Masih Belajar : Landasan Bepikir Seorang Iman Usman

By Khata S. Fluorida - February 04, 2021

review-dan-ringkasan-buku-masih-belajar

Buku ini merupakan salah satu buku non-fiksi terbaik yang aku baca berkali-kali dan kubawa kemana-mana setidaknya dalam 2 tahun belakangan, aku bawa ulang kalau sedang sedih, patah semangat, atau cuma sedang bosan saja. Terimakasih buat temanku yang sudah merekomendasikan buku ini. Awalnya aku skeptis, karena banyak sekali buku semacam ini yang dijual hanya bermodal nama penulisnya saja. Namun buku ini memang sungguh berbeda.
 

Sudah lama sekali aku ingin cerita tentang buku ini. Bagiku, buku ini isinya benar-benar menjelaskan landasan berpikir yang dasar yang jarang dimiliki oleh orang-orang. Aku sangat merekomendasikan buku ini khususnya untuk anak-anak SMA. Aku sendiri berpikir, seandainya waktu SMA dulu buku ini sudah ditulis dan aku mempunyai waktu dan uang yang cukup untuk membeli, pasti hidupku akan jadi lebih mudah.

Salah satu hal yang membuat aku berekspektasi cukup rendah awalnya adalah karena bukunya yang cuma setebal 228 halaman ditambah banyak ilustrasinya. Pengalamanku membaca buku-buku seperti ini, isinya biasanya tidak padat dan cuma mengandalkan ilustrasi saja. Namun ternyata, seperti asumsi yang sering aku buat-buat sendiri, asumsi ini salah juga.

Buku ini memang menceritakan tentang kehidupan seorang Iman Usman. Namun, proses membacanya lebih menjadi refleksi bagi diriku sendiri. Tentang perspektifku, tentang nilai-nilai dan kehidupanku. Iman Usman tidak sedang membanggakan dirinya dan pencapaiannya, tapi beliau sedang menjelaskan tujuan hidupnya di dunia dan mengajak pembacanya untuk memahami tujuan hidupnya juga. jadi, seraya membaca, aku bukan hanya mengenal Iman Usman, namun jadi lebih mengenali diriku sendiri juga.

Iman Usman menjelaskan kisahnya dalam empat bab.

Yang pertama, perspektif. Disini, Iman menceritakan tentang dunia yang beliau tinggali hari ini, nilai-nilai yang dipegang, memilih jalan hidup, menghadapi kegagalan, serta titik balik hidupnya. Di dalam bab ini, kita diajak untuk memahami landasan berpikir Iman yang berdasar pada pengalaman hidupnya sampai akhirnya membuat Ruangguru yang benar-benar menjadi salah satu bagian dari jiwa Iman Usman.

Selanjutnya, Iman menggambarkan hidupnya dalam tiga fase yang di ibaratkannya sebagai sebuah pohon yang bertumbuh. 

Fase pertama yaitu pembentukan karakter yang dia sebut dengan akar. Disini beliau menceritakan kisah hidup awalnya, bagaimana dia bisa mempunyai pola pikir yang seperti sekarang ini. Dalam bab ini beliau menceritakan tentang pola pikir seorang Iman Usman sedari dia kecil, dan hal-hal yang membantunya untuk sampai pada tahap sekarang ini. Mulai dari pengaruh karakternya, lingkungannya serta orang-orang yang berada di sekitarnya.

Sedari awal, melalui buku ini memang sudah terlihat bahwasanya Iman Usman telah mulai diluan dalam banyak hal bahkan sedari dia kecil. Belajar tanggung jawab, mengelola dan mengeksekusi rasa penasaran seorang anak-anak, serta kegigihan. Dan hal ini pun didukung dengan orang tua yang supportif. Ini yang kemudian membuat Iman Usman dapat menancapkan akar-akar yang kuat untuk pohon yang sedang ditanamnya.

Setelah membentuk akar, dasar dari sebuah pohon yang kuat, pohon pun harus terus bertumbuh keatas, yang kemudian dia sebut dengan batang. Sebuah pohon yang menumbuhkan batang tentu akan mulai menghadapi masalah-masalah dari eksternalnya seperti hujan, badai, petir, kekeringan, tangan-tangan manusia yang jahil, dan lain-lain. Iman menceritakan pengalamannya saat menumbuhkan batangnya, dimana saat itu beliau mengalami banyak penolakan, kegagalan, putus asa dan lain-lain. 

Akhirnya, setelah mengalami banyak masalah dalam hidup, Iman akhirnya bisa memetik buah dari pohon tersebut. Disini Iman menceritakan apa saja buah yang didapatkannya dari menumbuhkan akar dan batang yang selama ini ia rawat dengan sabar.

Sebelumnya aku tidak berekspektasi banyak pada buku ini, setelah membaca pun, tidak lantas menghilangkan kekesalanku pada Ruangguru yang acaranya sering kali menguasai hampir semua TV swasta di Indonesia di rentang tahun 2019 - 2020. Tapi, aku jadi berekspektasi lebih pada manusia di bumi ini. Aku tipikal orang yang rada skeptis, namun membacanya memberikanku kepercayaan bahwa sesungguhnya masih ada orang-orang baik di dunia. Kalau aku belum bertemu, mungkin mainku kurang jauh saja.

Aku tidak mengambil satu kutipanpun dari buku ini, bukan karena tidak ada yang layak jadi sebuah kutipan, melainkan karena semua kalimatnya bagiku merupakan kutipan. Tidak mungkin juga aku menaruh semuanya di dalam blog ini. 

 Jadi, silahkan baca sendiri.

  • Share:

You Might Also Like

1 comments