Perjalanan Hati 1

By Khata S. Fluorida - March 11, 2020

Belakangan ini masyarakat sedang heboh dengan kabar penutupan Mekkah dan Madinah karena Virus Corona. Membaca berita-berita itu kemudian mengingatkanku dengan perjalananku kesana, beberapa tahun yang lalu. Perjalanan yang membuka mata dan membuka hatiku. Sekarang, aku amat rindu dengan perjalanan itu. Aku akan coba menceritakannya, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagimu, sekaligus bagiku yang menuliskannya.

Perjalanan ke Madinah
Foto terbaik yang aku temukan di kamera.

Perjalanan ini kulakukan di tahun baru 2015. Kami baru mengetahui rencana ayah pada bulan Juni tahun 2014. Jadi, persiapan kami amat singkat saat itu. Selain berumrah, aku dan kakakku diamanahi pula untuk menjaga kedua nenekku. Ayah sudah lama sekali ingin bawa ibunya dan ibu mamaku untuk berumrah. Jadilah, kami mengurus barang-barang yang diperlukan, beserta keperluan paspor untuk kedua nenekku saat itu. Perjalanan ini dimulai pada 31 Desember 2014. Pada saat itu, usiaku delapan belas tahun. Perjalanan ini dilakukan selama sepuluh hari.

Pesawat kami transit di Kuala Lumpur, kemudian langsung menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sesampainya di Jeddah, azan maghrib sudah berkumandang, jadi kami shalat dulu. Lalu, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Madinah. Lima hari pertamaku dihabiskan di Madinah.

Hotelku letaknya persis di depan salah satu pintu masuk Mesjid Nabawi. Dari Kamarku aku bisa melihat betapa besarnya Mesjid Nabawi. Bahkan. malam pertama kali aku sampai ke Hotel dan menyaksikan kemegahannya, aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan betapa seru dan menyenangkannya kalau nanti aku shalat disitu. Melihatnya saja terasa menyenangkan. Tapi, memang sebagai manusia, kita memang tidak akan pernah terlepas dari ujian.

Hari pertama di Madinah sebenarnya bukan hari yang menyenangkan bagiku. Cuacanya diluar dugaanku. Saat itu, tidak pernah terpikir olehku kalau Arab yang dikenal sebagai tempat yang panas dengan padang pasir yang luas, bisa jadi sedingin itu. Bukan cuma dingin, anginnya juga angin kering. Jadilah hidung dan bibirku pecah-pecah. Sedemikian parah sampai akhirnya bagian dalam hidungku berdarah. Mukaku entah bagaimana bentuknya. Lotion dan pelembab bibir yang kami beli di supermarket lokal pun tidak dapat mengatasi masalah ini. Belum cukup dari cuacanya saja, pada saat itu aku sangat mengeluhkan makanan yang disajikan (sebenarnya, kita tidak boleh mengeluhkan makanan. jadi, yang ini jangan ditiru). Makanannya di lidahku yang terbiasa dengan rasa asin dan pedas (pada saat itu, tentu saja sekarang sudah berbeda), terasa sangat hambar. Baju yang kupakai juga terasa sangat tidak nyaman dan terlihat aneh. Setiap kali keluar aku selalu gemetar. Dingin yang tidak pernah aku rasakan seumur hidup. Aku sampai bertanya-tanya dalam hati, sebelumnya aku sangat menantikan perjalanan ini. Tapi, di saat itu terjadi kok semuanya terasa salah.

Bagaimanapun, ini perjalanan yang langka bagiku di umur itu, jadi aku tetap harus memanfaatkannya semaksimal mungkin. Jadilah aku menyemangati diriku sendiri, dan berusaha menikmati perjalanan itu.

Satu hal yang aku kagumi, Mesjid Nabawi punya stok air zam-zam banyak sekali. Jamaah bebas mengambilnya sesuka hati. Aku sendiri selalu membawa botol dari hotel, supaya bisa membawa air zam-zam ke kamar. Air zam-zamnya ada di tempat-tempat strategis di mesjid. kalau di luar, dia tersedia dalam keran-keran, kalau di dalam, dia dimasukkan dalam drum-drum kecil yang selalu terisi penuh. Jadi, aku bisa mengakses air zam-zam semauku. Petugasnya selalu sigap mengganti drum-drum yang kosong.

Disana, jadwal shalat subuh terasa cepat sekali, setidaknya bagiku yang seumur hidup tinggal di Medan yang shalat subuhnya pukul lima. Disana, jam tiga subuh saja sudah terdengar suara azan pertama dari Mesjid Nabawi. Kami sudah bangun, mandi dan bersiap-siap berjalan menuju masjid, menembus dingin dan angin kering yang tidak mau berhenti menghembus. Ini kami lakukan supaya bisa mendapatkan spot shalat yang aman. Aman maksudku disini, karena jamaah yang berada disana berasal dari berbagai budaya. Kadang-kadang, budaya mereka terasa agak aneh buat kita. Salah satunya adalah orang-orang yang berasal dari benua Afrika (terlihat dari tubuhnya yang jauh lebih besar, dan wajah yang khas) seringkali nyelip dan berdiri di depan kita, di tempat yang seharusnya kita bisa sujud disana. Kalau sudah begitu, tentu sujud kita akan sangat tidak nyaman, kan. Demi menghindari itulah, kami selalu berangkat pagi sekali dan mencari spot yang paling aman, yaitu shaf yang depan. Kasus itu jarang terjadi di shaf depan, karena orang yang melakukan itu biasanya karena mereka terlambat, sedangkan tidak mungkin menembus shaf yang sudah penuh di depannya. Makanya, shaf yang kerap dijadikan sasaran adalah shaf belakang.

Aku pernah sekali terlambat ke mesjid. Benar saja, seorang tinggi besar yang memakai baju kurung hitam tiba-tiba memasang tempat duduk di depanku. Aku sampai kaget sendiri dan hanya bisa pasrah. Memang salahku, datang terlambat. Jadi aku pasrah saja. Cukup sekali shalatku tidak nyaman. Besok-besok, tidak akan terjadi lagi.

Hari kedua, walau masih kurang nyaman di Madinah, tapi aku sudah mulai mendapatkan semangatku kembali. Apalagi saat itu kami mengikuti shalat jumat, yang seumur hidup tidak pernah aku lakukan. waktu itu aku berdua saja dengan mama, sedangkan kakakku menjaga kedua nenekku yang beristirahat di hotel. Mamaku juga melarang mereka ikut, karena takut mereka terlalu lelah sedangkan malam harinya kami berencana untuk mengunjungi makam Nabi Muhammad.

Momen shalat jumat inipun sebenarnya adalah momen tidak menyenangkan lainnya. Sebab, yang pertama, sang ustaz ternyata memberikan ceramahnya dalam Bahasa Arab. Sedangkan Bahasa Inggris saja aku belum tentu mengerti. Yang kedua, kejadian saat pulang itu cukup membuatku deg-degan. Sebenarnya, proses keluarnya jamaah dari mesjid itu dilakukan bergelombang, setiap gelombang disesuaikan dengan negara yang ciri fisiknya sama, untuk mencegah ada orang yang terdorong atau terjatuh (Orang Asia Tenggara relatif kecil jika dibandingkan dengan orang-orang dari kawasan lainnya). Entah kenapa saat itu aku dan mamaku malah jadi masuk kedalam rombongan orang dengan fisik yang besar-besar. Aku saja yang relatif tinggi untuk ukuran orang Indonesia masih kalah jauh dengan mereka. Apalagi mamaku. kami terjebak dalam kerumunan orang-orang besar yang saling mendorong. Kacaunya, di depan kami ada ibu-ibu yang menggunakan kursi roda. Masalahnya, jika dari belakang terus ada dorongan, sementara di depan kami ada orang yang menggunakan kursi roda, kami bisa terjatuh karena tidak ada yang menahan di depan. Kondisinya amat kacau saat itu. Sampai pikiran terliarku saat itu berkata "ini ibadah, beneran??" karena kondisi ibadah ideal yang ada di otakku, semuanya buyar. Berganti dengan kengerian, membayangkan bahwa ada orang-orang yang meninggal dalam situasi ini. Situasi yang seharusnya memberikan kenyamanan, kedamaian bagi yang melaksanakannya. Allhamdulilahnya, akhirnya aku dan mama bisa keluar dari kerumuman itu tepat di gerbag pintu keluar. Tapi, sejak saat itu aku jadi bertanya-tanya, apa arti dari perjalanan ini? apakah ini benar-benar ibadah? Tapi, kok aku tidak merasakan ketenangan, malah sejak awal banyak hal yang diluar dugaan.

Malam itu, sehabis isya, kami memutuskan untuk mengunjungi makam Nabi. Sebelumnya, mamaku sudah memberikan wanti-wanti, kalau ini tidak akan mudah. Sebagai gambaran, perempuan tidak dapat sebebas itu mengunjungi makam nabi, karena lokasinya terletak di shaf laki-laki. Jadi, ada jadwal-jadwal khusus untuk perempuan bisa mengunjungi makam Nabi. salah satunya, sehabis shalat isya di hari jumat. Maka, kalian sudah dapat membayangkan kan, seberapa penuhnya tempat ini? dan kali ini, aku tidak hanya bersama mama saja. Tapi membawa kedua nenekku juga. Mama tidak henti-hentinya mengatakan pada kami untuk "pegangan ya, jangan sampai terpisah". Aku juga ngeri membayangkan jika itu terjadi. Mungkin kalau yg terpisah aku, kakakku atau mamaku, kami masih bisa mencari jalan sendiri walaupun tersesat. Tapi kalau kedua nenekku? Bisa bahaya.

Dan memang kondisinya, ternyata jauh lebih buruk dari kejadian sepulang shalat jumat. Mekanismenya seharusnya sama, yaitu gelombang masuknya sesuai dengan negara yang ciri fisiknya sama. Namun entah kenapa, saat masuk semua sudah tidak karuan, semuanya bercampur, dan kami, kembali lagi dikerumuni orang-orang bertubuh besar. Aku bisa bilang kalau desak-desakan yang ini situasinya sama parah dan berbahayanya dengan ngantri BLT di Indonesia, ditambah ini kumpulan orang yang datang dari mana saja. Situasinya benar-benar sesak dan orang-orang saling mendorong satu sama lain. Nafas juga terasa tidak nyaman. Tapi, daripada mengkhawatirkan diriku sendiri, sebenarnya aku lebih mengkhawatirkan kedua nenekku. Selain karena mereka sudah tua, fisik mereka juga jauh lebih kecil dibandingkan orang-orang di sekitarnya, yang membuat mereka pasti lebih sulit bernafas daripada aku, yang fisikku lumayan tinggi untuk mengimbangi orang di sekitarku. Saat itu, aku bertanya lagi dalam hati "Apasih maksud dari semua ini? Apakah yang kulakukan ini benar atau tidak? Kalau aku sudah desak-desakan seperti ini, lalu ternyata ini syirik, bagaimana? kan tidak ada sejarahnya mengunjungi makam disebut sebagai ibadah. Ini namanya nyari masalah" pikirku. Semakin dekat dengan makam nabi, aku melihat, diantara entah berapa orang berdesakan mendorong kedepan, ada beberapa orang yang mencoba shalat sunnah! di tengah kerumunan orang yg sedemikian banyaknya. Saat itu, aku jengkel. Aku tidak dapat memahami, orang ini, membahayakan nyawanya dan orang-orang di sekelilingnya demi shalat sunnah di dekat makam nabi, yang sebenarnya bisa saja dilaksanakannya diluar tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Untuk hal ini, sebenarnya sampai sekarang aku masih belum memahami, dan aku rasa aku tidak akan pernah mengerti. Orang di kiri kanannya juga bisa terjatuh di ruangan yang tercipta untuk memberi ruang shalat untuk beliau. Ada beberapa orang lagi yang memutuskan untuk shalat sunnah di sana. Memberikan mereka ruang berarti mempersempit jalan kami. aku terus mengomel dalam hati.

Di tengah desak-desakan, aku melihat sebuah mimbar yang cukup tinggi berwarna emas. Aku tidak ingat, siapa yang kemudian bilang padaku kalau itu adalah mimbar tempat Nabi Muhammad menyampaikan khutbahnya. Disitulah titik balikku, ketika aku melihat mimbar itu, mendadak sekali, aku menyadari, tempat yang aku pijak saat ini, adalah tempat dimana nabi pernah berdiri. Dekat sekali. Kami hanya dipisah oleh waktu. Wah, tidak kusangka, selama ini aku belajar sejarah islam cuma dari buku agama yang sejujurnya amat membosankan, dan guru-guru yang ketika mengingatnya aku lebih kepikiran cara mendapat nilai tinggi ketimbang benar-benar belajar tentang islam itu sendiri. Tapi saat itu, aku berdiri di tanah yang pernah dipijak juga oleh Rasulullah, bahkan melihat mimbar dimana beliau pernah berdiri. Saat itu, di mataku, islam jadi terasa lebih nyata. Bukan hanya cerita yang aku baca di buku dan aku baca di Al-Quran saja. Aku sedang berdiri di tempat dimana islam di sebarkan.

Tidak jauh dari mimbar, aku melihat tujuan kami semua berdesakan disana. Makam Rasulullah. Sebenarnya keliru kalau dikatakan melihat makamnya, karena yang aku lihat adalah sebuah ruangan besar berbentuk kotak ditengah-tengah mesjid ini, yang berpagar tinggi dan berwarna emas. Makamnya ada di dalam. Walaupun akhirnya aku berada di depan pagarnya, ternyata tetap tidak kelihatan, karena pagarnya berlapis-lapis sampai kedalam. Itu lebih seperti melihat rumah Aisyah daripada makam Nabi, itupun yang sudah direnovasi. Tapi, ajaibnya, ternyata aku sama sekali tidak kecewa. Bahkan, aku merasa senang dan takjub, sudah sampai disini. Sudah berada dekat sekali dengan beliau. Aku menyaksikannya sendiri, dan sekarang semuanya terasa lebih nyata daripada sekedar khayalan. Rasa takutku jadi hilang, walaupun aku masih berdesakan dengan banyak orang.

Kejadian itu terjadi selama kurang lebih satu jam sampai akhirnya kami bisa keluar dari kerumunan orang-orang.

Setelah kejadian itu, tentu cara pandangku tidak akan pernah sama lagi. Yang perlu kutekankan juga, Mengunjungi makam nabi bukanlah suatu kewajiban, sebenarnya. Bahkan, tujuan dari dibuatnya pengaman yang berlapis-lapis sampai makam aslinya tidak kelihatan adalah, mencegah orang-orang membuat makam Rasulullah menjadi keramat dan malah menyembahnya. Boleh saja kalian merasa kata-kataku tidak masuk akal, tapi, sebenarnya orang yang shalat sunnah di tengah kondisi berdesakan ke makam nabi itu sebenarnya sudah menjadi bukti kan, kalau belum cukup juga, kalian harus tau kalau ada banyak orang yang menangis sambil meratap di depan dinding makam Rasulullah sambil mengusap-usap dindingnya, yang jelas itu seharusnya tidak boleh, terlepas dari apapun yang ada di pikiran beliau ketika menangis di dinding itu. Tapi terlepas dari semua itu, aku bersyukur bisa mengalami kejadian itu dan melihat mimbar dan makam itu. Rasanya islam menjadi lebih jelas di mataku, dan aku jadi bissa merasa terkoneksi dengan Rasulullah, yang sebelumnya aku tidak merasa punya koneksi bahkan setelah membaca buku-buku sejarah yang bercerita tentang beliau. Hanya melihat saja dapat menciptakan koneksi yang masih terasa efeknya sampai sekarang.

Setelah itu kami juga mengunjungi Jabal Uhud, Jabal Rahmah, Mesjid Qiblatain, Pemakaman Baqi', dll. Tapi aku tidak memiliki cerita yang cukup istimewa untuk diceritakan disana.  

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya hari-hariku ketika di Madinah itu lebih banyak mengeluhnya daripada senangnya. Tapi sesungguhnya aku bersyukur sekali bisa mengalami hal-hal itu, dan lagianpun, sebanyak apapun keluhanku, hatiku pada akhirnya tetap terasa tenang dan damai, entah kenapa. Aku yang biasanya dirumah jam 9 sudah tidur dan bangun jam 5 (pada waktu itu, sekarang jadwal tidurku sudah sangat jauh dari kata ideal), disana malah tidur jam 12 dan bangun lagi jam 3, tapi meskipun begitu, aku tidak pernah merasa benar-benar lelah, bahkan setelah kejadian di makam Rasulullah itu. Entah karena aku memang sedang sangat excited, atau ada alasan lainnya.

Satu lagi momen yang aku ingat ketika di Nabawi, adalah sebuah spanduk bertuliskan "Anda datang kesini sebagai seorang MUSLIM, bukan seorang FOTOGRAFER" yang kemudian membuatku agak tersindir karena tadinya aku berencana banyak berfoto dan membagikannya di media sosialku. Spanduk itu membuatku memikirkan ulang rencanaku dan akhirnya memang aku tidak mengunggah foto apapun.

Untuk cerita di Madinah, aku rasa dicukupkan sampai disini dulu. Semoga tulisan ini dapat memberikan gambaran untuk kamu. Bukan untuk menakuti, tapi mempersiapkan. Lagian, bisa saja hal seperti itu terjadi padaku tapi tidak terjadi padamu. Santai saja.

  • Share:

You Might Also Like

17 comments

  1. Masya Allah... ceritanya, Mbak. Jadi pengen disegerakan juga bisa bertamu ke baitullah. Memang katanya kita bakalan dapat pelajaran banyak dengan melaksanakan ibadah umroh atau haji ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, mba. semoga disegerakan yaa bisa bertamu kesana...

      Delete
  2. Finally bisa 😍😍😍😍
    Aku dari siang baca ini speachless sama pengalaman mbak selama di tanah Suci, memang ya kita bukan Fotografer disana tapi kalau banyak foto dan bisa kita share kan bagus ya seharusnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. allhamdulilaah bisa juga komentarnya hehe.. tetep bagus kok, tergantung niatnya pada akhirnya. Kemarin karena saya fokusnya tadinya hanya membagikan foto saya supaya dilihat oleh teman-teman saya, makanya saya merasa sangat tersindir, hehe...

      Delete
  3. Malah dingin ya?
    Saya malah bersiap terkena panas terik, karena ngga tahan panas.
    Apapun itu. Emang godaan dalam beribadah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa dingin banget kemarin. adaa aja memang ujian dalam beribadah. tapi tetep seru dan penuh hikmah :)

      Delete
  4. MasyaAllah TabarokAllah, aku selalu rinduuuu dgn Mekkah, Madinah, Baitullah, makan Rasul dan sahabat.
    Semogaaaaa corona segera hengkang dari dunia, dan kita bisa ibadah dgn tenang dan leluasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminn bener banget, semoga virus tersebut bisa dikendalikan dengan cepat. supaya aktivitas kita semua bisa normal kembali..

      Delete
  5. Ini umroh ya, se-desak-desakan ini. Gimana kalau haji yang harus kumpul di satu tempat dalam satu waktu ya.

    Baca ini saya jadi merenung sedikit, tempat bersejarah memang bisa membuat kita berkilah balik dengan orang atau kejadian api di masa lalu. Makanya saya heran mengapa makam nabi sempat hendak dibongkar karena perbedaan cara pandang? Bukankah mengingat kematian sangat dianjurkan nabi ya.

    Untunglah tak jadi dibongkar, atas jasa ulama NU yang mati-matian menolak rencana ini meski makam lain sudah terlanjur musnah. Sedih dengar hal kaya gini.

    Beruntung kita tinggal di Indonesia yang tapi sliro (tenggang rasa) nya sangat dijunjung tinggi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa kerasa banget kan ya. pasti bakal lebih desek-desekan lagi. tapi pada akhirnya semua bergantung pda niat sih... dan iyaa, soal makam nabi muhammad juga. kalau saya pribadi tetep merasa lebh baik benda atau tempat bersejarah tidak dihancurkan, karena bagi saya melihatnya bisa jadi penambah semangat..

      Delete
  6. Kak Ulfa, bahagia sekali rasanya bisa ke tanah suci meskipun ada aja cobaannya. Pasti jadi ladang pahala. Saya kepengeeeeen banget bisa ke sana backpackeran sama anak suami. Semoga Allah izinkan suatu saat kami bisa berangkat ya Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah keren banget backpackeran, saya disini bantu doakan semoga mimpinya mba terwujud, ya...

      Delete
  7. Maa syaa Allaah perjalanan hikmah yang penuh berkesan ya Mbak. Bersyukur Mbak bisa dapat kesempatan mengunjungi Makkah dan Madinah, saya pun ingin sekali bisa menjejakkan kaki di sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga mba juga diberikan kesempatan untuk bisa melangkah ke Mekkah dan Madinah ya, mba. saya disini ikut bantu mendoakan..

      Delete
  8. Mashallah. .Moga bisa kembali kesana ya kak. Dan moga wabah virus ini segera berakhir. Aamiinn

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminn, semoga kita semua selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT..

      Delete