Belajar Menentukan Prioritas

By Khata S. Fluorida - July 03, 2020

Dulu, saat aku masih kecil, aku bisa melakukan apapun yang aku mau. aku tidak begitu perduli apakah itu berhasil atau tidak. konssekuensi paling menyebalkan palingan aku menangis, atau badanku lecet karena terjatuh. aku kesakitan selama beberapa hari, lalu sembuh.

Aku bisa melakukan apapun yang aku mau.

Ternyata, semakin aku dewasa, aku menyadari kalau aku memang bisa melakukan semua yang aku mau, tapi waktuku tidak cukup banyak untuk melakukan semuanya. Maka dari itu aku harus menentukan prioritas. Mana yang harus kukerjakan dan mana yang tidak.

1. Belajar untuk mengatakan tidak pada hal yang tidak signifikan dengan tujuanmu.
Sekarang aku mulai belajar untuk mengatakan tidak pada diriku sendiri dan kepada orang lain. Aku dulu termasuk orang yang segan menolak permintaan orang lain, sehingga aku seringkali mengiyakan permintaannya. Tapi semenjak aku menyadari tentang prioritas dan tujuan, aku mulai merasa mudah kehabisan waktu dan semua yang aku rencanakan tidak bisa aku kerjakan akibat terlalu banyak pekerjaan. Jadi, aku mulai belajar untuk menentukan prioritasku dan kemudian menolak apa-apa yang tidak sesuai dengan tujuanku. Jika mereka adalah orang baik, pasti mereka akan menerima penolakan kita.

2. Mengetahui hal-hal apa yang kamu anggap penting untuk hidupmu.
Hal-hal yang aku anggap penting dalam hidupku kemudian bisa menjadi limitasi buatku, agar aku fokus pada apa-apa yang signifikan untuk hidupku saja. mungkin terkesan egois, tetapi pada akhirnya kita menjalani kehidupan kita masing-masing. mengetahui apa yang penting untuk hidup membantu membuat hidup lebih stabil. Jika hidupmu stabil, pada akhirnya kau akan punya lebih banyak ruang lagi untuk melangkah kedepan dan mungkin membawa orang-orang di sekitarmu untuk ikut melangkah juga.

3. Belajar memilah teman dekat beserta perkataannya
aku mulai untuk memilih orang-orang terdekatku. mungkin bagi kalian ini terasa arogan. tapi pikirkan lagi. Kita bisa berteman dengan siapa saja, kita memang harus berkenalan dengan banyak orang, tapi pilihlah teman-teman yang kau habiskan banyak waktu dan energimu bersamanya. kalau bisa, dia mempunyai tujuan dan nilai yang sama denganmu.

4. Memprioritaskan barang yang penting dan tidak penting
aku dulu penumpuk barang. waktu kecil, bahkan aku suka mengutip barang-barang dari tempat sampah dan kusimpan sebagai koleksi berharga sampai mamaku marah-marah. sejak smp aku tidak lagi mengutip sampah tapi aku masih suka menumpuk barang. lalu, saat aku mulai kuliah, aku menyadari kalau aku alergi debu. saat itulah pertama kali aku merasakan buruknya menumpuk barang yang banyak. Barangku terlalu banyak sampai-sampai aku tidak dapat membersihkan semuanya dengan benar lagi. akibatnya kamarku jadi sangat mudah berdebu. Sejak itulah aku mulai memilah-milah barangku, yang mana yang harus aku pertahankan, aku sumbangkan, dan aku buan. ternyata, setelah membersihkan barang dan meninggalkan hanya barang-barag yang aku prioritaskan saja, aku menjadi lebih baik dalam berpikir dan menentukan prioritasku pada bidang lain.

Nah begitulah caraku untuk menentukan prioritas, bagaimana dengan kamu?

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. caraku sih ga terlalu jauh beda dengan caramu kok mba. aku mulai belajar untuk membuat prioritas sejak udah kerja. dari situ aku jd tau pentingnya mengutamakan prioritas kerjaan. apalagi aku kerja di perusahaan asing yg mana staff2 expat yang kebanyakan WNA, terbiasa kerja cepat dan efisien. mereka ga mau tau seberapa banyak load kerjaan, tapi aku harus bisa memutuskan mana prioritas kerja yg harus aku utamain dan mana yg bisa menyusul nanti.

    aku terbiasa membuat list things to do di agenda sebelum kerja. dari situ aku jd tau juga mana workload yang harus aku selesaikan di hari itu.

    skr aku memang udah ga kerja. tapi mungkin krn terbiasa ama kerjaan2 kantor sblmnya yg serba teratur, aku membuat jadwal sehari2 untuk di rumah. jam berapa harus memberikan instruksi masak apa ke ART, jam berapa hrs membaca, update blog, blogwalking, refresh time, jam berapa juga harus membuat list menu harian untuk esok harinya dan kapan harus memantau saham-saham dan other financial platform yang aku mainin.

    kalo ga begini, berantakan mba.. kadang ngerasa banget kok 24 jam itu kayak kurang. dulu mikirnya setelah resign waktuku bakal jd lebih banyak apalagi ada asisten yang bantu2. ternyata malah makin banyak :D . makanya cara kerja di kantor aku terapin juga untuk di rumah, supaya kerjaan di sinipun bisa kehandle sama eficientnya kayak kerjaan kantor dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mungkin orang yang udah kerja sama yang baru lulus kuliah memang beda ya, saya masih berusaha menyesuaikan prioritas saya dengan hal-hal lain yang saya kerjakan sekarang. hidupnya masih naik turun, haha.

      Mbanya juga keren nih, bahkan prinsip kerjanya juga diterapin di rumah juga. untuk sekarang memang saya masih single, tapi memang saya juga pengen kalau udah berkeluarga nanti gimana caranya supaya saya juga bisa manajemen waktu saya dengan baik.

      24 jam memang selalu kurang mba, saya juga sekarang gitu, baru duduk di depan layar tiba-tiba udah berapa jam aja. memang musti pinter-pinter ngaturnya.

      Delete