Apakah Privilege itu Nyata

By Khata S. Fluorida - July 08, 2020

Ya, privilege itu nyata.

Dan sebelum kalian semua bertanya, ya, aku punya privilege.

Lalu apakah kemudian privilege bisa jadi alasan bagi orang yang tidak ber'privilege' untuk tidak berusaha? untuk menganggap hasil yang di dapatkan orang kaya hanya sebuah keuntungan bagi dirinya saja?

Disini aku akan menceritakan soal privilegeku. Privilege yang aku dapat, dan bagaimana aku mendapatkannya. di akhir, aku akan menjelaskan kalau meskipun kalian manusia yang paling berprivilege pun di muka bumi ini, kalian selalu akan tetap dikejar-kejar masalah.

Sebelumnya, aku ingin memberi klarifikasi. Aku tidak sekaya, secantik, sesukses yang kalian bayangkan. Biasa-biasa saja. Ayahku PNS, ibuku guru swasta. Kehidupanku cukup. Aku masih bisa makan tiga kali sehari, bisa jalan-jalan tiap minggu bersama keluarga, masih bisa berinteraksi dengan keluargaku tanpa ada masalah serius, punya teman yang biasa-biasa saja, tapi baik-baik dan mau membantu disaat aku lagi susah. Wajahku biasa saja, tidak cantik tapi tidak mau juga dibilang jelek. Badanku sehat, masih bisa digunakan untuk banyak aktivitas.

Aku mendefinisikan kondisiku sekarang sebagai privilege. karena aku mendapatkan kondisi itu tidak dengan usahaku sendiri sepenuhnya. Beberapa aku dapatkan saja sedari lahir. Separuhnya adalah hasil usaha kedua orang tuaku. Oleh karena itulah akan tidak adil kalau sepanjang tulisan ini aku menceritakan diriku sendiri. Karena akan lebih utuh pemahamannya jika aku menceritakan tentang orang yang memberikan aku privilege itu. Ayah dan ibuku.

Ayahku adalah pencipta privilegeku yang sebenarnya. Ayah lahir di desa kecil di sudut sumatera utara yang jauh sekali dari kota Medan. Anak pertama dari enam bersaudara. Ayah ibunya petani. Masa kecil ayah udah terbiasa mencari cara untuk mencari uang. Membantu orang tua ke ladang, buat sapu terus dijual lagi, buat kripik ubi terus dijual lagi.

Kebiasaan pekerja kerasnya ayah kebawa sampe besar. Waktu kuliah, ayah kerja serabutan kemana-mana. Kerja pabrik sambil ikut organisasi kampus juga. Sibuk sekali. Waktu akhirnya udah beneran lulus kuliah juga kerja mulu. Ayah orangnya sibuk luar biasa. Dulu ayah jarang pulang dibawah jam sepuluh malem. Jam 11, 12 malem udah biasa banget ayah pulang. Kadang malah hari minggu dipakai juga buat kerja. Ada aja kerjaannya. Sekarang pun, kalau lagi liburan, saking tidak terbiasanya diam, ayah jadi melakukan banyak hal dirumah. Segala hal yang bisa dikerjakan dia kerjakan. Kalau tidak, beliau akan mengajak jalan-jalan keluar rumah. Sudah tidak terbiasa beliau untuk duduk diam dirumah

Hasilnya kehidupanku yang sekarang ini. Aku bisa menikmati privilege hasil kerja kerasnya ayah. Tidak ada cerita di sekolah dasar dulu jualan cari uang sendiri buat makan. Aku sih memang mencoba jualan stiker, tapi itu bukan karena aku terdesak mengumpulkan uang melainkan sedang mencoba saja bagaimana rasanya jualan.

Tidak ada juga ceritanya waktu kuliah aku kerja cari uang buat makan. Uang tiap bulan dikirimin orang tuaku. Aku memang jualan waktu kuliah, tapi bukan karena aku ketakutan tidak bisa makan atau bayar kosan, aku jualan agar tahu rasanya jualan. Agar bisa belajar berdagang. otomatis, privilege ini membuat aku bisa punya waktu luang lebih banyak untuk mencari jati diri, untuk mencari tahu apa yang aku suka, kegiatan apa yang bisa aku tekuni dengan serius tapi bisa tetap membuat aku bahagia.

Aku jadi bisa mendapatkan lebih banyak kebebasan untuk memilih apa yang aku suka. Banyak pintu yang terbuka buatku akibat usaha ayah di masa mudanya. berkatnya, aku jadi tidak perlu lagi melewati tahapan itu.

Lalu, apakah lantas aku jadi lebih merdeka? iya.

Apakah aku jadi tidak perlu lagi berusaha? tidak juga.

Privilege itu datang dengan bentuk:

1. aku tidak perlu khawatir tidak bisa makan besok hari.
2. aku tidak khawatir tidak bisa bayar uang kosan bulan ini.
3. aku bisa memilih pekerjaan yang aku suka
4. aku mempunyai waktu yang lebih banyak untuk mencari jati diri.
5. aku mendapatkan keluarga dengan ekosistem yang baik dan dapat mendukung aku untuk berkembang

Tapi keberuntungan tersebut melahirkan tantangan juga buatku. tantangan itu muncul dalam bentuk

1. Keinginan untuk berhura-hura dan membelanjakan uang orang tuaku untuk hangout bareng temen-temenku, beli baju banyak-banyak buat cantik-cantikan
2. Berjuang untuk bangkit dari rasa malas karena berpikir aku sudah memiliki semuanya. jadi buat apa lagi aku berusaha? Ini racun, karena jika aku terbiasa malas, maka ketika aku sudah benar-benar harus bekerja, aku akan kesusahan sekali.
3. Ketakutan tertinggal oleh teman-temanku yang sudah ambil langkah diluan, ketakutan yang sudah menjadi tidak wajar.
4. Diremehkan usahanya oleh orang lain, karena dianggap mendapat "privilege" dari orang tuanya.
5. Untuk berusaha menyamai level ayahku, bahkan kalau bisa lebih demi memberikan yang terbaik untuk generasi penerusku kelak. Level ini tidak harus dimaknai dengan ekonomi, tapi dari segi pemahaman, pendidikan dan lingkungan yang baik juga termasuk bagian tantangannya.

Estafetnya kan tidak boleh berhenti.

Kalau aku merasa tidak perlu berusaha karena hidupku enak, ya kan enaknya cuma berlaku sekarang aja. kalau tidak menekan diriku sendiri untuk berusaha maka sama saja aku menyia-nyiakan usahanya ayahku untuk memberikan privilege ini terhadapku.

Aku juga akan mempunyai kehidupan sendiri. Di mana di kehidupan itu ya aku yang harus mengusahakan priviladgeku sendiri. Maka berarti aku tetap tidak seenak itu hidupnya. Apalagi dalam keluarga dengan ekonomi menengah sepertiku, aku memang punya kebebasan tapi sebenarnya tidak sebebas itu. Aku bukannya mewarisi bisnis besar se Asia Tenggara. kalau ayahku berhenti bekerja maka akulah yang akan bekerja selanjutnya kalau tidak ya aku harus dapat uang darimana?

Nah, cerita tentang hidupku selesai sampai disitu.

Sekarang mari kita membahas orang-orang yang kita anggap punya priviladge yang besar. Biasanya orang-orang yang dianggap punya banyak privilege itu tergambar dalam sesosok anak orang kaya yang berkulit putih, cantik atau tampan, dan pintar.

Itu privilegenya.

kebanyakan dari kita hanya bisa melihat kehidupan orang lain sampai sejauh melihat privilegenya saja.

Bagaimana dengan hubungan pertemanannya? bagaimana dengan kesehatan mentalnya? bagaimana dengan kondisi fisiknya? bagaimana dengan kondisi keluarganya?

Siapa dari kita yang bisa menjawab pertanyaan itu?

