bawah alam sadarku? aku masih belum tau pasti dan masih coba aku gali-gali.

Susah percaya ke orang lain ini aku bawa sampai sekarang sebenarnya. Tapi sedikit-sedikit aku kurangi sekali. Dimulai dari nulis di kertas, kemudian pindah ke orang, dikit-dikit, aku masih jauh dari kata selesai, tapi aku rasa sudah di jalan yang benar. Tiap kali harus mempercayai orang aku masih gemetar. Tapi aku harus terus lawan.

5. Stress dan Pusing itu Tanda Berpikir.

Di titik ini, aku semakin banyak pening dan pusingnya. Jadi dewasa itu tuntutannya banyak betul. Sebenarnya dulupun aku banyak pusingnya. Tapi aku mengamati perbedaan, kecil tapi cukup signifikan di diriku. 

Dulu aku pening, pusing, dan nangis tiap kali ada yang rasanya mengganjal. Tapi selanjutnya aku terus-terusan tenggelam dalam sedih yang ngga habis-habis sampai ganggu kualitas hidupku sendiri. Tapi waktu itu aku nggak cukup paham apakah itu depresi, stress, atau aku yang memang tidak bisa mengendalikan emosiku sendiri. Efeknya ke kehidupan sosialku, kepercayaan diriku sangat signifikan. Aku susah sekali untuk bisa senyum. Aku gak percaya sama semua orang. Ketika aku bilang semua orang, itu tandanya semuanya tanpa terkecuali. 

Sekarang ini, perubahan kecilnya, aku masih stress, nangis, sakit kalau misalnya ada masalah. Tapi, hal itu tidak lagi banyak mempengaruhi aktivitas harianku dalam waktu yang lama. mungkin sehari-dua hari, lalu aku jalan lagi. Kalaupun ada yang makan waktu lama, sedikit-sedikit aku berani berdiri melawan. Nggak pasrah lagi dengan keadaan emosiku yang seperti itu. Walaupun masih berat, sekarang ini aku sangat-sangat mensyukuri perubahan ini.

6. Berikan dirimu sendiri kesempatan

Sebelum ini aku memandang diriku rendah sekali. kali ini, aku ingin memberikan kesempatan sekali lagi pada diriku, untuk mencoba, untuk menang, untuk gagal, untuk dipuji, untuk dicaci, untuk dicintai, untuk dibenci, dan aku mau lihat karakter baru yang terbentuk oleh kesempatan-kesempatan itu.

Selama ini aku terus berusaha menghindari banyak hal yang membuatku sakit. Ternyata itu buruk untuk perkembangan diriku.

Gak mau lagi menyesali kesalahan yang sudah dilakukan di masa lalu karena mencoba hal baru, karena dari hal-hal baru yang terus kulakukan dengan salah itu aku belajar. kalau tidak pernah salah tidak akan bisa benar.

mungkin benar kalau sifat takutanku ini udah gen, karena aku mengalami ini sudah dari aku umur 3-4 tahun. Tapi saat ini, di umur yang sebentar lagi dua puluh lima, aku ingin kembali lagi ke mungkin dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun yang lalu lagi. Aku saat ini kembali jadi Ulfah di umur 3-4 tahun lagi, tapi kali ini dengan semangat untuk belajar yang tinggi. Aku mau jadi seperti anak yang lain, yang berani mencoba banyak hal. Dalam prosesnya, seperti anak lain, pasti bakal jatuh, pasti bakal nangis, pasti bakal malu, pasti bakal takut lagi. tapi kali ini, aku ingin ada satu pasti lagi, yaitu seberapa banyakpun aku jatuh, nangis dan takut, aku pasti bakal coba lagi.

dan kali ini aku mau lihat aku bisa melangkah sejauh apa.

Semoga Allah langkahkan kakiku ke jalan yang lurus.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar