Jangan Berlebihan: Konsep Filsafat dan Ummatan Wasathan

By Khata S. Fluorida - March 24, 2020

konsep-filsafat-stoic-dan-ummathan-wasathan
 

Aslinya, aku ketika SD sampai lulus SMP itu orangnya heboh, banyak bicara dan banyak tertawa. Apalagi dalam perjalanan yang jauh-jauh, biasanya kerjaanku bicara terus. Kalau sudah begini, ku akhirnya selalu kena tegur ayah

"dek, jangan berlebihan" katanya. Tidak membentak, tapi sudah cukup membuatku ciut nyali dan diam duduk di kursi penumpang.

Waktu itu, aku tidak terlalu paham maksud ayah. aku cuma menyimpan kesal dalam hati, tapi ya ga berani ngomong. kan aku cuma tertawa, apa yang salah, pikirku. Semakin kesini, aku sudah tidak seheboh dulu. bisa dibilang saat ini aku jadi lebih kalem ke orang baru, tidak terlalu banyak bicara jika tidak terlalu penting, dan aku baru paham maksud "jangan berlebihan" yang dikatakan ayah saat itu tidak terbatas hanya pada sikapku yang cederung berlebihan, melainkan semua aspek dalam hidupku. "Cukup" adalah sebuah kata yang harus diterapkan oleh semua orang.

Terkait dengan cukup ini, aku menemukan sebuah gaya hidup seorang filsuf yang dinamakan : Filsafat Stoikisme atau istilah yang digunakan oleh Henry Manapiring, Filosofi teras. pada intinya konsep ini mengajarkan tentang hidup yang merasa cukup. tidak berlebihan dalam menanggapi segala sesuatu yang terjadi pada diri kita. jadi, ketika sedang bahagia kita tidak menanggapi dengan berlebihan, pun ketika bersedih kita tidak akan terlalu lama tenggelam dalam kesedihan. karena kita sudah menerima bahwa tidak semua hal dalam hidup ini dapat kita kendalikan. Stoikisme mengajarkan kita untuk hidup dengan seimbang.

Selanjutnya lagi, aku kemudian menghubungkan jangan berlebihan ini kedalam sebuah konsep islam, yang sering kali disebut dengan konsep Ummatan Wasathan. konsep ini adalah menjelaskan dimana posisi seorang muslim seharusnya. Selama ini, aku fikir sebagai seorang muslim aku harus selalu condong ke kanan. jadi aku selalu menganggap kanan adalah arah yang sakral. aku memandang negatif segala yang berlawanan denganku. sampai ketika aku menyadari, kalau yang terbaik bukanlah yang condong ke kanan ataupun yang ke kiri, melainkan yang berada di tengah-tengah. Umat pertengahan, itulah yang dikatakan oleh konsep ini. Kita hanya perlu menjadi berimbang, menjadi umat yang adil dalam setiap perkara. Aku juga menyadari kalau dengan konsep wasathan-pertengahan-moderat ataupun seimbang ini, kita akan dapat melihat dengan berbagai sudut padang, sehingga dapat menilai dengan lebih bijaksana serta tidak berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Aku menyadari benar kalau inilah posisi para Nabi saat kemudian menyebarkan pesan kebaikan, sehingga pesannya dapat diterima oleh kaum kanan maupun yang kiri.

Ajaibnya, semua hal yang ada dalam hidupku menjadi lebih jelas ketika aku menyadari hal ini. Aku jadi terbebas dengan segala pemikiran-pemikiran yang membebaniku selama ini,untuk selalu jadi kanan. Aku tidak perlu menjadi kanan. Aku hanya perlu menjadi yang seimbang. Walaupun aku tidak akan bisa seutuhnya berada di tengah, at least aku mencoba.

Semoga kita semua menemukan kedamaian di dalam diri kita.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments