Kenapa Kita Harus Belajar

By Khata S. Fluorida - August 12, 2020

Saat itu aku sedang duduk di bangku SMA, melamun ketika guruku menjelaskan suatu pelajaran mengenai golongan darah. Aku merasa ingin segera pulang.

Aku sudah kehilangan semangat belajarku.


Kenapa-kita-harus-belajar

Ada kombinasi yang tidak menguntungkan yang membuatku kesulitan mengikuti pelajaran. Pertama, aku lambat dalam mencerna hal baru. Kedua, aku sangat mudah terdistraksi. Kedua kombinasi berbahaya ini kemudian membuatku di masa remaja mendefinisikan diriku sendiri sebagai orang 'bodoh'. Aku tidak memahami esensi dari duduk dan berkompetisi untuk mendapatkan nilai tertinggi di dalam kelas.

Definisi belajar yang aku pahami hanyalah sebatas mempelajari pelajaran yang ada di sekolah dan mendapatkan nilai yang bagus.

Dengan kata lain, aku remaja yang mendefinisikan belajar sebagai mendapatkan nilai tertiggi di kelas.

Waktu itu, hanya sebatas itulah definisiku tentang belajar.

Namun, ada satu hal penting yang kemudian mengubah sebagian besar aspek dalam hidupku. Ketika beberapa waktu yang lalu suatu kalimat muncul di pikiranku.

Apa yang aku pelajari hari ini akan menjadi diriku di masa depan
 
Aku mulai menyadari kalau selama ini definisiku tentang belajar salah, begitupun dengan caraku belajar.

Mengapa aku mendapatkan pikiran itu?

Aku akan menceritakannya dimulai dari masa ketika kita kecil.

Sebagaimana yang kita semua ketahui, masa-masa awal kehidupan kita, yaitu di umur 1-5 tahun, adalah masa-masa yang paling menentukan dalam perjalanan hidup kita di dunia dan bagaimana kita mendefinisikan dunia. Pada masa itu juga, kita tidak dapat berbuat banyak untuk diri kita sendiri karena takdir pada masa itu lebih ditentukan oleh orang dan lingkungan yang ada di sekitar kita. 

Oleh karena itulah, sebenarnya sebagian besar dari pemahaman kita terhadap dunia terbentuk dan kemudian mempengaruhi cara berpikir serta tindakan-tindakan yang kita ambil di masa depan. Hal ini tidak bisa diubah dengan mudah. Jika itu baik, berarti itu bukan masalah. Namun jika masa-masa itu buruk, berarti hal itu akan menjadi tantangan yang kita hadapi seumur hidup.

Nah, jadi kita sudah mengetahui jika sebagian besar karakter yang kita miliki mendapat pengaruh dari lingkungan dan orang yang ada di sekitar kita saat itu.

Untuk menjelaskan ini aku ingin memberikan satu kasus yang amat unik. Begini ceritanya.

Ada seorang anak yang dijauhi oleh seluruh warga desa. Warga desa menjauhinya sebab di dalam tubuh anak itu disegel seekor monster yang dahulu menyerang dan memporak-porandakan desa. Anak itu kemudian hidup sendiri, dikucilkan, dan dirundung oleh orang-orang di sekitarnya. Warga desa menyebutnya sebagai "anak setan". Saking parahnya, setiap hari dia hanya makan ramen dan tidak bisa membedakan mana susu segar, mana susu basi. Dia tidak mengenal konsep kasih sayang orang tua dan anak, tidak pula ada yang mengenalkan dia dengan konsep sosial.

Dari sini, kita sudah bisa menyimpulkan kalau setidaknya lima tahun pertama hidup anak ini, tidak mendapatkan banyak pelajaran baik melalui orang dan lingkungan di sekitarnya. Dia kehilangan momen untuk mengembangkan kemampuan sosial, kemampuan belajar, dan kemampuan lain yang lazimnya dipelajari oleh anak-anak seumurannya.

Kemudian di sini letak menariknya kasus ini, ketika kemudian kita bertanya

Apakah anak ini bisa berkembang dan hidup normal sebagaimana orang pada umumnya? 

Jawabannya, itu semua tergantung. Tergantung apakah anak itu mau belajar atau tidak.

Pada dasarnya, ada dua pilihan aksi yang dapat dilakukan anak tersebut sebagai reaksi atas hal yang dilaminya. Dua pilihan itu adalah :

1. Anak ini pasrah akan takdirnya.

Dia tidak lagi ingin belajar. Dia menerima dan memercayai begitu saja semua hal yang dikatakan oleh lingkungannya. Dia tidak bertekad mengubah apapun di hidupnya. 

Efek dari pilihan ini ada banyak. bisa jadi, pada akhirnya, dia akan terus hidup dalam rasa sakit dari kesepian. Kemungkinan lain dia akan menderita sakit mental yang parah, berniat mengakhiri hidupnya sendiri, atau jadi bercita-cita untuk menghancurkan seluruh desa. 

Masih ada ribuan kemungkinan lain yang mungkin terjadi akibat nasib ini. Tapi satu yang tidak berubah, caranya memandang diri dan lingkungan akan sulit berubah jika dia sendiri tidak memutuskan untuk merubah itu.

2. Anak ini mengubah takdirnya dengan belajar. 

Dia keluar dari rumahnya, berusaha mencari solusi atas perlakuan masyarakat desa yang tidak adil kepadanya. Dalam proses penemuan itu dia belajar banyak kemudian mengubah dirinya untuk jadi lebih baik. 

Bisa saja, pada akhirnya, dia menyimpulkan untuk bisa membuktikan kalau masyarakat desa itu salah, dan dia bukan seorang monster, maka dia harus menjadi pemimpin di desanya. Karena itu, dia harus mempelajari banyak hal yang tadinya tidak ia dapatkan di masa kecil. Walau sulit, tapi dia tidak menyerah.

 Baca Juga : Belajar Menentukan Prioritas

Untuk alternatif ini, mungkin masih ada ribuan kemungkinan akhir yang bisa terjadi kepadanya. Meskipun hasil akhirnya belum jelas, ada satu hal yang pasti terjadi di dirinya yaitu perubahan pola pikir dan cara dia memandang hidup dan dirinya.

Pada altenatif pertama, dia memandang dirinya secara negatif dan tidak punya alternatif lain untuk memandang dirinya, sehingga akhirnya hanya bisa mendefinisikan dirinya berdasarkan apa yang orang lain katakan. Dengan kata lain, dia tidak memiliki kesadaran untuk menentukan siapa dirinya.

Sedangkan pada alternatif kedua, apa pun yang akhirnya terjadi pada dirinya, sebenarnya itu tidak masalah. Dalam dunia internalnya, dia telah memiliki banyak opsi untuk mendefinisikan dirinya dan tidak lagi membutuhkan masyarakat desa untuk memberitahu kepadanya tentang siapa dirinya. 

Sejalan dengan pelajaran-pelajaran yang dia dapatkan, maka dirinya akan berubah menjadi apa yang dia telah pelajari di masa lalu. Dia akan melihat dirinya sesuai dengan apa yang dia inginkan bukan yang orang lain definisikan tentangnya. Walaupun luka lamanya tentang perlakuan masyarakat desa masih dan akan tetap berada di sana selamanya serta akan menjadi bayang-bayang yang akan menghantuinya, dia menyadari kalau pilihan untuk memandang pengalaman itu secara negatif atau positif terletak pada dirinya sendiri.

Itulah privilege yang diberikan kepada orang-orang yang belajar.

Privilege itu dinamakan KESADARAN.

Kesadaraan tentang kehidupan adalah privilege yang Tuhan berikan kepada manusia. Namun, untuk mencapai tahap kesadaran, manusia harus menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Belajar kemudian akan membuka mata dan kesadaran kita tentang alam semesta dan seisinya.

Orang yang lebih banyak belajar akan lebih menyadari eksistensinya di dunia, menyadari pula tentang banyaknya ilmu, karakter manusia dan jenis takdir yang terjadi di dunia ini. Luasnya sudut pandang ini akan menyebabkan dia memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan dengan orang yang tidak mau belajar.

orang yang belajar tidak akan selalu menjadi orang terkaya secara materi, terpopuler dan paling berkuasa di dunia. Tapi, jelaslah orang yang terus belajar akan jadi orang paling merdeka di dunia karena mempunyai banyak pilihan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Orang yang tidak mau belajar selamanya akan terkungkung dalam penjara yang dibuat oleh pola pikirnya. Hidupnya, cara pikirnya hanya sebatas pada apa yang dia dapatkan dari kecil. Cara pikirnya hanya ada satu. Pilihan hidupnya hanya ada satu, yang ditentukan oleh lingkungan di sekitarnya. 

Ibaratnya, orang yang belajar adalah nelayan yang memiliki banyak jaring ikan, sedangkan orang yang tidak belajar, hanya memiliki satu jaring ikan. Pada akhirnya keduanya akan mendapatkan ikan juga. Bedanya, orang yang memiliki lebih banyak jaring ikan, akan lebih bebas menentukan apakah ia hari ini ingin menangkap banyak ikan atau tidak. Jika ia ingin menangkan lebih banyak ikan maka ia akan menyebarkan lebih banyak jaring. Lebih lelah namun kemungkinan untuk mendapatkan ikan yang lebih banyak juga lebih besar. Orang yang memiliki hanya satu jaring ikan pun tetap akan mengalami kelelahan, tetap berjuang untuk mencari ikan, namun walaupun di tetap memiliki kemungkinan untuk mendapatkan ikan jumlah ikannya tidak akan sebanyak orang yang memiliki jaring ikan yang banyak.

Maka, kita kembali lagi ke kasusku. 

Aku masih berpikir kalau aku "bodoh" seperti itu sampai ketika aku mulai berada di akhir semester SMA. Kelasku semasa SMA bukan zona nyamanku, dan bukan pula masa terbaikku, tapi kalau ditanya masa mana dalam hidupku yang membawa paling banyak kebermanfaatan untukku sekarang, jelas aku akan menjawab itu saat aku SMA. Ketika itu aku disadarkan tentang banyak hal. Aku terpapar pada hal-hal yang aku tidak akan pernah ketahui tentang diriku jika aku tidak berada di fase itu. Saat Itulah momen belajar paling berpengaruh di hidupku yang kemudian menjadikan aku sebagai aku yang sekarang ini.

Baca Juga : Apa yang Aku Pelajari di Usia 22

Seiring berjalannya waktu, aku menyadari kalau selama ini aku terkungkung dalam penjara ketidak tahuan, ketakutan, dan kemalasanku sendiri untuk belajar. Aku menutup diriku dari banyaknya kemungkinan yang ada di dunia. Ketika aku menyadari itu, pelan-pelan aku mulai mencoba sedikit demi sedikit mengubah diri, mengubah caraku berpikir, mengubah semua hal yang aku rasa perlu diubah.

Tadinya aku merasa itu tidak terlalu berpengaruh sampai beberapa saat yang lalu aku merenungi semua yang telah terjadi, dan kemudian aku menyadari betapa banyaknya perubahanku jika dibandingkan dengan aku di masa SMA itu. Perubahan baik yang aku dapatkan dari belajar.

Jadi, sekarang definisi belajarku pun telah berubah. Bagiku di masa kini, belajar adalah usaha untuk memahami hal baru. Keluarannya adalah pemahaman baru yang lebih luas terhadap alam semesta di sekitarku, tidak selalu nilai yang tinggi. Nilai tinggi hanyalah bonus, pemahaman yang lebih penting.

Lalu, akhirnya aku akan menjawab satu pertanyaan awalku, kenapa kita harus belajar?

Agar kita memperoleh KESADARAN.

Proses belajar adalah bentuk usaha yang kemudian akan memberikan kita sebuah kesadaran baru

Terakhir, aku ingin membocorkan akhir cerita si anak tadi. Dia sekarang telah mewujudkan impian untuk menjadi pemimpin di desanya dan diakui oleh masyarakat di sekitarnya. Nama desa tersebut adalah Desa Konoha. 

Dan anak itu bernama Naruto.

Ya, dia memang hanya khayalan, namun pelajaran yang diberikannya nyata.

 

Belajar-dari-kehidupan-naruto
 

SEMANGAT BELAJAR!


  • Share:

You Might Also Like

31 comments

  1. deep meaning banget tulisannya mba :)

    aku jd inget ama pertanyaan papa bertahun2 yg lalu pas aku msh galau mau mutusin kuliah di mana. Pilihannya ada beberapa dan sbnrnya aku lebih berat ke 1 universitas swasta yang menjanjikan bisa lgs kerja setelahnya ;p. Papa nanya, apa tujuanku kuliah, untuk mencari ilmu ato hanya untuk mencari kerja.

    dan aku jwb yg kedua. Beliau marah sih, dan lgs menasehati panjang lebar ttg makna belajar :D

    skr aku jd ngerti yg beliau maksud. belajar memang untuk mendapatkan ilmu, hingga kelak kita bisa menemukan kesadaran yang dimaksud. bukan semata mendapatkan kerja, itu hnya salah satu hasil yang bisa kita dapatkan dari belajar :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya untuk orang di sekitarku sepertinya masih menganggap belajar di perguruan tinggi itu biar bisa dapet uang banyak mba, aku juga lagi berusaha melawan pikiran-pikiran seperti itu di dalam otakku.

      kalau seandainya aku diamanahi anak nanti, aku juga ingin menanamkan pikiran tentang belajar yang sesungguhnya ke anakku. biar dia ngga jadi kaya aku yang baru tahu di usia 20-an gini.

      Kesadaran itu memang mahal banget harganya.

      Delete
  2. Dulu saya juga menganggap belajar hanya agar saya mendapat nilai tinggi, lulus, selesai. Tapi karena keadaan ekonomi yang tidak baik, saya mencoba terus belajar, bisa sekolah dengan beasiswa, hingga sekarang saya jadi ibu rumah tangga saya memahami jika belajar tak harus di sekolah. Tetapi diri ini harus mendapatkan sesuatu yang baru dan bisa diaplikasikan di kehidupan baik hal yang remeh maupun penting. Semangat belajar selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah keren nih mbanya sampai dapat beasiswa. allhamdulilah bisa menyentuh pendidikan tinggi yah mba. bener banget mba, belajar itu biar dapet sudut pandang baru yang bisa diaplikasikan ke kehidupan sampai ke hal remeh-temeh..

      Delete
  3. Hallo salam kenal ya kak :)
    hehehe ... penggemar Naruto kah kak? saya juga sama :)

    Kalau menurut saya, setiap orang punya cara sendiri yang dianggap paling efektif dalam proses belajar, sesuai dengan tipe anak tersebut. Anak yang visual berbeda dengan yang auditory, berbeda juga dengan yang kinestetik, atau gabungan diantaranya. Yang paling bagus sih apapun tipenya selalu digabungkan dengan kinestetik, dengan mencoba dia akan belajar lebih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo penggemar Narutooo :D

      Iya, stiap orang punya cara sendiri. Disesuaikan ajaa, yang penting proses pembelajarannya ada aja. Efektif tidaknya juga tergantung orangnya masing-masing lagi..

      Delete
  4. Untuk bisa menjadi orang yang benar-benar sukses, ya harus belajar banyak hal. Masalah proses, tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Caranya pun beragam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, proses dan caranya beda. definisi sukses pun beda-beda

      Delete
  5. Iya, mari semangat belajar

    Menurut saya tidak ada alasan untuk tidak bisa jika kita mau belajar. Dengan belajar kita akan diberikan jalan untuk memahami/menguasai sebuah ilmu/pekerjaan. Berdasarkan pengalaman pribadi dulu saat kuliah ada mata kuliah desain grafis. Saya kebingungan dan merasa tidak bisa. Tapi setelah saya mau belajar, saya jadi bisa. Tapi sekarang lupa soalnya ilmunya sudah lama tidak dipakai hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha bener banget, setidaknya diusahakan dulu. hasil akhirnya belakangan, yang penting suah belajar. toh dalam proses itupun ada pembelajarannya sendiri..

      Delete
  6. Nah ini..belajar buat tahu ilmu, masalah nilai itu adalah ukuran untuk menentukan tingkat kepahaman. Karena tolak ukur sekarang yang dipakai nilai jadi yang dikejar nilainya, dengan menghalalkan segala cara. Padahal esensi ilmunya zonk. Hiks...
    Ulasan yang menarik dan aku suka tentang pesan moral cerita Naruto tadi. relate memang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa relate ke kita semua, bagaimana kita mendefinisikan pelajaran dunia ini. saya masih berusaha sih untuk meluruskan lagi niat saya dalam mencari ilmu. Supaya saya dapat hidup menjadi manusia yang sesungguhnya.

