Iterasi

By Khata S. Fluorida - June 28, 2021

Kalau Isyana bilang musik adalah sarananya menyalurkan emosinya, mungkin aku bisa bilang kalau menulis, di platform ini adalah salah satu caraku menyalurkan emosiku. Kayanya aku udah terlalu terbiasa curhat di blog, sampai-sampai kalau belum cerita rasanya ada yang kurang. Padahal aku juga tetap cerita ke teman, ke keluarga, ke saudara, nulis di selembar kertas terkadang, pun menulis di laptop. Tapi aktivitas rutinnya Mengetik di postingan baru Blogger-memublikasikan-mempromosikan" itu yang aku rasa kurang. Cerita ke orang lain itu tidak semenyenangkan dan semenenangkan ketika aku menulis di platform ini.


Ini masih pendapatku pribadi, sekalipun sekarang Tiktok, Instagram, Twitter, Youtube maupun Facebook lebih digandrungi, Blogger tetaplah platform terbaik bagiku karena dua hal : ketidakterbatasan karakter dan algoritmanya yang tidak menyebabkan candu. Platform lain itu ibarat mall besar yang semua penjual berebut mencuri perhatianku sambil teriak-teriak dan menawarkan barang dagangannya, riuh sekali. Blogger sejauh ini masih sesuai dengan esensinya, sekali lagi ini pendapat pribadi. Blogger ini platform untuk menulis, menuangkan pikiran secara privat tanpa harus dijejali dengan informasi-informasi lain sampai mataku kriting. Pembacanya tidak banyak, tapi sudah cukup untuk membuatku merasa diapresiasi dan 'didengarkan' meskipun oleh orang khayalan.

Kemarin-kemarin sebenarnya sudah ingin nulis di blog ini, tapi sayangnya jiwaku lagi sangat-sangat negatif, takut menularkan ke orang lain. Kemarin-kemarin aku berjuang dengan perubahan-perubahan yang bagiku terasa sangat aneh dan ternyata tidak pernah benar-benar aku perhitungkan walau seringkali aku bayangkan dalam mimpi-mimpi yang -kukira indah- dalam tidurku. Allhamdulilah, berkat kumpulan meme Instagram, aku berhasil bangkit dari negativity yang tiada habisnya. Ternyata instagram ada bagusnya juga.

Perubahan-perubahan ini sejujurnya memang kusengaja. Kusengaja karena akhir tahun lalu baru kusadari selama ini aku hidup dalam tempurung yang kukira nyaman dan aman. Ternyata membuatku ketinggalan dalam banyak hal-hal penting yang sudah dijalani orang lain di masa-masa mudanya. Aku terlambat mencoba banyak hal yang seharusnya bekal untuk hidup, dan kuputuskan untuk mencobanya sekarang selagi ada waktu untuk mencobanya. Kalau Jepang punya Restorasi Meiji, bolehlah aku punya Restorasiku sendiri, kan?

Semakin perubahan-perubahan itu datang, di otakku malah semakin banyak pertanyaan, sekaligus juga aku bisa melihat kenyataan. Dunia-dunia yang selama ini aku coba hindari, aku dekati pelan-pelan. Ternyata memang tidak seperti yang aku bayangkan.

Dalam prosesnya, aku jadi sadar kalau selama ini aku hidup dalam negeri dongeng. Impian-impianku memang benar tidak membumi, sekaligus terlalu idealis buat ukuran diriku sendiri.

Perubahan ini juga menjadikan tujuan-tujuanku sebelumnya hilang. Kalau aku bilang, hidupku seperti di format ulang. Keyakinan-keyakinanku, kepercayaanku, hal-hal yang aku anggap nyata dan tidak. semuanya berubah. Sampai sekarang, sejujurnya aku masih berjalan tanpa tujuan. Meraba-raba di kegelapan, kira-kira kemana seharusnya tujuanku? Kali ini, aku ingin memastikan kalau aku berjalan ke tujuan yang benar.

Semoga revisi bab kali ini berjalan dengan lancar, sehingga aku bisa lanjut ke bab berikutnya dan tidak perlu merevisi ulang lagi.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments