Apa yang aku pelajari di usia 22

By Khata S. Fluorida - January 10, 2020

apa yang aku pelajari di usia 22
Foto oleh Marta/M

Dewasa adalah akumulasi dari pengalaman hidup yang telah dialami, yang baik ataupun buruk. Semuanya menjadi sebuah big data yang bisa diakses dan menentukan sikap kita dalam setiap pengalaman di masa depan. Beruntungnya, di masa kini, kita bisa mengetahui masalah lengkap dengan solusinya yang dituliskan oleh orang lain dan dapat kita pelajari sehingga kita bisa mengatasinya kelak kalau kita mengalami suatu kesalahan yang sama.

Kali ini aku akan memberikan perspektifku tentang apa saja yang kupelajari di usia ke dua puluh dua ini. Harapanku, setiap orang yang membaca ini bisa mendapatkan pelajaran dari kesalahan-kesalahanku sehingga hidup kalian akan jadi lebih baik. Akan lebih baik lagi jika kamu pembaca yang belum berusia dua puluh dua. Karena sepertinya orang yang telah berusia dua puluh dua atau telah melewatinya seharusnya sudah mengetahui hal-hal yang akan aku tuliskan di bawah ini.

1. Belajar bahasa mengubah perspektifku terhadap semua hal di dunia
Ini adalah pelajaran pertama yang aku dapat di usia ini. Layaknya game, belajar bahasa seperti mencoba unlock sebuah tempat baru, yang selalu ada disana tapi tidak aku ketahui sebelumnya. Belajar bahasa juga mengubah perspektifku dalam banyak hal, sampai aku merasa harus merombak ulang lagi semua mindset yang ada di kepalaku. Karena ketika aku belajar bahasa baru, aku dapat mengetahui aktivitas dari orang-orang yang menggunakan bahasa itu. Ketika aku melihat aktivitas mereka, aku sadari kalau ternyata setiap orang itu benar-benar berbeda hidupnya, yang satu bahasa saja bisa berbeda, apalagi yang beda. Bahkan sesederhana perbedaan bahwa kita, orang Indonesia makan nasi, dan orang lain tidak, itu merubah perspektifku pula, karena selama ini aku selalu berpikir kalau aku tidak bisa hidup tanpa nasi. Waktu aku kecil, ada seloroh yang selalu dikatakan di sekitarku "sama-sama makan nasinya, tapi kok dia bisa lebih pintar ya?" ketika melihat seseorang yang berpendidikan tinggi di TV. Sekarang aku menyadari, kalau kenyataannya mungkin saja orang itu ternyata tidak makan nasi. Semua hal itu baru kusadari setelah belajar bahasa.


2. Berfokus pada hal-hal yang bisa diubah
 Dulu aku termakan kata-kata motivator, kalau "semua hal bisa diubah asal punya niat! kamu bisa  . menjadi apa saja!" jadi aku cederung memaksakan diriku untuk menjadi semua yang aku mau.

Semenjak aku makin dewasa, aku menyadari, tidak semua hal di dunia ini bisa kita ubah. Ada beberapa hal yang memang sejak awal kamu sudah ditakdirkan begitu. Seperti ada orang yang ditakdirkan untuk mempunyai IQ yang tinggi, maka kemungkinan dia akan bisa jadi lebih maju daripada orang lainnya. Ada orang yang tidak terlalu pintar tapi memiliki keluarga yang kaya, maka setidaknya dia akan punya jalan dari lingkungannya untuk menjadi kaya juga. Ada orang yang terlahir miskin, ibunya seorang tuna susila, maka kemungkinan besar dia akan menjalani hidup yang seperti itu pula walaupun dia tidak ingin melakukannya.

Setiap dari kita punya cerita masing-masing.

Tapi, bukan hal itu poinnya. Apa yang ingin aku sampaikan adalah, memang ada hal-hal yang tidak bisa kita rubah. Tetapi sebagian besar dari kalian para pembaca, yang telah tahan membaca tulisan sampai ke paragraf ini walaupun merasa sedikit bosan, aku meyakini kalian mempunyai priviledge tertentu untuk bisa sampai disini. Itu artinya, tidak semua hal bisa berubah. Tetapi, ada beberapa orang yang memiliki keistimewaan tertentu, yang kemungkinan mempunyai kompetensi untuk merubah beberapa hal. Maka tugas kitalah untuk merubah itu.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan pencarian. Kita tidak bisa menjadi apa saja yang kita mau, tapi kita bisa mencari hal yang benar-benar menjadi takdir kita, peran kita di dunia. Maka, daripada berpikir bahwa semua hal bisa berubah, mulailah untuk mencoba segala macam hal. Lalu kamu akan menemui kalau kamu akan mengalami sangat banyak kegagalan sampai kamu merasa dirimu tidak ada gunanya. Nanti, suatu saat, pada akhirnya kamu akan berhenti di suatu tempat yang kamu rasa kamu bisa berada di tempat itu dalam waktu yang lama dalam kondisi apapun. Baik saat kamu sedang sedih ataupun sedang bahagia. Kamu sanggup berada di jalan itu. Nah, berarti itulah jalan hidupmu. berikan kemampuan terbaikmu di jalan itu, dan maksimalkan kebaikannya untuk orang-orang banyak. Semoga, hidupmu akan selalu diberkahi.

3. Mengenal diri sendiri sangat penting
Aku menjalani 20 tahun hidupku dengan mencoba mengenali orang lain, sampai akhirnya aku sadar kalau sesungguhnya aku hanya bisa benar-benar mengenali diriku sendiri. Jadi, mulai saat itu, aku memberikan effort yang cukup besar untuk merenungi hidupku, mencoba banyak hal baru, orang baru, dan melihat responku terhadap hal-hal baru tersebut. Hampir sebagian besar hal yang kulakukan akhirnya gagal, tetapi bukan gagal namanya jika tidak ada pelajaran di baliknya. Aku akhirnya dapat melihat diriku dengan lebih baik, lebih utuh dari sebelumnya. Hal yang paling menyenangkan dari ini semua adalah, ketika aku mengenali diriku sendiri, aku jadi lebih tenang dan nyaman, karena aku sudah mengetahui respon-respon apa yang akan aku buat ketika menghadapi suatu masalah dan bagaimana cara mencegahnya. Mengenali diriku sendiri juga membuat rencanaku untuk masa depan menjadi lebih baik dan lebih masuk akal, karena aku menjadikan karakter diriku, kelebihan dan kekurangannya sebagai pertimbangan, sehingga aku tidak merencankan sesuatu yang tidak bisa kukerjakan.


4. Menulis membantuku mengenali diriku

Kalau kamu penggemar buku Harry Potter, kamu pasti mengetahui Pensieve, bejana kecil yang berisi air dan dapat menyimpan pikiran penyihir. Aku mengibaratkan menulis seperti memasukkan pikiran kedalam pensieve. Terkadang kita punya sangat banyak ide dan kenangan yang berputar-putar di dalam pikiran, membuat kita menjadi pusing dan bingung untuk menentukan tujuan. Apalagi, bisa jadi pikiran itu bisa hilang kapan saja. Menulis membantu untuk melihat segala sesuatu yang dipikirkan dengan cara yang lebih sederhana. Ada banyak momen ketika aku merasa terlalu banyak beban di dalam pikiran, dan ketika mulai menuliskannya, ternyata hal itu tidak sebanyak yang aku pikirkan pada awalnya. Menulis dan mencoret-coret juga membantuku untuk membuat kronologi masalah, sehingga aku bisa merunut dan menemukan solusinya. Satu lagi, dengan menulis, kita meringankan beban pikiran karena tidak wajib lagi untuk mengingatnya, namun jika tiba-tiba kita ingin membacanya lagi, ingatan dan suasananya bisa kita akses kembali melalui tulisan kita.
 
5. Mengelola ekspektasi
Aku cederung mudah kagum dengan orang yang hidupnya terlihat sempurna. Sehingga ekspektasiku sangat tinggi terhadap mereka. Aku mengasumsikan kalau hidup mereka pasti tidak ada cela, dan memosisikan diriku jauh sekali dibawah mereka. Sebaliknya, kepada orang-orang yang tidak berpunya, aku kasihan dan memandang rendah mereka walaupun aku tidak menginginkannya.

Tapi itu dulu, sekarang aku memosisikan diriku sejajar saja baik dengan orang yang terlihat sempurna atau tidak berpunya. Kenyataannya, kita, manusia, dilahirkan pasti sepaket dengan kelebihan dan kekurangan. Aku malah jauh lebih takut sekarang kepada orang yang terlihat amat sangat sempurna dari luar, karena bisa jadi, jika dia terlihat sangat sempurna, maka kekurangannya adalah sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Pada akhirnya kita mempunyai masalah kita masing-masing, dan berat tidaknya masalah itu telah disesuaikan dengan pengalaman dan kesanggupan kita.

Maka dari itu, aku juga tidak mau lagi memandang rendah ataupun menatap kasihan orang yang tidak berpunya, karena bisa saja sebenarnya kelebihannya adalah sesuatu yang tidak pernah bisa aku capai, dan tidak terlihat oleh mata. Daripada menatap kasihan, aku lebih menatap kagum, karena mereka sesungguhnya lebih tegar daripada aku dalam menjalani kehidupan. Membantu mereka tidak berarti aku lebih hebat dari mereka. Membantu mereka adalah pertolonganku terhadap diriku sendiri, sebagai pembersih hartaku. Karena bisa saja sebagian rezekiku ternyata adalah rezeki mereka.

Jadi, sekarang, instead of melihat manusia sebagai orang kaya atau orang miskin, orang jahat atau orang baik, aku lebih melihat manusia sebagai manusia.

6. Timbal balik
"There is no free lunch" 

Kata-kata itu sungguh sangat tepat untuk menggambarkan dunia ini. Bagiku, tidak ada di dunia ini yang sepenuhnya pamrih. kita semua pasti mengharap balasan sesuatu dari hal yang kita kerjakan. Bahkan, sebenarnya mengharap pahala saja adalah upaya kita dalam meminta timbal balik dari perbuatan kita, kan? Tapi dulu aku tidak berpikir begitu. Aku cederung melihat dunia ini lurus-lurus saja. Kalau orang berbuat baik ya memang karena dia ingin berbuat baik. Ternyata seminimalnya, kalaupun dia tidak ingin dibalas perbuatan baiknya kepada dirinya kembali, mungkin dia ingin kita untuk membalas perbuatan baiknya melalui orang lain. Jadi, sebagai timbal balik terhadap perbuatan baiknya, kita mesti berbuat baik terhadap orang yang kita temui.

Begitulah sekarang aku menjalani hidup, segala sesuatu harus ada timbal baliknya kembali. Jadi aku berusaha untuk memberikan timbal balik terhadap apapun yang aku terima.

7. Adaptasi
Orang yang keras kepala, itulah kira-kira kata yang cocok disematkan kepadaku. Sesungguhnya aku tidak ingin repot-repot untuk beradaptasi, aku ingin menjalani hidup sesuai dengan hidupku saat ini. Tetapi semakin dewasa, aku menyadari kalau dunia berubah, begitupun aku, harus selalu beradaptasi. Dengan kondisi tubuhku saja aku harus beradaptasi setiap hari. Dengan hidup pun begitu. Yang paling benar adalah, cara hidup, lingkungan,  gaya, ilmu-ilmu, yang aku pelajari akan tetap berubah dan aku akan selalu beradaptasi dengannya. Tapi, nilai-nilai serta prinsip hiduplah yang harus aku pegang sepenuhnya, tidak dapat diganti sampai kapanpun. Dengan begitu, aku jadi manusia yang berintegritas tapi tetap dapat beradaptasi pada kondisi tanpa harus melepaskan nilai dan prinsip yang aku yakini.

8. Selalu melihat dari dua sisi
Dunia selalu berpusat kepadaku, kebenaran berada di otakku. Orang lain semuanya salah. orang-orang harus melihat dari sudut pandangku biar mereka jadi benar. Jelas deskripsi ini adalah pandangan yang sangat egois dan tidak masuk akal. Setiap orang punya pengalaman dan lingkungan berbeda yang membentuk mereka menjadi seperti ssekarang ini, termasuk pula aku dan kamu. Jadi, dalam kehidupan, kita mungkin selalu mencari kebenaran dan kadang sudah berada dekat dengannya, tapi tidak ada seorang pun yang tahu itu terjadi karena yang mengetahuinya  dan mempunyainya sesungguhnya hanyalah Tuhan. Tugas kita mendekati kebenaran saja, bukannya menjadi kebenaran yang mutlak. Begitu pula dalam menilai suatu kondisi. Lihatlah dari dua sisi, lihatlah melalui sepatu sang lawan bicara, pertimbangkan dengan baik, lalu putuskan mana yang paling mendekati kebenaran.

9. Jangan berlebihan
Scrolling Instagram berjam-jam sampai lupa makan, mencintai seseorang seolah dunia akan runtuh jika dirinya tak ada. Bukan begitu cara kerja dunia. Dunia itu terdiri dari beberapa aspek, yang setiap aspeknya itu dijalani dengan secukupnya. Tidak lebih, tidak kurang. Cukup adalah kata yang lebih baik, karena ia menyatakan keseimbangan. Dia berada di tengah, yang mana dunia ini adalah suatu keseimbangan. Dalam hidup juga, berusaha untuk jadi seimbang adalah yang lebih penting. Bekerja secukupnya, makan secukupnya, berdandan secukupnya. Gambarkan diri sebagai orang yang tidak terlalu cantik tapi tidak terlalu jelek juga. Maka semoga hati akan jadi lebih damai dan hidup akan jadi lebih indah.

10. Pola hidup sehat
Aku sudah mulai mengalami banyak kerugian akibat pola hidup yang kujalani di masa lalu. Berkaca pada hal itu, aku memutuskan untuk mulai memakan makanan sehat, untuk mulai berolahraga, untuk merawat tubuhku dengan sebaik-baiknya. Lagian, kalau ingin jadi orang yang bermanfaat, maka aku harus sehat, supaya tubuhku bisa digunakan untuk hal-hal yang berguna. Mungkin efeknya belum akan terasa di masa sekarang, namun di dalam pikiranku, aku membayangkan diriku yang lebih sehat di masa depan jadi kemudian aku dapat memberikan kebermanfaatan yang maksimal bagi orang-orang disekitarku.

11. Jangan menjadi gelas yang penuh
Seringkali dalam suatu diskusi, aku merasa dirikulah yang paling benar. Padahal dunia tidak berjalan seperti itu. Kebenaran ilmu sebenarnya relatif sesuai dengan kondisi dan pengalaman seseorang. Bahkan, ilmu pengetahuan juga terus berkembang. Dulu orang meyakini bahwa bumi berbentuk datar, seiring dengan berjalannya waktu, ditemukan bahwa bumi itu buat.

Maka tugaskulah untuk selalu menguras gelasku ketika dia penuh, sehingga aku selalu bisa mempertimbangkan setiap perkataan orang lain. Karena belum tentu juga dia salah, sama halnya dengan belum tentu jika aku benar. Maka diskusi benar-benar bisa jadi jalan tengah. Apa yang ada di pikiranku kemudian melengkapi apa yang ada di dalam pikiran lawan diskusiku, sehingga akhirnya kami dapat menemukan jawaban yang paling mendekati benar. Dan aku bisa menerimanya, asalkan gelasku tidak penuh.

12. Berteman dengan banyak orang dapat membuka pikiran
Ada yang berpikir bahwa menghabiskan banyak waktu untuk belajar ilmu baru akan sukses. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Namun, belajar teori saja tidak cukup. Tidak masalah kalau memang kamu lahir dari keluarga kaya dan meskipun kamu tidak memiliki teman, tetapi koneksi orang tuamu atau lingkunganmu saat ini sudah cukup untuk membentuk karakter yang baik. Namun, dalam kasusku, nyatanya memperbanyak koneksi pertemanan juga menolongku dalam banyak hal. Mereka memberikan perspektif-perspektif baru, memberikan kesempatan, memberikan pertolongan, serta memberikan dukungan. Hal-hal ini yang kemudian membuka pikiran dan memudahkan hidup yang kita jalani, serta tentu saja menjadikan kita sebagai seseorang yang lebih berimbang dan punya banyak perspektif dalam hidup, lalu kita akan menjadi manusia yang tidak akan mudah menilai sesuatu hanya sebagaimana tampaknya saja.

Jika dihubungkan dengan statistika, maka semakin banyak teman sesungguhnya makin baik. Jika kita memiliki sedikit teman, mungkin kita akan berharap banyak kepada mereka dan jika mereka menghianati, maka kita akan sangat kecewa karena kepercayaan kita serahkan sepenuhnya kepada mereka.

13. Jangan menunda!
Ini hal yang sangat krusial. Ketika kamu meniatkan sesuatu. Maka mulailah sekarang, bukan besok, bukan tanggal satu, bukan nanti, tapi sekarang. Karena semangat, niat, dan ide kita belum tentu sama besok dan hari ini. Kalau memulai sekarang, itu membuat tugasnya terasa jauh lebih mudah dan memberikan kepuasan kepada diri sendiri.

14. Bukan gagal namanya jika tidak ada pelajaran dibaliknya.
Orang-orang yang menjadi orang besar mungkin mengalami lebih banyak kegagalan daripada diriku sendiri. Dulu aku merasa cerita yang menyatakan bahwa Thomas Alfa Edison gagal lebih dari 1000 kali adalah bualan, sampai ketika aku sadar mungkin itu ada benarnya. Kenyataannya, dari 100 kegagalan, mungkin hanya akan terjadi satu keberhasilan. Satu keberhasilan dari seseorang lah yang kemudian menjadikan dia sebagai orang yang besar. Lalu, orang-orang hanya mengetahui satu keberhasilannya saja, tanpa ingin repot-repot mempelajari kegagalannya pula. Jadi, jangan terlalu berlebihan menanggapi kegagalan. Semua orang gagal, dan itu hal biasa. Yang penting kamu mendapatkan pelajaran di baliknya. Daripada menyesali kegagalan, lebih baik banggalah karenanya, karena itu tanda kamu mencoba dan berusaha, pelajari pola gagalnya, temukan hal yang salah dan lakukan lagi dengan cara lain dan jangan lupa tetap bahagia ketika gagal. Mungkin kalau tadinya kamu punya jatah gagal 100, sekarang tinggal 99.


Nah, itulah 14 hal yang kupelajari di usia dua puluh dua ini. Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu pelajari di usiamu sekarang? Tuliskan di kolom komentar,ya :)

  • Share:

You Might Also Like

12 comments

  1. Banyak juga ternyata yang didapat. Memang, usia 20-an (walau saya baru masuk usia ini) banyak banget yang dilalui. Makin nambah usia, makin beragam pengalamannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan makin bijaksana juga dalam bertindak, karena makin banyak pelajaran yang di dapat.

      Delete
  2. buat aku, yang jadi tantangan adalah adaptasi. apalagi di lingkungan baru. karna aku termasuk orang yang agak susah untuk beradaptasi. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama, mba. aku juga sulit beradaptasi. Yah tapi mau gimana lagi. harus berusahaa biar ga ketinggalan. semangat buat kita :)

      Delete
  3. Halo mbak, makasih udah sharing ya.
    Ini saya yang dari froteast :D

    ReplyDelete
  4. Halo, salam kenal. Selamat datang di usia 22 ya! 😉

    Meski aku sudah melewati usia 22, mengenali diri sendiri masih jadi peer sampai hari ini lho. Menurut aku ini yang paling penting sih, karena ya semakin banyak yang kita hadapi, ternyata semakin banyak juga versi diri kita yang akan muncul.

    Menulis juga masih jadi media terapi buatku sampai saat ini.

    Semangat terus optimalisasi diri di usia 20an. Masa muda waktunya berkarya dan berkarya! Semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengenali diri memang jadi pr untuk seumur hidup ya, kak. saya juga merasa menulis itu healing yang paling manjur buat diri saya. semangat juga kak!

      Delete
  5. Wah sepantaran ya...saya juga pernah 22 lho beberapa waktu lalu.
    Kalau di usia saya yang (kayanya 22 juga sih) sekarang, saya belajar 2 hal penting yang harus dilakukan supaya hidup lebih maksimal.

    Yang pertama, terus bertumbuh. Mulai intelektual hingga emosional, semakin bertambah usianya harus semakin tambah juga kepandaian dan kebijaksanaannya.

    Kedua, berkontribusi. Pinter tapi hanya untuk diri sendiri, apalah artinya. Bagai makan tanpa pernah mau BAB. Jadi penyakitan.

    So far, itu sih kalau saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah bener banget, kak. kepandaian dan kebijaksanaan makin dewasa harus makin naik juga levelnya. harus berbagi juga, diputer ilmunya biar mengalir terus kaya air.

      Delete