Apa yang Virus Corona Ajarkan Padaku

By Khata S. Fluorida - March 30, 2020

apa yang virus corona ajarkan kepadaku
Image by PIRO4D from Pixabay


Ini adalah hari ke empat belas semenjak aku mengisolasi diri. Jelas sekarang kondisiku sudah lebih tenang dan bodo amat jika dibandingkan dengan dua minggu yang lalu. Waktu itu, aku sudah memikirkan banyak skenario terburuk dari munculnya pandemi ini, dan skenario itu berputar-putar terus di otakku. Belum lagi kondisiku yang sedang berada di perantauan, kondisi indekosku sepi, karena teman-temanku banyak yang memutuskan untuk pulang. Aku juga sudah panik dan ingin segera pulang waktu itu.

But, here i am now.

Duduk di depan laptopku sambil minum jahe hangat dan berselimut karena disini dingin sekali. Menuliskan ini di tengah malam karena waktu tidurku sudah sangat kacau akibat social distancing, uhm, tidak juga, sebenarnya pola tidurku kacau gara-gara skripsi. Selain meminimalisir rasa bosanku, mungkin bisa menularkan pikiran bodo amatku ke kalian semua. Aku sudah berdamai dengan prospek lebaran di kampung orang. Aku juga sudah muak dengan banyaknya berita aneh-aneh yang bikin aku parno, lebih baik menceritakan hal-hal positif yang aku dapatkan dari pandemi ini, kan?

1. Tenang, Jangan Panik
Rancho dalam film 3 Idiots pernah bilang 'all is well' dan aku akan mengatakan itu juga kepada kalian para pembaca. Percayalah, semua ini akan baik-baik saja. Faktanya, panik berlebihanlah yang membuat situasi kita jadi semakin rumit. Kalian tentu memahami bahwa ketika ada satu orang panik yang berlari dan berteriak-teriak, meskipun tidak mengetahui konteksnya, orang-orang yang berada di sekitar orang tersebut dan menyaksikan itu akan ikut panik dan ikut lari juga padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ditakutkan. Itu akan menyebabkan kepanikan kolektif dan kenyataannya, kepanikan kolektif adalah hal yang sangat berbahaya dan jelas mematikan. Bayangkan, di Italia, ada 10.000 orang panik yang pulang kerumahnya masing-masing dan menyebabkan meluasnya penyebaran virus. Dengan kata lain, virus itu menyebar karena orang-orang panik. Virus tidak akan menyebar kalau kita semua bisa tenang, yang dapat mengerjakan pekerjaannya dirumah maka lakukan dengan maksimal. Sedangkan yang harus keluar, ya lakukan juga dengan tindakan pencegahan. intinya, lakukan saja pekerjaanmu. all is well, kalau kita semua tenang dan saling membantu dalam menghadapi peristiwa ini.

Kalau kamu tenang, orang-orang di sekitarmu juga akan tenang. Ketenangan kolektif tentu jauh lebih baik daripada kepanikan kolektif, kan?

2. Jaga Kebersihan
Semenjak virus ini muncul dan booming di Indonesia, aku jadi suka nyanyi sambil mencuci tangan.

Selamat ulang tahun
selamat ulang tahun
bahagia sejahtera,
selamat ulang tahun

diulang dua kali.

Anjurannya adalah mencuci tangan selama 20 detik dan menggosok seluruh bagian tangan dengan benar. Lagu adalah patokan waktu sekaligus sarana hiburan. Kadang-kadang aku iseng nyanyi dengan lagu Korea.

Bukan hanya itu, aku jadi rajin membersihkan kamar kos. rajin mendesinfektan, dan juga aku jadi lebih teredukasi tentang kebersihan lingkungan sekitar. Sebelumnya sebenarnya aku sudah tergolong rajin membersihkan benda-benda yang sering aku sentuh, karena aku alergi debu. Aku sebenarnya juga sudah menyiapkan alkohol di kosan bahkan sebelum adanya Corona. Namun, kali ini aku memahami kalau Bayclin dapat menjadi desinfektan juga, walaupun memiliki resiko kesehatan tersendiri. Aku juga jadi memahami kalau cairan desinfektan seperti wipol dan bayclin seharusnya tidak boleh mengenai kulit atau terhirup, jadi ketika menggunakan itu lebih baik menggunakan masker. Hal-hal inilah yang membuatku sadar kalau aku jadi lebih memahami tentang kebersihan setelah adanya Corona.

3. Hubungan Sosial itu Penting
Selama masa social distancing aku jadi menghubungi banyak orang, dengan chattingan, video call dan telepon. Aku jadi menghubungi teman-teman lamaku lagi. Ternyata asik mengetahui kabar-kabar mereka setelah sekian lama, karena kebetulan, aku juga tidak bermain instagram, padahal banyak dari temanku memperbaharui kabarnya melalui sosial media itu. Jadi aku baru mengetahui banyak hal tentang mereka ketika menghubungi mereka kembali.

4. Edukasi Tidak Boleh Berhenti di Aku
Aku memahami dalam kondisi seperti ini, aku tidak bisa pintar sendiri. Karena sekalipun aku sangat paham dan teredukasi, apabila orang-orang terdekatku tidak mengerti, ya aku juga tetap akan beresiko tertular dari mereka. oleh sebab itu pemberian edukasi kepada orang-orang terdekatku menjadi sangat penting untuk memutus rantai penyebaran dan menghilangkan kepanikan. Kalau aku bisa memberikan edukasi kepada mereka, maka mereka juga dapat mengedukasi orang-orang di sekitar mereka. Ini dapat mencegah kepanikan sekaligus dapat memutus rantai penularan.

5. Mitigasi Bencana
semester yang lalu aku belajar tentang mitigasi bencana, tapi sekarang ini aku belajar jauh lebih banyak daripada semester lalu. aku benar-benar mempelajari bagaimana pemeritah membuat kebijakan, perbandingannya dengan negara lain, dan skenario-skenario yang akan dilakukan. Ini membuatku belajar banyak dan kedepannya dapat aku terapkan pula dalam perencanaan hidupku.

Mungkin skenario terjadinya sebuah pandemi dan apa yang harus aku lakukan harus masuk dalam rencana hidupku kelak.

6. Agamaku Tidak Saklek
Selama ini aku memang memahami agamaku sebagai agama yang kontekstual, jadi agamaku memang ibadahnya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. salah satunya adalah kalimat azan yang viral belakangan, dimana kalimatnya berubah menjadi anjuran untuk shalat dirumah. Belum lagi dengan fatwa-fatwa baik dari MUI ataupun dari ustaz yang menyerukan kita untuk shalat dirumah. Masih banyak hal seputar agamaku yang baru aku tau setelah adanya virus ini. dari hal ini, yang aku pelajjari adalah memang agamaku tidak sekaku perkiraanku sebelumnya. Malah, sebenarnya agamaku sangat memudahkan pemeluknya untuk melaksanakan ibadah.

7. Membaca berita berlebihan itu tidak baik
Aku telah menetapkan jadwal pada diriku, kalau aku boleh membaca berita pukul 16.30 WIB. Pukul 16.30 adalah waktu dimana pemerintah memperbaharui informasi seputar virus ini khususnya soal statistik orang yang terjangkit, yang sembuh, serta yang berpulang. Pada jam ini aku memberikan diriku sendiri 30 menit untuk mencari tahu kabar terbaru seputar virus ini. karena bagaimanapun, aku harus tetap memperbaharui informasi yang aku punya untuk berjaga-jaga.

Agar aku tidak mencari tanpa arah, aku menetapkan ada 4 kata kunci yang akan aku cari setiap hari, Aku selalu mencari kata corona diikuti dengan nama daerah yang aku ingin tahu kabar terbarunya. Daerah ini adalah lokasi-lokasi yang aku khawatirkan dan terdapat orang-orang yang aku sayangi disana. lalu untuk menyaring informasi lagi, aku membuat waktu penelusuranku menjadi terbatas hanya pada satu jam terakhir. jadi informasi yang aku dapatkan hanyalah informasi paling baru seputar virus corona. Cara ini mengurangi ke khawatiranku, karena aku tidak perlu takut berlebihan dalam mengonsumsi berita, di satu sisi aku juga tetap dapat terus memperbaharui informasi seputar virus tersebut.

8. Menyaring Informasi yang Masuk ke Pikiranku
Kalau yang ini bukan anjuran lagi, tapi kewajiban. Sekarang ini banyak sekali informasi yang diberikan orang-orang, ada yang benar, tapi banyak yang salah. yang terbaik sebenarnya sekarang ini mengurangi konsumsi kita terhadap berita, karena berita juga belum tentu benar. Aku merasakan sekali sakit kepala dua minggu yang lalu akibat kebanyakan membaca berita dan itu malah menambah keparnoanku. Akhirnya aku memutuskan untuk menjadwal saja dan itu lebih baik ketimbang sejam sekali membaca berita.


9. Takut Muncul Pada Sesuatu yang Tidak Kita Pahami.
Aku menyadari, sekarang ini kita semua sedang takut, dan itu normal. Tapi, ingatlah, satu-satunya yang dapat kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Jadi, kendalikan ketakutanmu dengan pahami kondisi yang terjadi saat ini. jangan membaca pendapat orang-orang yang ada di sosial media. edukasi dirimu, buat rencana-rencana kedepannya, lakukan tindakan pencegahan semaksimal mungkin, persiapkan bahan makanan yang cukup tapi tidak berlebihan, tetap melakukan jarak fisik dan berdoa yang terbaik kepada tuhan. Semoga setelah melakukan semua hal itu, kamu akan menjadi lebih tenang dan siap untuk menjalani ini semua.

10. Percaya Hanya Kepada Ahlinya.
Aku setuju sekali dengan apa yang dikatakan Panji Pragiwaksono dalam videonya beberapa hari yang lalu yang mengatakan

"aneh ya, orang pada nanya pendapat gue tentang corona, lah gue kan pelawak"

Kalimat itu relate sekali dengan kondisi saat ini.

Aku sangat menyadari, sekarang ini, semua orang sedang berteriak-teriak di sosial media menyatakan pendapatnya. Ada yang menenangkan, tapi lebih banyak yang sesungguhnya membuat resah dan mengancam rusuh. Yang buat aku makin merasa aneh, kadang orang yang berteriak itu mengungkapkan pendapat tanpa landasan. Dia bahkan mengomentari hal-hal yang bukan menjadi keahliannya. Dan banyak orang berpatokan pada pendapat orang tersebut. Padahal, kita diajari untuk mempercayai orang-orang yang bicara sesuai dengan keahliannya. sedangkan orang-orang yang bicara sesuai dengan bidang keahliannya saja belum tentu dapat kita percayai.

Makanya, mulai dari sekarang aku berhenti untuk mempercayai tulisan-tulisan ilmiah di sosial media karena peluang kebenaran kata-katanya adalah 50:50. Masih lebih aman apabila aku mempercayai orang-orang yang jelas ahli dan kredibel di bidangnya.

Sebagai contoh, untuk masalah agama, aku berpatokan pada dua Ustaz yang sering punya dua pendapat yang berbeda tapi kedua pendapatnya menurutku punya landasan, serta latar belakang mereka yang tidak aku ragukan, yaitu Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Quraish Shihab. Sedangkan untuk prediksi penyebaran Corona, aku berpatokan kepada Michael Levitt, yang mengungkapkan kalau Pandemi ini akan berakhir tidak lama lagi. Landasanku mempercayai beliau adalah dia sudah dikenal sebagai seorang penerima nobel, dan prediksinya sebelumnya di China sangat akurat. Jadi aku mempercayai prediksi dari ilmuan ini.

11. Bumi Punya Mekanisme Keseimbangannya Sendiri. 
Kehidupan itu punya siklus sendiri. Bumi juga. Siklus itu sesungguhnya terus berulang dan menjadi penyeimbang alam semesta. seperti terjadinya wabah besar setiap 100 tahun sekali. aku mempercayai bumi mempunyai cara sendiri untuk menyeimbangkan dirinya kembali. Selayaknya hidup kita juga, sesungguhnya tiap dari kita mempunyai siklus hidup, kan? kadang diatas, kadang dibawah. Kita bisa melewati ini semua. Asal tetap tenang dan senantiasa berdoa kepada Tuhan. Semoga kita bisa melewati ini semua.




  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. membaca berlebihan itu tak baik, ini benar sekali, akdang malah bikin parno

    ReplyDelete
  2. Masya Allah, banyak juga pelajaran yang corona kasih ya ternyata. Terutama soal kebersihan, sekarang merasa lebih aware

    ReplyDelete