Alam semesta ini punya mekanisme keseimbangannya sendiri. Berhubung manusia juga bagian dari semesta, malah, manusia bisa dihitung sebagai satu semesta sendiri. Jadi, selayaknya semesta, dia selalu berupaya untuk menyeimbangkan yang tidak seimbang.

termasuk perkara kelebihan dan kekurangan. kelebihan yang dapat terlihat kemudian sering kita sebut sebagai privilege dan kita jadinya pembenaran atas penghakiman kita terhadap hidup orang lain.

penghakiman yang kita tunjukkan baik kepada orang yang dalam penglihatan kita mendapatkan 'priviladge' dan yang tidak mendapatkan 'privilege'

Sebagai contoh, jika kita melihat seorang artis yang kemudian berhasil masuk ke universitas ternama di luar negeri sana, kita akan berkomentar

"Ah itu mah karena dia anak orang kaya"

Ada pula jenis komentar lainnya

"Nah, kita harusnya jadi kaya dia, dia aja bisa kuliah di luar negeri masa kita ngga"

..yang mana keduanya adalah salah.

Statement pertama salah, karena kalimat itu seakan menghilangkan kenyataan kalau si anak ber privilege pun berusaha untuk mencapai hal itu. Dia bisa jadi belajar mati-matian, dijauhi teman-temannya karena dianggap orang aneh, menghabiskan waktunya untuk terus belajar agar bisa mencapai hal tersebut.

Sedangkan, statement kedua pun salah. Karena hal itu membandingkan dua orang yang sepenuhnya berbeda dari keluarga, lingkungan dan cara pikirnya. kenyataannya memang tidak semua orang bisa berkuliah di luar negeri, tapi bukan berarti orang yang tidak berkuliah di luar negeri lebih rendah dari orang yang berkuliah di luar negeri. Itu hanya masalah pilihan yang tersedia, setiap orang punya pilihan yang berbeda-beda atas takdirnya.

Pada akhirnya kita semua cuma manusia yang setara, yang semuanya punya sepaket kekurangan dan kelebihan. Nilailah manusia selayaknya manusia saja, tidak ada yang lebih dari yang lainnya. toh, definisi sukses kita juga berbeda-beda. tidak semua orang bercita-cita ingin punya rumah megah dan uang berlimpah. beberapa hanya ingin hidup cukup dan tenang bersama keluarga kecilnya. yang lainnya ingin menghabiskan hidupnya dengan berpetualang keliling dunia. Ada juga yang ingin mengabdikan dirinya mengajar di daerah tertinggal.

Jadi, biasa saja melihat 'privilege' seseorang.

Ada manusia yang kaya, pintar, cantik, tapi masalahnya terletak di keluarganya. Dia sangat kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja.

Ada yang dari luar terlihat miskin, tubuhnya tidak sesuai dengan standar fisik yang disenangi oleh orang-orang, taunya sehari-hari cuma bekerja buat menyambung hidup. Tapi hatinya selalu tenang. kenapa? dia tidak terpengaruh dengan hal-hal yang berada di luar kendali dirinya.

Tentu jenis seseorang yang seperti ini wajib kita masukkan dalam jenis orang yang berprivilege juga.

By the way, kalau kalian mau memahami persoalan priviladge ini kalian bisa membaca salah satu atau buku-buku berikut ini:  Outlier, Guns, Germs, and Steel dan Unfair Advantadge. Buku-buku ini secara detail menjelaskan tentang privilege beberapa orang dan kelompok yang kita kenal sekarang, dan menjelaskan mengapa kita perlu biasa-biasa saja dan tidak perlu membanding-bandingkan diri kita dengan mereka.

Intinya, ketimbang mengurusi privilege orang lain, lebih baik sibuklah sekarang untuk menciptakan privilegemu sendiri. Apapun hal yang kau bisa wujudkan dalam kehidupan dan situasimu saat ini, wujudkanlah. Kalau gagal? tidak apa-apa, setidaknya kau sudah mencoba.

Hidup ini lebih berarti dari sekadar memperdebatkan privilege orang lain.

Just life your life.

Aku tidak menyuruh kalian untuk setuju pada tulisanku. Aku cuma mengajak kalian berpikir. Barangkali kamu mendapatkan pemahaman yang lebih utuh perkara masalah privilege ini. semoga begitu.


  • Share:

You Might Also Like

1 comments

  1. ayo semangat memperkuat privilige untuk anak cucu nanti.. hari esok harus lebih baik dari hari ini

    ReplyDelete