Aku Menghapus Instagram

By Khata S. Fluorida - January 08, 2020


Media sosial Instagram minimalism

"Simplicity is the ultimate sophistication."
Tahun 2019, aku membuat banyak perubahan besar dalam hidupku. Salah satunya adalah dengan mendalami konsep Stoicism serta memahami konsep dari minimalism. Semenjak mulai mempelajari keduanya, aku mengalami perubahan pola pikir yang sangat amat signifikan. Adapun salah satu konsep yang berhasil ku adopsi dari keduanya adalah, digital minimalism.
Digital minimalism adalah sebuah konsep untuk mereduksi hal-hal yang kita lihat atau kita simpan di dunia digital. Sebenarnya konsepnya mirip-mirip dengan konsep living with less thing-nya Marie Kondo. Semakin banyak benda yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang perlu dipikirkan, kita jadi akan lebih mudah untuk stress.

Itulah saat pertama dimana aku mulai memikirkan untuk mereduksi dataku dalam dunia digital. Tapi, itu cuma awal. selanjutnya aku menemukan banyak hal yang membuat aku kemudian akhirnya untuk menutup banyak akunku di internet. Hal ini sangat mempengaruhi perspektifku dalam melihat dunia.

1. Digital Minimalism
ini salah satu faktor terbesarku dalam menghapus instagram. Belakangan aku sedang menggandrungi youtuber-youtuber yang bicara soal produktivitas. dan mereka seringkali membahas tentang minimalism. salah satu cabang dari minimalism adalah digital minimalism. Tidak jauh berbeda dengan minimalisme ala Marie Kondo lah, tapi ini bersoal tentang data dan apa yang kita gunakan di internet. Masih ada tips-tips digital minimalism lainnya seperti menghapus akun, menghapus dan mengorganisir foto-foto, mengatur waktu penggunaan social media, dll. kapan-kapan akan aku bahas di blog ini.

Kemudian menghapus instagram adalah salah satu upayaku menjalankan digital minimalism ini, dengan menghapus aplikasi-aplikasi yang tidak terlalu dibutuhkan maupun tidak membawa kebahagiaan yang cukup banyak dalam hidupku. Perlu diketahui kalau aku berani menghapus instagramku karena aku memang tidak memiliki kepentingan apapun di instagram selain karena ingin terkoneksi saja dengan teman-temanku (tadinya). Dengan kata lain, instagramku sepenuhnya digunakan untuk hal-hal yang pribadi. apabila kamu memiliki bisnis, atau menjadi influencer, atau kamu merasa bisa memberikan dampak baik dan nyaman menggunakan instagram, feel free to keep the app. Minimalism is about choice, jadi ketika kamu menghapus instagram, tidak ada alasan yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. kamu yang harus menghadapi resikonya sendiri. Jadi, bijak-bijaklah.

2. Data Security
Sebenarnya aku adalah tipikal orang yang sangat overthingking terkhususnya soal data security. Tapi sebelumnya aku tidak terlalu mendalami tentang hal ini walaupun tau beberapa hal khususnya setelah nonton film Jerman yang berjudul Who Am I: No System is Safe. Film itu bercerita mengenai pembobolan sistem oleh sekelompok hacker profesional. Inilah salah satu pemicuku untuk mengurangi dataku dalam dunia digital.

selanjutnya, aku mendapat perspektif baru tentang dataku di internet melalui buku The Power of Habit karya Charles Duhigg dan Everybody Lies karya Seth Stephen-Davidowitz.

Di buku The Power of Habit, dalam satu ceritanya menjelaskan bahwa toko-toko di waktu sebelum internet hype menggunakan data kita untuk kemudian mencari tahu siapa pelanggan yang sedang hamil. Kenapa? Pelanggan yang sedang hamil adalah tambang emas bagi pengusaha. Pelanggan yang sedang hamil, karena banyaknya hal baru yang mereka jalani, jadi cederung menoleransi diri mereka untuk membeli banyak hal-hal baru yang bisa memudahkan hidupnya. darimana datanya? dari kartu member atau kredit card pelanggannya. beberapa perusahaan membeli data-data tersebut untuk mempelajari algoritmanya.

Sedangkan dalam buku Everybody Lies, penulisnya mencoba menceritakan tentang hal-hal yang internet ketahui tentang kita. bisa dibilang, jika internet sebenarnya lebih mengenali kita daripada diri kita sendiri. Kenapa? kita menanyakan-menuliskan-menceritakan hal-hal bahkan tidak bisa kita ceritakan pada orang lain di internet. kita menanyakan hal-hal yang mengganggu pikiran pada saat itu, dan itu segera menjadi algoritma spesifik mengenai diri kita yang disimpan oleh mereka.

jadi, sekarang, apa hubungannya dengan Data Security? Di masa sekarang,semudah itu orang-orang menemukan data yang bersifat privasi seorang individu. Untuk hacker profesional, mencuri data-data kita adalah semudah login ke facebook. Aku saja yang remah-remah ini bisa membobol akun orang dengan beberapa trik. Facebook saja bisa dibobol. yah, begitulah, no system is safe. prepare yourself that sometimes kita gak tau apakah aplikasi yang kita percaya itu benar-benar bisa dipercaya atautidak. ya sekarang juga mungkin kita cuma orang biasa, tapi siapa tau di masa depan kita menjadi seseorang, maka aktivitas apapun yang kemudian kita lakukan di internet akan menjadi algoritma, petunjuk mengenai diri kita, yang bisa dijadikan senjata untuk menyerang diri kita, kan? lagi, bijak-bijaklah bersosial media.

3. Mental Health
Sebuah penelitian yang melibatkan 1.479 orang berumur 14-24 untuk menilai sosial media yang populer dengan 14 kriteria yaitu kecemasan, kesepian, perundungan, dan body image menobatkan Instagram sebagai aplikasi yang paling buruk untuk kesehaan mental, selain snapchat, facebook, twitter dan youtube.

Instagram adala aplikasi yang paling banyak memberikan dampak negatif pada mentalku. aku juga tidak tahu sebab pastinya, tapi selalu saja, ketika membuka instagram dan melihat foto orang lain, aku merasa iri. Rasanya berbeda sekali saat aku bertemu orangnya langsung dan mendengar cerita yang sama, aku merasa dapat menghasilkan emosi yang lebih positif jika dibandingkan dengan melihatnya melalui instagram. sebenarnya aku sudah mengurangi banyak sekali waktuku dalam menggunakan instagram. Bahkan aku sudah setahun ini menghapus aplikasi instagram dari smartphoneku, jadi aku tidak kecanduan untuk membukanya. tapi tetap saja, ketika aku mulai membukanya tetap saja hasrat untuk scrolling tidak hilang dan aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling saja. Bagiku pribadi, segala hal yang bersifat candu, adalah tidak baik.

4. Privasi
 Alasan terakhir, aku merasa tidak terlalu penting saja membagikan kehidupan pribadiku ke orang-orang. Biar kenikmatannya maksimal, kehidupan pribadi itu biarlah dinikmati sendiri. Masalahnya, kalau aku mempunyai akun instagram, aku selalu mempunyai dorongan untuk membagikan kehidupan pribadiku. dimana aku makan, siapa saja anggota keluargaku, moodku pada hari itu dan aku merasa itu tidak terlalu baik untuk hidupku secara keeluruhan. makanya aku memutuskan unttuk menghilangkan pemicunya.

Pada akhirnya, saat aku memutuskan untuk menghapus akun instagramku sepenuhnya, terasa seperti beban berat terangkat dari pundakku. Aku merasa lega, dan bisa fokus kepada hal-hal lain yang lebih penting lagi daripada scroling di instagram. Aku bisa bertemu dengan orang-orang yang aku senangi di dunia nyata, langsung mendengarkan ceritanya, menimbulkan emosi yang positif dan menyenangkan.

Hidupku terasa lebih indah.

Nah, begitulah ceritaku. Bagaimana? pilihan selalu ada di tanganmu. Yang terbaik tetap cuma kamu yang tau. selamat memilih.

  • Share:

You Might Also Like

4 comments

  1. Dulu saya pernah ngerasa begitu. Dunia maya dan dunia nyata gak seimbang. Sekarang, dengan sambil memperbanyak interaksi dengan manusia sungguhan, bikin saya merasa dunia maya bisa jadi tools saya dalam dunia nyata. Jadi, bukan dunia maya yang nyetir, tapi tetep di dunia nyata semua kendalinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa bener banget, makanya memang harus dirombak dan diatur sedemikian rupa, supaya ngga jadi budak dunia maya.

      Delete
  2. Detoks sosial media itu sbnrnya ngaruh banget siih. Aku jujurnya blm bisa lepas mba dr sosmed, terutama IG, FB. Twitter aku udh bye :p. Tapi 2 sosmed di atas msh butuh.

    Tp aku pernah ngerasain seminggu ga bisa akses samasekali ke aplikasi apapun, Krn saat itu sedang di Korea Utara. Dan di sana turis haram hukumnya Terkoneksi internet :p. Jd seminggu blaaasss aku ga bisa wa, ga bisa buka Ig, FB, email, terputus dr kluarga, kantor temen2, apapun ga bisa. Rasanya???? Gilaaa sih, seneeeng bangetttttttt hahahaha.

    Aku ga mikir jumlah likes, ga mikir urusan kantor rumah, ga pusing Ama ocehan bos, daaaaan, aku bisa akrab banget Ama peserta2 trip yg lain. Ya Krn kita ga bisa terkoneksi Ama dunia luar. Mau ga mau jd akrab, ngobrol tanpa dikit2 liat hp. Aku kangen banget kayak GT lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren banget bisa ke Korea Utara. Pengen jugaaa tapi takutt juga soalnya banyak gosip seremnya sih disana XD. Tapi seru ya jadi bisa ngerasain ga buka sosial media. Saya sendiri masih ada sosial media lainnya, tapi memang instagram yg saya hapus benar-benar memeberikan kebahagiaan sendiri bagi jiwa saya, haha.

      Delete