Iterasi II : Mulai dari nol lagi

By Khata S. Fluorida - Februari 11, 2022

Ponakanku benaran seperti nama yang diberikan kedua orang tuanya. Dia penyembuh. Penyembuh hati yang sedih, penyembuh semangat yang ciut, penyembuh jiwa yang terluka, haha lebai.


 

 Aku sangat malu sekaligus terinspirasi pada ponakanku. Memang melihat proses belajar sendiri itu berbeda betul sama melihat hasil akhirnya. Melihat proses bertumbuhnya dari 2,8 hingga 13 kg. Dari mulai cuma bisa rebahan dan taunya nangis doang, buka mata, belajar berekspresi, keluar suara dari mulutnya, ketawa, berdiri, jalan, bicara dan masih belajar banyak hal sampai sekarang. Proses yang sangat menarik karena sebenarnya aku tidak pernah benar-benar tertarik pada bayi. Dulu aku sangat takut mendekati bayi karena kupikir bayi itu lembek, nangis dan suka nempel XD dan aku juga nggak bisa gendong bayi. Jadi menurutku bayi itu menyeramkan haha. ternyata not as bad as I though lah.

Aku lihat sendiri proses dia belajar. Belajar berdiri, jatuh, nangis, coba lagi, jatuh lagi, nangis lagi, akhirnya bisa berdiri, jalan pelan-pelan, jatuh lagi, nangis lagi, jalan dua langkah, hoyong, jatuh lagi, terus sampai akhirnya bisa jalan seperti sekaraang walaupun masih sempoyongan. Prosesnya belajar bicara pun begitu. mulai dari keluar suara tidak jelas dari mulutnya, rajin keluarin suara, memperhatikan mulut orang-orang dewasa ketika bicara, mulai mencoba meniru, meniru, meniru, keluar bahasa alien, lalu salah pengucapan, meniru lagi, sampai sekarang sudah bisa bicara walaupun hanya setiap suku kata terakhir seperti "cantik" dia ucapkan "tik" dan "pulang" hanya diucapkan "lang". Proses yang dia alami sesungguhnya aku telah alami juga ya waktu bayi dulu. Tapi aku baru ingat lagi. Aku baru ingat kalau proses belajar memang seperti itu. Banyak salahnya. banyak jatuhnya.

Anak-anak punya keunggulan dalam belajar. mereka tidak takut salah, jatuh ataupun gagal. Mereka menangis, tapi terus coba lagi sampai bisa.


Aku punya kelemahan dalam belajar karena sering menghindari proses karena takut jatuh, takut gagal, takut malu, takut salah. Kerapkali ambil jalan pintas, yang ternyata buat aku lemah, karena tidak memahami proses belajar. Kadang malah aku takut untuk sekedar mencoba.

Hal itu yang buat aku tidak bisa mengendarai sepeda seperti anak lain. Aku juga mengalami kesulitan untuk bicarakan apa yang ada di pikiran. takut bahkan untuk sekedar mencoba karena tidak mau menerima resikonya. Diperparah dengan jalan pintas yang selalu aku dapatkan tiap kali aku mau menghindari kegagalan, ketakutan, rasa malu yang aku pikir jadi resiko terbesar.

Ternyata ada resiko lebih besar lagi daripada sekedar malu atau gagal. Aku jadi mudah takut akan banyak hal, aku sedemikian takut belajar dan tingkat negativityku pada dunia demikian besar. Dua puluh tahun aku hidup, selalu kalau sekali jatuh aku depresi. Gak mau ngapa-ngapain lagi. Merasa useless lah, inj lah, itu lah. Parah betul.

Jadi, sejak aku mengamati ponakanku, aku memutuskan buat mulai belajar dari nol lagi. Belajar kaya anak bayi. Optimis kaya tidak pernah gagal. Aku mau tahu hidupku akan jadi seperti apa kalau aku hanya terus mencoba tanpa takut gagal. Mungkin ada kesempatan besar yang aku baru bisa dapatkan jika aku banyak belajar dan mencoba. Kali ini aku siap untuk jatuh, gagal, nangis dan coba lagi selayaknya ponakanku.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar