Caraku Menjaga Bumi dari Perubahan Iklim

By Khata S. Fluorida - August 29, 2020

Waktu aku kecil, aku sering main ke Berastagi, sebuah Kecamatan di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Berastagi ibarat Bandungnya Jawa Barat. Tempat kaburnya orang Medan dari kesehariannya mereka. Saat itu, Berastagi merupakan daerah yang terkenal dengan daerah dinginnya.

Cara-menjaga-bumi
Sumber : Pixabay

 

Beberapa waktu yang lalu, aku kembali mengunjungi Berastagi. Tapi berastagi sudah tidak sedingin dulu lagi.

Bukan Berastagi saja, masalah suhu yang tidak menentu ini rasanya makin sering kualami sampai membuatku pusing sendiri. Contohnya rumahku yang sering terasa panas sekali. Kadang saking kepanasannya, aku menyerah dan menggunakan AC serta kipas angin untuk mendinginkan badan.

Suatu saat, ketika aku membaca buku berjudul Homo Deus karya Yuval Noah Harari, aku tercenung dengan salah satu tulisannya mengenai apa yang membuat manusia merasa bahwa mereka lebih superior daripada makhluk lain di bumi ini?

Padahal, manusia adalah makhluk paling destruktif di muka bumi. Kita menghancurkan rumah-rumah yang dihuni makhluk lain demi membangun rumah kita sendiri. Kita memberikan uang kepada sesama manusia sebagai imbalan tanah tersebut, tapi tidak kepada binatang.

Kita menggunduli hutan-hutan untuk membuat perkakas, mengeruk bukit untuk membuat rumah, menyedot air untuk kebutuhan minum kita, namun berapa banyak orang yang benar-benar memikirkan dampaknya terhadap alam?

Sekarang kita mulai merasakan dampak yang kita buat sendiri. Tidak menentunya cuaca, perubahan iklim yang tidak dapat di prediksi, cuaca panas ekstrem maupun dingin ekstrem, dan lain-lain. Bukankah hal ini seharusnya adalah sebuah pertanda, seolah alam sedang mengajak kita berdialog

"Masih belum menyadari kesalahanmu, hai manusia?"

Carl Sagan pernah berkata dalam salah satu episode Cosmos : 

Sumber : Pixabay
Alam semesta ada di dalam diri kita. 

 Hal itu benar adanya. secara harafiah, kita memang terbuat dari alam semesta. Makanan yang kita makan didapatkan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di sekitar. Mereka pun bagian dari alam semesta. begitupun diri kita. Kita adalah alam semesta. Perlakuan kita terhadap alam mencerminkan perlakuan kita terhadap diri sendiri.

Aku percaya di dunia ini, semuanya berputar, apa yang kita tanam pada akhirnya akan kita tuai, oleh karena itu, semenjak aku mendapatkan kesadaran tentang betapa berdampaknya aktivitas-aktivitas kecil yang aku lakukan terhadap bumi, maka aku mulai mengubah kebiasaan-kebiasaanku. Kebiasaan ini hanya kebiasaan kecil, namun aku meyakini dampaknya luas sekali.

Langkah Langkah yang kulakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim adalah :

1. Membawa Tumblr sendiri

Tumblr-Cara-Menjaga-Bumi
Sumber : Dok. Pribadi

 

Membawa Tumblr sendiri bukan hanya dapat menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan kantong dan kesehatan kita sendiri. Dengan membawa tumblr, kita dapat mengurangi sampah plastik, menyelamatkan perut dari minuman-minuman yang tidak baik buat kesehatan, serta dapat punya menghemat pengeluaran minum yang biasanya membengkak tapi tidak kita sadari. Ditambah di masa pandemi ini, membawa minum sendiri dapat mencegah terjadinya penularan virus Corona dari satu orang ke orang lainnya.

2. Membawa Kantong Belanja Sendiri

Kantong-Belanja-Cara-Menjaga-Bumi
Sumber : Dok. Pribadi

 

Sewaktu aku tinggal di Jawa Barat, kebiasaan ini cukup mudah k
ulaksanakan mengingat pemerintah sendiri telah melarang penggunaan kantong plastik disana. Beda cerita saat aku kembali ke kampung halamanku di pinggir Sumatera Utara. Mempunyai kantong belanja sendiri masih dianggap aneh. Bahkan, aku ditertawakan oleh kasir salah satu minimarket di kotaku karena membawa kantong belanja sendiri. Daerahku memang belum terbiasa menerapkan hal ini. Namun aku tetap melakukan kebiasaan ini. Harapanku, setidaknya orang-orang terdekatku dapat mengikuti kebiasaan ini. Perubahan besar perlu dimulai dari satu perubahan kecil kan?

3. Menerapkan Pola Makan Secara Sadar

 

Makanan-cara-menjaga-bumi
Sumber : Pixabay

Sejalan dengan penerapan minimalisme dalam hidupku, aku juga menerapkan pola makan secara sadar. Maksud dari pola makan secara sadar ini adalah, tiap kali aku akan memilih makan, aku menanyakan pada diriku sendiri, "

Dari mana makananku berasal? bagaimana pengolahannya? Apakah makanan ini baik buat tubuhku?

Sebenarnya pertanyaan ini juga untuk mengamankanku dari memakan makanan yang tidak diperbolehkan oleh agamaku. Namun, pertanyaan ini ternyata juga sangat erat kaitannya dalam merawat bumi. Aku menanyakan itu untuk memastikan bahwa aku memakan makanan yang sepenuhnya halal, baik bagi tubuhku serta alam di sekitarku. Kabar baiknya, makanan yang baik bagi alam biasanya juga baik untuk tubuh. Jadi, ketika kamu memperhatikan makananmu untuk alam, otomatis kamupun sedang memikirkan dirimu sendiri.

4. Menerapkan Pola Pikir Minimalisme

Aku mulai mengurangi barang-barangku dengan cara menghibahkannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Setiap kali ada satu barang masuk, maka harus ada barang yang keluar. Konsep ini kemudian mengurangi produksi sampahku, karena minat belanjaku banyak berkurang sehingga mengurangi potensi sampah yang mungkin kuhasilkan pula.

 Kebiasaan ini selain baik bagi alam, ternyata juga baik bagi diriku sendiri. Manfaat-manfaatnya adalah :

  • Mengurangi debu yang bertumpuk
  • Mengurangi pekerjaanku dalam membersihkan rumah
  • Menghemat pengeluaran
  • Memberikan ruang kosong baru di otakku yang tadinya aku gunakan untuk memikirkan barang tersebut
  • Melepaskan ikatanku terhadap barang-barang

5. Menanam Pohonku Sendiri 

Sumber : Dok. Pribadi

 

Waktu kecil aku suka menonton Doraemon. Salah satu yang kuingat adalah Doraemon The Movie : Nobita and the Green Giant Legend. Dalam film itu Nobita berteman dengan Pohon kecil. Cerita si pohon kecil itu tertanam sangat dalam di dalam otakku. 

Sumber : pixabay

 

Februari lalu, aku menyelesaikan sidang skripsiku dan tidak punya kegiatan lain untuk dikerjakan dan tidak bisa keluar untuk bertemu dengan teman. Saat itulah tercetus pikiran untuk memiliki tumbuhanku sendiri. Sebenarnya aku sudah mempunyai kaktus kecil yang kunamai Jecky, tapi Jecky akhirnya kuserahkan kepada kakakku di Bekasi karena aku harus kembali ke rumahku

Setelah akhirnya aku pulang kerumah, aku jadi merealisasikan ideku untuk memiliki pohon kecil sendiri. Pohon ini aku namai Hope, karena pohon ini adalah harapanku untuk dunia yang lebih baik.

Ketika merawat Hope, aku jadi menyadari banyak perubahan dalam diriku. Aku banyak berkontemplasi. Tentang lambatnya pertumbuhan pohon, sedangkan menebangkan mudah sekali. Pohon butuh waktu bertahun-tahun untuk jadi tinggi dan kokoh, tapi menebangnya hanya butuh waktu satu jam. Ini membuatku lebih hati-hati dalam menggunakan produk kayu, karena aku menyadari satu produk kayu mungkin butuh banyak kayu dalam pembuatannya. Sedangkan, aku butuh banyak pohon untuk hidup, tapi aku tidak butuh banyak prabot kayu untuk hidup.

6. Mengurangi Pembelian Produk Sekali Pakai

Produk sekali pakai punya banyak jenis. Kantong Plastik, Fast Fashion, Air minum kemasan, dan lain-lain. Aku tentu tidak bisa lepas sepenuhnya dari produk sekali pakai. Tapi aku bisa menguranginya semaksimal mungkin. tiga produk diatas sudah kuatasi dengan kebiasaan yang sudah kujabarkan.

7. Memilah-milah sampah

sampah-cara-menjaga-bumi
Sumber : Pixabay


Zero Waste juga adalah salah satu tantangan yang cukup menguras energi untukku pribadi. Aku terinspirasi untuk hidup dengan ini setelah menyaksikan tayangan tentang cara orang korea mengelola sampah, dan itu sangat mengejutkanku karena membuang sampah saja ternyata seribet itu. Tapi keribetan itu dibayar dengan sedikitnya sampah, bertambahnya lapangan pekerjaan, sampah-sampah dapat dimanfaatkan kembali, tidak ada tumpukan sampah menggunung yang bau, dan kesehatan masyarakat yang terjaga.

Aku senang sekali dengan konsep korea ini. Ketika aku tinggal di rumah kakaku di Bekasi, aku melihat masyarakatnya sudah mempunyai Bank Sampah, dan aku cukup mengapresiasi karena sudah ada langkah awal untuk memulai hal baik itu. Namun, di daerahku sendiri ternyata belum ada bank sampah. kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya pun masih minim.

Kalau aku sendiri, saat ini aku mencoba untuk memilah sampah kertas, botol kaca dan botol plastik. Kalau barangnya sudah mulai banyak, kami menyerahkannya ke botot (pemulung yang membeli sampah yang sudah dipilah) untuk mendapatkan uang kembali. Tidak banyak, namun dampaknya cukup besar menurutku. Kami bisa mengubah jadi uang, dapat membantu botot di sekitar rumah kami, serta mengurangi dampak kerusakan bumi yang diakibatkan oleh sampah kami sendiri.

8. Berjalan Kaki 

Orang-orang di Indonesia memang cederung lebih suka berkendara, aku juga inginnya begitu. Sayangnya aku tidak bisa mengendarai kendaraan apapun, jadi aku terbiasa berjalan kaki kemana-mana. Menariknya, kebiasaan ini di Indonesia kerap kali dianggap rendah bagi masyarakat di sekitaran rumahku 

"Kok jalan panas panas gini. Naik kereta lah" orang-orang di daerahku menyebut motor dengan sebutan kereta

"Ih keretanya mana"

Aku sudah biasa dengan kata-kata itu. Biasanya hanya ku senyumi saja karena aku juga bingung membalasnya.

Mungkin kebiasaan ini tidak sepenuhnya kulakukan demi menjaga bumi, tapi setidaknya kebiasaan ini tetap berdampak kepada kesehatan bumi.

9. Memperbarui Ilmuku Tentang Perubahan Iklim

Aku mendapatkan banyak sekali sumber terkait perubahan bumi dan seisinya melalui Internet. beberapa judul-judul video youtube yang dapat kamu tonton adalah 

Tayangan-tayangan ini memberikanku sudut pandang dan informasi baru dalam menjaga bumi. Selain itu, tayangan ini memberikanku kesadaran bahwa apa yang aku lakukan, cepat atau lambat akan kembali kepada diriku sendiri. Jadi, apabila aku memperlakukan alam dengan buruk, maka hal buruk tersebut akan kembali kepadaku.

 Pada akhirnya, seperti pesan akhir dalam video Diam dan Dengarkan :

Kita tidak perlu melakukannya dengan sempurna, tapi kita perlu melakukannya secara kolektif. Kesadaran kolektiflah kunci dari lestarinya planet ini.

 Daripada melakukan hal besar sendiri-sendiri, mengapa kita tidak melakukan hal kecil bersama-sama? Aku, mengajak kalian semua untuk mulai dari sekarang, dari hal-hal kecil, demi mencegah dampak perubahan iklim.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. kesadaran akan perilaku yang bisa mengubah iklim sangat penting
    yang paling sederhana saja mengurangi penggunaan plastik dan berjalan kaki
    walau sulit tapi ini untuk kebaikan bersama demi mencegah perubahan iklim

    ReplyDelete
  2. Keren mba, yg dilakuin setidaknya udh banyak loh itu. Aku aja blm bisa setengahnya. Bawa Tumbler sbnrnya aku udh mulai dari 3 thn lalu. Gara2 pas ke Jepang, itu kalo beli Starbucks dan pake Tumbler sendiri promonya gede2 hahahahaha. Jadi aku sampe beli Tumbler, dan tiap ngopi aku pake itu , demi dpt promo :D.

    Mengurangi barang juga udh mulai, aku ga pengen rumah numpuk Ama brg2 yg ga berguna. Tapi kalo sampah agak susah. Aku prnh coba pisah2. Tapi Ama si tukang sampah kliling dijadiin 1 semua -_-. Apa gunanya di awal dipisahin , hiiih... Jadi gemeeees. Kesadaran orang2 di sini kayaknya kalo ttg sampah :(. Padahal kalo di korea dan Jepang, salah masukin sampah ke dlm tempat yg tersedia aja bisa di denda. Makanya pas aku ke sana, itu pemilik penginapan dari Airbnb, pada minta, sampahnya g ush taro di luar, Krn ntr mereka mau cek lagi. Sampe segitunya.

    Pelan2 aku pasti berusaha kok utk ikutan LBH konsisten ngelakuin hal2 yg bisa mencegah perubahan iklim ini. Pelan2 harus bisa :)

    ReplyDelete
  3. Beberapa hal yang disebut di atas saya suka melakukannya kak. Bawa tumbler, jalan kaki (tapi lebih suka nebeng sih hehe), dan merawat tumbuhan. Sayangnya sekarang agak susah buat melakukan hal yang saya sebut terakhir karena keterbatasan lahan dan bahan. Bisa aja sebenernya pakai hidroponik, tapi bahannya sulit~

    ReplyDelete