Tiga Mantra Kesejukan Hati

By Khata S. Fluorida - January 16, 2021

Belakangan ini semua hal di hidupku terasa magis sekali. Aku sudah lama sekali ingin menonton film Soul, sebuah animasi baru dari Pixar. Aku memang suka sekali nonton film animasi. Hanya masalahnya, dulu Soul cuma ada di Disney Hotstar, dan aku tidak berlangganan. Bisa nonton ilegal, cuma sejak tahun  lalu aku sudah mengusahakan untuk tidak menonton film ilegal lagi (udah sadar, ternyata untuk buat karya itu susah) jadi aku cuma berharap saja semoga Soul cepat tayang di TV.

 


 

 

8 Januari kemarin, surprisingly, aku dapet gratis langganan 30 hari Disney Hotstar dari Telkomsel. tentu aja aku langsung ambil. Target utamaku adalah aku mau nonton Mulan dan Soul. Sayangnya, waktu nonton Mulan, aku agak merasa kecewa karena ternyata tidak sesuai ekspektasiku. Entah karena aku nontonnya di ruang TV dan banyak distraksi, jadi tidak terlalu terasa ceritanya. Jadi, setelah itu aku belum melanjutkan lagi untuk nonton Soul. 






14 Januari kemarin, seorang teman menyarankan aku untuk menulis sebuah postingan baru di blog ini. Dia bilang, judulnya kesejukan hati. Katanya, kunci kesejukan hati itu ada tiga. Ibadah, percaya sama diri sendiri dan bersyukur. Selanjutnya aku yang melanjutkan sendiri.

Yang kemudian aku sebut saja, tiga mantra kesejukan hati.

Waktu itu aku sendiri agak tertarik tapi lebih banyak bingungnya. Apa yang mau aku tulis dari tema itu? Masalahnya, tiga hal itu adalah hal-hal yang aku sedang perjuangkan. Dalam 23 tahun lebih aku hidup, rasanya sedikit sekali waktu yang kuhabiskan untuk menjalani ketiga hal itu dengan sungguh-sungguh. 

Tapi, baiklah. Berhubung belum punya topik baru untuk ditulis, jadi dicoba saja. Hari ini, aku duduk di depan laptop. Menulis tiga poin itu tapi lalu bingung sendiri, apa yang mau aku tuliskan disana? Lalu aku jadi teringat dengan Disney Hotstar, dan Soul yang belum kutonton. Aku pikir, aku tonton saja dulu. Siapa tau aku bisa mendapatkan sesuatu yang bisa kutulis dari film itu.

Oh iya, aku akan sedikit memberikan spoiler Soul. Jika kalian berniat akan menonton, jangan dibaca dulu ya.

Soul

Soul bercerita tentang Joe Gardner, seorang guru musik yang berambisi jadi seorang pianis terkenal yang kemudian terjatuh kedalam sebuah lubang, hampir mati dan bertemu dengan si Unborn Soul a.k.a 22 di dunia Before Life (Dunia sebelum ruh lahir). Keduanya kemudian mengalami petualangan untuk mencari dua hal yang sepenuhnya berbeda tapi esensinya sama. Joe Gardner ingin kembali dan mewujudkan cita-citanya, sedangkan 22 ingin mencari spark of lifenya, tujuannya hidup di dunia.

Film ini adalah salah satu film terbaik yang aku tonton di 2021 meskipun 2021 juga baru berjalan 2 minggu. Karena film ini berhasil menyampaikan pesan rumit kedalam sebuah cerita sederhana, dan berhasil pula membuat aku merefleksikan hidupku dari cerita Joe Gardner. Dan poin-poin yang aku dapat dari film tersebut, tidak jauh berbeda dari tiga poin yang disebutkan oleh temanku sebelumnya.

1. Bersyukur

Bersyukur ini adalah masalah paling sulit bagiku karena aku kerap membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Aku paling iri dengan dua jenis manusia di dunia ini, orang yang pintar dan orang yang cantik. Kalau saja aku lebih pintar, aku pasti akan bisa memahami banyak hal dengan lebih cepat. hidupku pasti lebih mudah. Aku pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpiku. Dan kalau aku cantik, orang-orang akan memperlakukan aku dengan baik. Aku akan lebih mudah mendapatkan teman. Aku tidak perlu repot-repot memilih pakaian karena semua pakaian akan terlihat bagus ketika aku pakai. Aku juga tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk terlihat lebih cantik. Pun, aku tidak perlu merasakan insecure pada diriku sendiri untuk memperlihatkan wajahku ke orang lain.

Ini dilema, karena di satu sisi, jika aku membandingkan diriku, aku akan ciut dan terus menyalahkan diriku sendiri untuk semua hal yang aku tidak punyai. Sementara, kalau aku tidak membandingkan, maka aku jadi begini-begini saja. Tidak ada kemajuan yang berarti dalam hidupku.

