Refleksi Tahun 2020

By Khata S. Fluorida - January 11, 2021


2020 meninggalkan banyak kesan untukku. Di tahun itu, aku mengalami banyak hal-hal baru, yang sebelumnya aku selalu ragu-ragu untuk melakukannya. Di satu sisi, ini juga tahun yang terasa cepat sekali berlalu karena mayoritas waktuku dihabiskan untuk hanya duduk dan merenung, dan ketidak pastian yang menyebalkan.

Karena aku baru mulai menulis lagi, jadi tulisan kali ini akan berisikan hal-hal random yang aku alami dan lumayan bermakna pada tahun 2020. 


1. Mencoba Hal Baru yang Sebelumnya Aku Sangat Takuti

Aku ini penakut sekali. takut hantu, takut keluar, takut kenalan sama orang baru, dan takut-takut tidak masuk akal lainnya. Ketakutanku ini kadang membuat aku jadi diam dan tidak bergerak kemana-mana. Di tahun 2020, aku rasa aku banyak berubah, aku putuskan untuk tidak takut-takut lagi. Dan anehnya, ternyata hal-hal yang aku takuti sebenarnya tidak semenakutkan itu. aku cuma perlu menghadapi rasa takutku sendiri. dan ketika aku berhasil, ada hal baik yang menungguku dibalik ketakutan itu.

2. Belajar Berkomunikasi

Ini salah satu kelemahan besarku. Komunikasi verbal khususnya. Sebenarnya ini salahku juga, aku tidak mencoba berkomunikasi dengan benar. Aku tadinya ingin bertindak seenakku saja. Ditambah aku memang tipikal orang yang lebih suka sendiri. Namun, kesininya aku sadar juga, kalau kelemahanku ini membuat banyak sekali kesalahpahaman sederhana yang tidak seharusnya terjadi. Dan benar saja, ketika aku coba untuk berkomunikasi dengan lebih baik, banyak masalah yang menyita pikiranku bisa terselesaikan. 

3. Mempelajari Alam Semesta Adalah Mempelajari diri kita sendiri

 Aku menyukai kutipan yang ditulis di website Info astronomi ini.

Lain kali, ketika anda keluar menatap bintang yang bersinar di langit malam, anda sedang melihat diri sendiri di kehidupan sebelumnya. Kita adalah bintang yang sedang mempelajari dirinya sendiri

4. Kutipan Margaret Thatcher

“Watch your thoughts, for they will become actions. Watch your actions, for they'll become... habits. Watch your habits for they will forge your character. Watch your character, for it will make your destiny.”


Margaret Thatcher

5. Fa Ayna Tazhabun?

Fa ayna tazhabun berarti "mau kemana?". Sebuah kutipan dari kitab suci.  Kalimat ini bagiku bermakna dalam sekali, karena mulai sejak tahun 2021 ini, aku sudah cukup dewasa untuk memutuskan aku akan kemana nanti

Semakin ke belakang, walaupun aku tetap menuliskan 'mau kemana'-ku, aku lebih banyak menyerahkan diri kepada kemana arah hidupku kelak. 2020 mengajarkanku kalau rencana Tuhan itu benar-benar melebih rencana manusia. Aku sudah berencana banyak sekali pada tahun 2019, tapi berapa orang yang ikut memasukkan pandemi dalam list rencananya? perusahaan yang memiliki banyak orang untuk menyusun rencana pun banyak yg tidak mempertimbangkan hal ini, dengan kata lain, dalam kondisi seperti ini, lebih baik bersabar.

6. Value of Excellence

Aku menemukan istilah ini setelah membaca status yang diposting oleh Bapak Pitoyo Hartono. Value of Excellence adalah mengerahkan usaha terbaik untuk hasil karya yang terbaik. Untukku, jangankan value of excellence, sebenarnya untuk menyelesaikan satu pekerjaan saja kadang sudah sulit. Tapi setelah lulus kuliah aku memang baru menyadari dampak buruk yang ditimbulkan dari hasil aku yang tidak mengerahkan usaha terbaikku dalam setiap karya. Akhirnya, aku kebingungan untuk menonjolkan hasil kerjaku. Sekarang ini, aku sedang mencoba untuk menerapkan konsep ini dalam keseharianku.

7. Taklukkan Harimau Itu 

Harimau itu diriku sendiri. Melawan si Harimau itu sangat susah ternyata. aku pikir, musuhku berbentuk manusia jahat yang selalu mencoba berbagai cara untuk menjatuhkanku. Nyatanya si Harimau itu yang tidak bisa kukontrol sehingga membuatku salah menanggapi masalah yang datang kepadaku. kedepannya, aku ingin lebih baik lagi dalam mengontrol si harimau itu agar aku bisa berpindah ke masalah yang urgensinya lebih tinggi lagi.

8. Tetap Semangat. Karena Hanya Perjuanganku yang Bisa Kubanggakan 

Aku sadar diri sekali kalau aku bukan orang kaya, tidak terlalu cantik, tidak pula terlalu pintar. Kalaupun ada yang bisa aku banggakan, ya cuma semangatku untuk memajukan diriku sendiri. Hasilnya sering buruk sebenarnya, tapi cuma ini yang bisa kulakukan untuk diriku, agar setidaknya, diriku sendiri sadar kalau aku terus berjuang.

9. Part Ways

Aku mendapatkan istilah ini dari Mba Creameno. Beliau ini mengatakan bahwa akan ada satu waktu ketika sama teman terbaik kita pun kita akan mengalami frekuensi interest yang tidak sama lagi. Pelan-pelan, kita pun akan jadi jauh dengan mereka. Tapi, jauh bukan berarti musuhan. ketika bertemu, akan tetap seru juga. Kesininya aku juga berpikir sama, ternyata dunia dewasa mengambil banyak sekali slot pikiran dan waktuku, sehingga akupun harus mengatur ulang prioritasku. termasuk dalam pertemanan. Aku juga sadar mungkin temanku mengalami hal yang sama. Jadi, jika aku ingin baik aku maupun dia memiliki kehidupan yang baik, maka tidak baper dan menerima jarang bertemu itu mungkin adalah solusi terbaik.

10. Pengelolaan Sampah

Aku masih ingat sekali kejadian saat aku mengikuti salah satu kegiatan di Mesjid Salman ITB. Yang buat aku teringat dengan kegiatan itu sampai sekarang adalah disana, aku diperkenalkan dengan konsep islam yang bukan sekedar ritual. Jilbab, baca quran, shalat dan lain-lain itu ritual. Namun, disana aku belajar lebih dari sekadar itu. Aku belajar menyatukan islam dengan lingkungan, dengan keilmuan yang aku pelajari, dan dengan masyarakat.

Salah satu yang aku ingat adalah kami selalu diberikan nasi bungkus yang terdiri dari bungkus plastik untuk sayur dan ikan, bungkus kertas untuk nasi, serta sendok plastik. untuk sampah ini, panitia menyediakan 3 buah plastik besar untuk tempat sampah yang dibedakan sesuai dengan jenis plastiknya masing-masing. Sebenarnya ini sederhana sekali. Tapi mengingat aku sudah mengikuti cukup banyak kegiatan mesjid, tapi belum ada panitia yang mau repot-repot memilah sampah seperti itu

belum lagi, saat kami makan, sang MC pun masih setia menemani, ucapannya kurang lebih selalu sama, "ya, kalian boleh makan sekarang. ingat ya, tidak boleh bersisa. Di luar sana masih banyak yang tidak bisa makan dan tidak bisa menuntut ilmu seperti kalian."

Masih banyak sebenarnya yang yang kudapatkan disana, seperti belajar bahasa isyarat untuk membantu kaum disabilitas, menggunakan ilmu untuk masyarakat luas, belajar fungsi mesjid yang bukan hanya sekedar ibadah tapi seharusnya menjadi pusat peradaban. 

Semuanya aku ingat dan kemudian berusaha aku implementasikan untuk diriku sendiri.

11. Tidak Berpatokan Pada Uang

Ini sengaja aku tulis paling akhir sekaligus sebagai pengingat kepada diriku sendiri. Beberapa bulan belakangan aku sudah mulai lelah mengisi website ini. Alasannya sederhana, walaupun sudah tembus adsense, tapi ternyata jumlah yang dihasilkan tidak sebanyak yang aku kira sebelumnya. Bukan cuma itu saja, traffic blog ini juga datar-datar saja walaupun aku sudah berusaha promosi ke semua tempat yang aku tau. Aku jadi berpikir ini buang-buang waktu sementara seharusnya aku fokus untuk mandiri, mendapatkan uang sendiri agar aku tidak lagi bergantung pada orang tuaku.

Oleh karena itulah, tadinya aku tidak ingin memperpanjang lagi domain website ini. pikirku biarlah dia hilang saja bersama kumpulan tulisan-tulisanku yang lain. Toh aku juga tidak berniat untuk dikenal siapapun.

 Tapi aku rasa rencana Tuhan memang selalu unik. Beberapa hari yang lalu, seseorang mengingatkanku kembali dengan blog ini. Lalu aku membuka lagi isi tulisan-tulisanku, serta laman "tentang saya" yang aku buat. waktu itu sih aku membuatnya agar blog ini mempunyai arah mau kemana. Tapi beberapa hari yang lalu tulisan itu berhasil menyadarkanku kembali tentang niat awalku membuat blog ini.

Disitu aku tulis, kalau blog ini adalah tempatku belajar, dan semacam pay it forwardku, ibaratnya perusahaan ya ini bagian dari Corporate Social Responsibility-ku. Aku bayar semua hal-hal baik yang aku dapatkan selama ini dengan tulisan. Bertentangan sekali dengan sikapku yang mengeluhkan traffic dan monetisasi yang tidak kunjung menghasilkan, haha.

Ilmu apapun yang aku sebarkan, selain bermanfaat buat diriku sendiri, juga manfaatnya akan terus abadi. Berhubung aku lebih suka yang long lasting, jadi ya sudah. Lebih baik aku tebar ilmu saja di muka bumi ini.

 Terakhir, selamat tahun baru, ya. sebenarnya setiap detik, menit, jam, adalah waktu yang baru. Cuma momen tahun baru bisa jadi ajang kita berefleksi diri seraya jadi acuan untuk target-target yang akan kita capai. Jadi, silahkan isi waktu-waktu itu dengan sesuatu yang bermakna :)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments