Pengalamanku Menjalani Hidup Minimalis

By Khata S. Fluorida - August 26, 2020

Kalian pernah mengalami keterikatan yang sebegitu kuatnya dengan barang?

Aku pernah, dan ikatan itu sangat parah.

Dulu, aku mempertimbangkan hampir semua aspek di dalam hidupku dengan emosiku, bukan logikaku. Hasilnya, aku jadi gampang sekali terikat dengan orang, barang, dan tempat. Seringkali terasa sulit bagiku untuk move on pada ketiga hal itu karena aku meletakkan emosiku disana.

Cara-menjadi-minimalis

Bahkan, oleh keluargaku aku disebut seorang penimbun. Karena, aku benar-benar tidak bisa membuang atau memberikan barangku kepada orang lain. Aku merasa barang-barang itu adalah bagian dari diriku, dan kalau aku memberikannya ke orang lain, terasa seperti aku memberikan bagian dari diriku kepada orang itu. aku juga menderita dan terus kepikiran, 

"aduh, barangku yang sama dia apa kabarnya ya?"

Terasanya seperti aku terpisah dengan bagian dari diriku.

Cerita Toy Story 3 mempunyai masalah yang relevan sekali dengan masalahku. Dalam cerita itu, Andy, tokoh pemilik mainan di Toy Story, sudah dewasa. Lalu dia ragu untuk memutuskan akan menyumbangkan mainan kecilnya atau tidak. Di satu sisi, Andy punya keterikatan yang amat emosional dengan mainan-mainannya. Mainan menjadi bagian dari dirinya yang tidak mau di berikannya kepada orang lain. Di sisi lain, mainan-mainan itu sudah tidak akan bermanfaat apa-apa jika hanya berada di rumahnya. Dia sudah tidak memainkan mainan itu lagi, mainan itu menumpuk di rumahnya, memenuhi rumah, menghasilkan debu-debu baru.

Cara-Menjadi-Minimalis-Toy-Story

Menuju tak terbatas dan terus melampauinya!

Andy jelas tahu kalau mainan-mainan yang masih bagus itu akan lebih bermanfaat ketika dia sumbangkan ke anak lainnya. Anak lainnya itu akan menyayangi dan merawat mainan-mainan itu selayaknya dia menyayangi mainannya.

Lalu, bagaimana akhirnya?

Di dalam cerita itu, akhirnya Andy mengikhlaskan mainannya. Dia menyumbangkan mainannya pada anak lain. Awalnya dia kelihatan berat, namun akhirnya dia bisa melepaskan mainan tersebut. Pemilik mainannya yang baru memang menjaga mainan itu selayaknya Andy menjaga mainannya. Itu terlihat di Toy Story 4.

Di awal aku telah menceritakan kalau aku adalah seorang penimbun. yang perlu kalian ketahui, seorang penimbun sepertiku biasanya tidak hanya menimbun barang-barang. Biasanya dia menimbun pikiran-pikiran, kenangan-kenangan akan orang, tempat dan barang di dalam pikirannya sehingga pikirannya penuh sesak.

Sebagai resikonya, seorang penimbun sepertiku otaknya selalu penuh dengan berbagai pikiran yang tidak penting, hanya dia terus mengingatnya karena menganggap pikiran itu punya keterikatan emosional dengannya. 

Akibatnya apa? aku mengalami sangat banyak masalah dengan hidupku. Aku seringkali overthingking terhadap semua hal bahkan hal yang remeh temeh. Aku juga tidak bisa menentukan prioritas, mana yang harus aku kerjakan, mana yang harus aku tunda, aku tidak memiliki itu karena bagiku semua yang memiliki keterikatan emosional denganku harus aku simpan dan ingat terus.

 Hal ini kemudian berdampak ke hampir seluruh aspek hidupku.

  • Kamarku terlihat sangat berantakan

  • Aku tidak bisa membagi prioritas

  • Aku tidak belajar dengan maksimal sewaktu sekolah dan kuliah

  • Aku jadi orang yang sangat sensitif bahkan terhadap hal-hal kecil

Dulu aku nonton Toy Story hanya karena aku suka saja. Belakangan aku merefleksikan cerita itu ke hidupku sendiri. Tentang keterikatanku yang sangat dalam dengan barang-barang yang akhirnya membuatku susah sendiri.

Khususnya ketika aku mulai mengenal Minimalism.

Apa yang terlintas di pikiran kalian saat kalian mengenal minimalism? 

Kalau aku, yang terbayang adalah seseorang dengan kaos hitam. Mempunyai rumah putih dengan prabot-prabot Ikea berwarna kayu. Rumahnya rapih sekali dan dia hanya memiliki sedikit barang.

Sekarang aku tau minimalism lebih dari itu.

Minimalism sebenarnya bukan sekedar rumah minimalis, yang lebih penting lagi, minimalism adalah caraku menata hidup dan pikiranku. Bagiku, minimalism adalah sebuah cara untuk mengikhlaskan. Way to let things go. Melepaskan keterikatan kita dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Kalian pernah melihat seorang biksu? Aku suka bingung sekaligus kagum dengan biksu-biksu. Mereka secara harafiah melepaskan keterikatan mereka dengan segala hal duniawi. Mereka tinggal di kuil-kuil di atas bukit, menggunakan pakaian sederhana, menghabisi rambut mereka, semata agar mereka tidak terikat pada hal-hal yang bersifat duniawi.

Aku tentu tidak mengambil langkah seperti biksu-biksu itu. Tapi aku belajar banyak dari mereka. tentang melepaskan segala hal yang memberatkan, tentang melepaskan keinginan untuk diterima oleh orang lain, dan berfokus kepada diriku sendiri.

Bukan hanya pada biksu-biksu, sebenarnya pemimpin-pemimpin agama di dunia ini adalah para pakar minimalism yang sesungguhnya. Para nabi-nabi melepaskan keterikatannya terhadap dunia dengan hidup sederhana. Pakaian, rumah, semuanya sederhana. Kekuatannya bukan berasal dari benda yang melekat pada mereka, tapi berasal dari diri mereka sendiri. 

Tony Stark, tokoh utama dalam serial Avengers yang terkenal itu, pernah bilang :

Cara-Menjadi-Minimalis-Iron-Man-Tony-Stark

If you're nothing without the suit, then you shouldn't have it.

Perjalananku untuk mengenal minimalism tidak mengubahku dalam satu malam. Sebenarnya prosesnya berlangsung pelan-pelan. Bahkan, awal mula aku mengenal minimalism adalah saat aku ingin belajar bahasa inggris.

Aku ingat, perjalananku dimulai pada Januari tahun 2019. Pada saat itu, aku benar-benar ingin mengubah hidupku. Hal pertama yang menurutku harus kuubah adalah perspektifku dalam memandang dunia. Lalu aku memutuskan cara satu-satunya untuk mengubah diriku adalah aku harus bisa bahasa inggris. 

Aku tau kelemahan besarku dalam bahasa inggris adalah mendengar. Jadi, aku mulai mencari-cari konten bahasa inggris yang bisa aku nikmati. Dari sanalah aku mulai mengenal Matt D'Avella dan minimalismnya. Konten pertama yang aku tonton adalah sebuah video tentang minimalism dari Matt D'Avella. Dari sana, perjalanan hidup baruku dimulai

Seiring berjalannya waktu, aku mulai tertarik dengan konsep yang dia sampaikan. Aku mulai mencari-cari Youtuber lain yang membawakan tema serupa. Melalui penelusuran ini, aku mengetahui kalau ternyata konsep ini juga di populerkan oleh Marie Kondo. Aku mempelajari metodenya yang terkenal yang disebut dengan Konmari. lalu, ketertarikanku pun termasuk pada buku Marie Kondo yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku membeli buku ini. Dari penelusuran inilah, akhirnya aku mendapatkan makna minimalism yang kuanggap sesuai dengan cara hidupku sekarang.

Cara-Menjadi-Minimalis-Marie-Kondo

Pada dasarnya, minimalism adalah tentang berbenah dengan prinsip :

Buang atau berikan ke orang lain barang-barang yang tidak memberikan kebahagiaan di hidup kamu agar kamu bisa memberikan ruang, energi dan waktu terhadap hal-hal yang penting bagimu.

Hanya itu. Cabangnya banyak, interpretasinya banyak. Silahkan browsing sendiri.Tapi intinya ya cuma itu.

Ada suatu uji minimalis yang paling sederhana yang aku dapatkan dari Nas daily, seorang videographer yang berasal dari Palestina yang memudahkanku dalam menguji diriku, yaitu :

Tanyakan pada dirimu sendiri, apa saja barang-barang yang akan kamu bawa jika kamu akan naik gunung?

Jika kamu pergi ke gunung, kamu tidak dapat membawa semuanya di dalam tasmu. Maka kamu pasti akan memilih barang-barang paling penting. Jadi, kamu hanya akan membawa hal penting dan signifikan saja di hidupmu, sementara yang lainnya ditinggalkan.

Itu adalah cara yang cukup ekstrem, tapi dengan memikirkan hal ini dapat membantu kita untuk mengatur ulang tentang barang-barang penting yang ada di hidup kita.

Adapun manfaat yang kudapat setelah setahun delapan bulan mencoba menerapkan konsep ini ke dalam hidupku adalah :

1. Menghilangkan ketergantungan emosionalku terhadap barang

Seperti yang aku sampaikan di awal, kadang kancing baju yang lepaspun kuanggap memiliki nilai emosional. setelah menerapkan minimalism, aku belajar untuk tidak mengikat diriku dengan barang. efek lainnya, aku jadi lebih tidak gampang terbawa perasaan, sambil melepas barang-barang itu, akupun melepaskan diriku dari menuruti perasaanku dalam setiap keputusan.

2. Membantuku mengatur ulang pikiran melalui kamar

Seraya memilah-milah barangku, aku juga mengatur ulang pikiranku. ternyata benar, isi kamar menggambarkan isi pikiran kita. Aku melihat isi pikiranku langsung dari barang-barang yang berserakan dan tidak terkategorikan dengan benar. Dari melihat itulah aku akhirnya sadar seberapa hancurnya jalur neuron otakku. jadi aku mulai mengatur ulang kategori-kategori, lokasi penempatan barang yang sesuai dengan work flowku. hasilnya, aku benar-benar bisa berpikir dengan lebih jernih setelah menjalankan hal ini.

3. Membuat aku bisa lebih fokus kepada hal-hal penting

Ini adalah salah satu dampak terbesar di hidupku karena sebelumnya aku buruk sekali dalam menentukan prioritas. Barang-barangku banyak sekali, pikiranku juga. Aku merasa semuanya penting. Tapi, kalau semuanya penting, bukankah otomatis jadi tidak ada yang penting?

Sebelumnya, aku seorang yang sangat mudah mengalami overthingking. Minimalisme sangat berpengaruh dalam perjalananku mencari solusi dari penyakit overthingkingku. Silahkan baca tulisannya di Cara Mengatasi Overthingking

4. Memberikan banyak ruang kosong baru dalam hidupku yang tadinya penuh oleh hal tidak penting

Ruang dan waktu yang sebelumnya diisi oleh barang dan pikiran yang segudang, sekarang telah kosong dan siap untuk diisi oleh hal-hal baru yang lebih memberikan manfaat ke hidupku. Benar-benar terasa sampai ke kondisi fisikku. Rasanya senang sekali karena pundakku tidak lagi seberat dulu. Tubuhku lebih ringan melangkah karena pikiranku tidak lagi tertinggal ke barang, tempat, maupun orang.

Prosesku dalam mulai menentukan prioritas aku abadikan dalam tulisan Belajar Menentukan Prioritas

5. Beban pikiranku berkurang

Di diriku, aku sendiri baru menyadari alasan-alasan kesulitanku dalam belajar dulu, salah satunya ya karena banyaknya barang tadi. Barang-barang ini terus berada di area penglihatanku dan mendistraksiku untuk melakukan hal yang penting. Hal-hal ini adalah hal-hal yang aku ketahui karena aku mempelajari minimalism. Jadi seraya mempelajari minimalism akupun mempelajari diriku sendiri. 

Aku juga menceritakan pengalamanku terkait kesusahanku dalam belajar di dalam tulisan Kenapa Kita harus belajar

 ***

Banyak orang yang ketika menerapkan konsep ini, membuang barang lama mereka yang tidak estetik dan menukarnya dengan barang yang lebih estetik dan berwarna monokrom. Bagiku, minimalisme adalah perkara cara berpikir, cara kita memandang dunia, dan yang terpenting, cara kita memandang diri kita sendiri. Tidak masalah kau punya banyak barang tidak estetik di rumahmu, asal barang tersebut masih menjalankan fungsinya dengan baik. Kita juga tidak bisa menyamakan kehidupan setiap orang karena kita punya kehidupan yang berbeda-beda. 

Jadi, walaupun Marie Kondo bilang untuk membuang barang dengan cepat, bagiku yang terpenting adalah tidak terburu-buru dan mulailah seraya mengatur ulang caramu berpikir. Maka seraya kamu menemukan minimalisme versimu, semoga kamu juga dapat menemukan dirimu sendiri.

Selamat memulai perjalanan minimalis-mu.

  • Share:

You Might Also Like

23 comments

  1. Faktor pendidikan orang tua juga bisa jadi penyebab seseorang jadi penimbun
    Kalo saya sedang belajar mulai dari barang dibeli /diterima Karena hadiah juga bisa berakhir di gudang tanpa sempat digunakan

    ReplyDelete
  2. Terkadang manusia sulit untuk melepas apa yang sudah menjadi kenangnya. Seperti halnya saya terkadang sulit untuk menghibahkan buku-buku yang merupakan hadiah dari ulang tahun, giveaway, dan segala macamnya dan buku-buku tersebut berakhir dalam kardus dan digudang berdebu dan dimakan rayab.

    ReplyDelete
  3. Saya tinggal di rumah orangtua, ramai di rumah ini. Ibu tuh tipikal orang yang senang banyak barang. Saya juga masih belum bisa mengurangi barangbarang di rumah. Kertaskertas hasil ujian zaman kuliah aja masih saya simpan, alasannya sih biar jadi kenangkenangan. Rumah besar dan luas, tapi kok kadang berasa sempit ya? sering pusing juga lihat penuhnya. Mikir pengen hidup minimalis tapi belum direalisasikan juga.

    ReplyDelete
  4. Aku pengen banget tuh melaksanakan tipsnya Marie Kondo. Apa daya, masih banyak barang warisan mertua dan orang tua. Mo dihibahkan, kata suami, tanya dulu ke sodara-sodara, ada yg mau ga? Eh...sepi, artinya kan engga ada yg mau. Tapi dihibahkan ke orang lain, ga boleh. Akhirnya masih nih, menuh-menuhin rumah. Halah...malah curhat...Haha...

    ReplyDelete
  5. Kita mirip kak... Aku juga sejenis manusia penimbun karena barang yang ada di rumah rasanya sayang gitu untuk dipilah dan dibuang. Buku Marie Kondo awalnya mempan,,, tapi makin ke sini aku condong kembali nimbun lagi huhuhu

    ReplyDelete
  6. Kalau yang saya tau, bener banget di zaman nabi diajarkan begitu. Zuhud akan hal dunia. Wah, betapa luar biasanya hal itu..

    ReplyDelete
  7. Terimakasih banyak untuk sharing infonya yang sangat bermanfaat. Aku baru tau tengang penimbun ini ☺

    ReplyDelete
  8. Hallo Kak Ulfah,
    Ada beberapa kejadian yang membawa ke turning point dalam hidup saya.
    Dari mulai itu saya mulai melepaskan emosi dengan benda. Saya ngga pungkiri saya selepas itu masih suka belanja tapi identitas saya tidak melekat pada benda yang saya punya.

    ReplyDelete
  9. Duh kalau aku baca ini kuat ngga yaa. hahaha aku juga tipe orang penimbun mbaa. sampai nggatau lagi gimana caranya biar kamar bersih dari barang2 ngga penting.Dibersihin balik lagi kwkwkw

    ReplyDelete
  10. Ahh kita sama, Mba. Sulit melepaskan barang. Tapi tahun ini pun saya berusaha untuk mulai memilih dan menata ulang barang dan melepaskannya. Ada perasaan sedih tapi lega setelahnya. Terima kasih sudah berbagi

    ReplyDelete
  11. aku lagi berusaha untuk bisa menyimpan hanya barang2 yang aku butuhin.. sulit sih memang, apalagi pak suami ga setuju dgn konsep ini, dan kami punya 2 anak yg mana mainan2nya aja ada segambreng. Dari dulu sbnrnya aku tipe yg ga suka numpuk barang. dulu sempet koleksi tas, sepatu, tp setelah tau konsep minimalis ini, banyak tas2 dan sepatuku yang udah aku bagi2in ke temen dan sodara. Tiap beli baju, aku bakal buang baju di lemari sejumlah baju yg dibeli. jadi kalo beli3, ya berarti dibuang 3.

    cuma sampe skr, aku blm sanggub buang buku2ku mba :D. ini kesayangan dari kecil. krn aku memag suka bgt baca.

    naah kalo utk barang2 suami yg numpuk, juga punya anak2, aku terpaksa pake taktik buangin barang2 mereka. biasanya pas suami sdg ke kantor ato lg ga di rumah. brg2 yg aku liat ga prnh dia pake setahun trakhir, aku taro dlm plastik/kadus, lalu aku kasih lgs ke tukang loak/sampah yg lwt. dan sampe skr, ga ada tuh dia inget barang2nya yg udh aku buangin :D. terbukti dia sendiri aja ga inget. rasanya seneeeng aja kalo ngeliat rumah ga terlalu rame ama brg. kesannya jg jd luas dan bersih

    ReplyDelete
  12. Hi kak Ulfah 👋🏻 aku suka sekali dengan tulisan ini, rasanya seperti menemukan teman seperjuangan dalam dunia minimalism 😁.
    Awal mula kita mengenal tentang minimalis ternyata di tahun dan bulan yang sama, toss dulu atuh 🤪.
    Aku sampai sekarang juga masih berusaha menerapkan hidup minimalis dalam hidup sehari-hari. Berasa banget, keterikatan terhadap barang-barang jadi berkurang, barang-barang yang aku punya, bisa aku pakai semua, bukan hanya ditimbun aja sampai rusak, mental serta pikiran juga lebih plong, nggak keseringan overthinkin lagi. Ternyata manfaatnya banyak banget ya 😍

    Semoga kita bisa terus menerapkan gaya hidup minimalis ini dalam waktu yang lama ya kak. Semangat! 💪🏻🔥

    ReplyDelete
  13. Menarik banget mbaak ulasannyaa, saya juga tipe" overthinking dan masih belum pandai menyusun prioritas dengan baik. Rasanya perlu mulai belajar ttg minimalisme dan merubah cara berpikir jd lebih sederhana. Biar lebih fokus dengan apa yg jadi target, tidak semuanya ribet dipikir. Penasaran jadinya sama video tentang minimalism dari Matt D'Avella, pengen belajar jugaa ah 😁

    ReplyDelete
  14. Mendalami minimalisme emang buat kita tenang banget. Aku juga mulai kepo sama minimalisme setahun belakangan. Baju2 yg nggk pernah kepakai, barang2 yg udah berdebu, akhirnya aku hibah ke org lain yg lebih membutuhkan. Bukan cuma soal barang, utk aplikasi di handphone pun aku usahain yg perlu2 aja

    ReplyDelete
  15. pernah banget seharian itu beresin kamar dan memilah barang mana yg harusnya udah ga ada di kamarku ini. Emang berdampak pada mental health juga sih, konmari ini

    ReplyDelete
  16. aku pikir hidup minimalis itu serba minimalis. ternyata soal ngumpulin barang ya. saya dulu juga pernah gitu mbak. tapi setelah tau ada yg lebih membutuhkan, jadi ya aku kasih. ada kebahagiaan tersendiri ketika barang kita bisa membuat orang lain bahagia.

    ReplyDelete
  17. Semakin usia ku mendekati 40tahun aku semakin berpikir utk hidup minimalis. Cuma aku masih belum bisa total. Apalagi aku masih tinggal sama ibu yang kadang masih suka menimbun barang. Maklum ornag tua kadang masih menganggap barang ada manfaatnya di kemudian hari

    ReplyDelete
  18. Aku juga punya kedekatan emosional ke barang mbak, kayaknya terlalu iritan. hihihi. Misalnya banyak pakaian lama-lama yang gak kupakai, masih disimpan, mungkin bisa dimanfaatkan jadi kain lap. akhirnya menumpuk. Perlu mencoba nih, mulai melepaskan, jujur kamarku sumpek banget.

    ReplyDelete
  19. Pengalaman yang luar biasa kak dengan hidup minimalis membuat kita semakin untuk cinta terhadap barang yang masih bisa digunakan.. dan menata ruangan rumah jadi bagus

    ReplyDelete
  20. Sudah punya buku marie kondo
    Tpi blum baca

    Kapan ya bisa minimalis jugaa
    Masih serba riweh. Penuh di rumah

    ReplyDelete
  21. luar biasa pengalamannya yang disampaikan dalam blog ini :) memberikan saya pandangan agar its okay untuk hidup sederhana. gausa berambisi akan suatu hal dan meningkatkan syukur

    ReplyDelete