      Delete
  7. Tujuan belajar agar dalam diri seseorang itu berubah ke arah yang lebih baik. Ini selaras dengam yang Mbak Ulfah tuliskan, belajar itu untuk sampai pada sebuah kesadaran. Selalu memosisikan diri sebagai orang bodoh agar terus menerus menambah dan memperbaharui ilmu

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mba, lebih baik daripada diri kita sebelumnya. semangat untuk belajarr

      Delete
  8. Sama kayak nafas, belajar itu hanya berhenti ketika kita sudah tidak bernyawa. Emang dulu gue juga gitu sih, segala hal yang ada kaitannya dengan dunia sekolah, adalah belajar. Wkwkkw. Padahal mah enggak beres2 sampe luluspun

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener banget, ternyata belajar itu luas banget artinya. cuma orang-orang tertentu yang bisa sampai pada fase sadar. semangaat belajarnyaaa

      Delete
  9. Dengan belajar kita jadi tau dunia luar..ada istilah kejarlah ilmu sampai akhir hayat..jadi belajar tak kenal lelah dan waktu..yukk semangat terus belajar

    ReplyDelete
  10. Hahaha, saya pas baca cerita anak itu langsung kepikiran Naruto. Tapi mikir, ah nggak mungkin, pembahasannya berat. Eh ternyata beneran lhoh Naruto. Jagoan.

    Asyik mbak tulisannya, kita memang senantiasa harus sadar

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, berarti berhasil dong saya. Maklum lah mba, penggemar berat naruto nih.

      Delete
  11. Privilege itu kesadaran, aku setuju banget karena kenyataannya tidak semua orang memiliki kesadaran khususnya untuk belajar. Sebenarnya ada banyak privilege dalam hidup ini. Kadag hanya berwujud kemauan atau kesadaran, tapi efeknya luar biasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, privilege tidak cuma berbentuk materi saja. bisa jadi ada orang yang tidak punya banyak materi, tapi pemahamannya terhadap semesta luar biasa..

      Delete
  12. Baru tahu asal mula Naruto ternyata demikian, terharu aku bacanya. Aku suka banget sama tulisan bahwa apa yang kita pelajari hari ini menentukan seperti apa masa depan kita nanti. Kalau ingat masa itu, rasanya pengen ngulang hidup dari awal dan melakukan semua dgn baik ya. Tapi lalu saya berpikir apa yang Allah berikan tak lepas dari takdirNYA, tugas kita adalah belajar, bekerja dan beribadah sebaik mungkin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. makanya apapun yang ingin kita capai harus dimulai dari hari ini. Aku udah mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu, cuma untuk sekarang ini aku harus belajar dengan lebih keras dan menghilangkan keraguanku akan belajar lagi. tugas kita di dunia ini memang belajar, ternyata. belajar juga bagian dari ibadah..

      Delete
  13. Setuju sekali kak, belajar memang tak seharusnya melulu berorientasi pada nilai ya tapi pemahaman. Trims remaindernya kak, mari kita tetap semamgat belajar

    ReplyDelete
  14. banyak hal yang bisa dipelajari dari belajar ya mbak. kalau hanya pasrah saja ya kita tidak bergerak maju. seperti anak monster tadi. btw kalau dibuat film oke tuh ceritanya. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, sebenarnya kita belajar banyak dari proses, bukan hasil akhirnya. kalau ga mau belajar ya kita akan terkungkung sama pikiran yang itu-itu saja. si anak monster tadi dibuat komik juga keren haha

      Delete
  15. Mau seberapa tua kita memang belajar itu keharusan ya mba. Karena masih banyak hal-hal yg gak bisa sekaligus kita pelajari tapi ada proses. Makanya bukan untuk anak muda aja yg belajar. Orang tua pun harus tetep belajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, setiap manusia yang hidup di bumi ini harus tetap belajar, karena mempelajari dunia tidak akan pernah selesai. Saya juga setelah lulus kuliah merasakan kalau belajar itu hebat sekali efeknya terhadap diri saya. Sakit-sakit belajar itu terasa setara dengan apa yang saya dapatkan sekarang.

      Delete
  16. Hahaha.. benar banget. Belajar itu darimana saja bisa bahkan dari tokoh kartun sekalipun. Bagaimanapun pencipta tokoh itu kan manusia juga yang punya pengetahuan dan pandangan tentang suatu hal dan kemudian diterjemahkan dalam karakter kartun.

    Saya sendiri belajar banyak dari tokoh manga Kungfu Boy. Banyak pola pandang saya terbentuk akibat membaca berbagai komik.

    Jadi belajar itu tidak perlu selalu harus dari buku-buku pelajaran nan tebal. Belajar dari komik pun bisa

    Karena pada dasarnya dunia ini memang penuh dengan pelajaran yang bisa kita ambil

    Nice story

    ReplyDelete