Aku merasa seperti Gardner, yang terus berpikir jika jalan menuju kebahagiaan hanya ada satu, yaitu menjadi seorang pianis terkenal. Padahal, ketika dia sungguh-sungguh menyadari kehidupannya, ternyata dia sudah bahagia. Yang baru dia sadari ketika waktu kematiannya sangat dekat.

Dari matanya 22, si Unborn Soul, dia baru dapat melihat kalau makan-makanan enak, bernafas, berjalan-jalan, mendengar musik, mengajar dan memotivasi murid-muridnya untuk bermusik, bahkan melihat jatuhnya daun ke tangan adalah sebuah kebahagiaan. Tapi Gardner selama ini mengabaikan begitu saja karena dia pikir itu cuma "kehidupan orang-orang pada umumnya". 

Ada pula cerita Tukang Pangkas langganan Gardner, yang selama ini Gardner pikir kalau "Jadi tukang pangkas adalah spark of joy"nya si tukang pangkas dan mereka sama-sama menyukai musik jazz. Ketika sang tukang pangkas bercerita jika dia sebenarnya ingin sekali jadi tukang pangkas, dan kalau ini pertama kalinya Gardner mendengarkan ceritanya, Gardner menyadari perlahan kalau dialah yang terlalu selfish.

 

2. Percaya Diri

Jika esensi dari syukur dijelaskan dalam kehidupan Joe Gardner, maka esensi percaya diri diceritakan melalui si Unborn Life. Nomor 22 miliknya didapatkan dari urutan munculnya ruh, yang sekarang urutannya sudah satu juta lebih. Si 22 memang sudah lama sekali hidup di dalam dunia Before Life. Bahkan sudah dimentori oleh Aristoteles, Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, dan lain-lain agar dia menemukan spark of lifenya. Dia selalu mengikuti You Seminar (Seminar penemuan jati diri) ribuan kali sampai ia muak. Saking tidak adanya minatnya untuk hidup di dunia, dia jadi berusaha agar tidak terlahir saja. Namun itu sebelum dia bertemu dengan Joe Gardner.

 


 

 

Bersama Joe Gardner, 22 belajar untuk menemukan dirinya dan jati dirinya. ternyata hidup tidak buruk-buruk amat, bahkan dia bisa ahli dalam berjalan. Kemudian, di belakang, dia menemukan kenyataan bahwa ternyata, bukan spark of joy-nya yang hilang, tapi ketidak percayaannya pada dirinya sendiri yang membuat dia tidak kunjung berani untuk hidup di bumi. Karena si mentor-mentor terus memarahinya membuatnya berpikir kalau dia memang tidak mempunyai tujuan hidup apa-apa.

Padahal, tujuan hidup tidak harus selalu menjadi seorang filsuf terkenal, musisi yang dapat penghargaan, peneliti yang dapat hadiah nobel atau presiden. Si 22 akhirnya mengetahui kalau sekedar jalan-jalan pun bisa jadi menyenangkan. Sebelumnya keinginannya terlalu muluk, setelah benar-benar merasakan hidup, baru dia tau kalau hidup hanya perlu mempercayai dirinya sendiri dan hidup. itu saja.

 

3. Ibadah

Aku tidak akan berbohong. Orang-orang berekspektasi aku alim hanya karena caraku berpakaian atau lingkaran pertemananku. Aku sama saja seperti manusia pada umumnya. Pun aku masih berjuang dalam hal ibadah. Sama susahnya dalam memahami Al-Quran, sama susahnya berjuang bangun buat shalat subuh. Suka ngantuk-ngantuk bahkan ketiduran juga kalau dengerin ceramah. Jujur aja, cara bicara ustaz-uztaz pada umumnya memang sering bikin ngantuk.

Tapi, satu hal magis yang selalu terjadi, selalu datang disaat aku selesai beribadah dengan sungguh-sungguh. Termasuk semua rangkaian peristiwa yang aku jelaskan di awal tulisan ini. Aku berdoa agar aku bisa menuliskan sesuatu, dan semua kejadian itu terjadi begitu saja, sampai saat aku duduk di depan laptop dan mengerjakan tulisan ini.

Pun dalam Soul, meskipun tidak secara eksplisit menjelaskan tentang agama apapun, namun konsepnya berdasarkan dari konsep kehidupan agama samawi. Soul menjelaskan tentang tujuan hidup tidak sekedar hal-hal yang bersifat duniawi saja, namun juga hal-hal kecil yang tidak kita sadari. Aku mengamini hal tersebut. Termasuk dalam hal ibadah, aku merasa ibadah tidak melulu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ritual. Aku pikir, mencari ilmu, mensyukuri hidup yang kita dapat, membantu orang bahkan dalam hal-hal kecil, atau merawat diripun merupakan ibadah, asal niatnya lurus.

Untuk mengakhiri tulisan ini, aku ingin memberikan satu petikan percakapan antara si Malaikat Jerry dan Gardner

Jerry              : How are you going to spend your life?

Gardner        : I’m not sure, but I do know I’m gonna live every minute of it.

 


  • Share:

You Might Also Like

0 comments