Shalat Sebagai Manajemen Waktu

By Khata S. Fluorida - December 18, 2019

Shalat-untuk-manajemen-waktu

Aku pertama kali mengetahui cara ini dari Aida Azlin, seorang youtuber Singapura yang sekarang tinggal bersama suaminya di Morrocco. Menurutku, tipsnya amat unik dan mudah di ingat. Jadi aku akan membagikannya disini.



Dalam buku The Power of Habits yang sudah pernah aku tulis di sini, pada dasarnya setiap kali kita memulai suatu kebiasaan, otak kita memerlukan suatu tanda yang memberikan kode baginya untuk segera melakukan hal tersebut. Tanda itu bisa berupa suara, wangi, suasana, jam, rasa lapar, apapun yang membuat kalian kemudian melakukan suatu rutinitas. Jika dikaitkan dengan shalat, kebetulan shalat di Indonesia mempunyai tanda, yaitu Adzan. Kita dapat mendengar adzan di hampir sebagian besar wilayah di Indonesia. Kalaupun di daerah kalian tidak terdengar adzan, kalian dapat mengakalinya dengan mengunduh aplikasi pengingat waktu shalat di ponsel kalian. Tanda inilah yang dapat kita gunakan sebagai sekat-sekat penanda dari kegiatan yang akan kita lakukan.

Waktu Shalat dibagi menjadi lima, yaitu shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Idenya adalah, shalat adalah penanda dari kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan setelahnya. Sebagai contoh, adzan subuh, berarti kita harus bangun dan melaksanakan shalat subuh, lalu selanjutnya membaca quran selembar, mandi, makan, lalu membuat agenda untuk hari ini.

Kemudian, Shalat Dhuhur adalah waktu untuk rehat sejenak, makan siang, lalu mengerjakan tugas lagi. Shalat Ashar adalah penanda untuk mengurangi intensitas kerja kita, atau bisa jadi waktu pulang kantor. Shalat Maghrib adalah penanda makan malam. shalat isya? adalah penanda tidur.

Dari shalat kita dapat mengalokasikan waktu-waktu yang kita dapat gunakan untuk bekerja. semisal, jarak subuh dan Dzuhur yang panjang menandakan bahwa pagi hari adalah waktu yang paling tepat untuk mengerjakan hal-hal berat. Tengah hari, ketika energi mulai habis, kita rehat sejenak dengan shalat, lalu makan untuk menenangkan diri dan mengisi energi. Ashar adalah waktu dimana level energi kita sudah rendah, jadi mari habiskan waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak terlalu berat. Maghrib adalah pergantian hari, disini kita bisa melakukan aktivitas yang menghibur dan menenangkan seperti bercengkrama dengan keluarga, nonton tv, atau membaca buku. Sementara Isya, adalah pertanda kita untuk tidur. harapannya, agar sebelum subuh kita bisa bangun.

Begitulah cara untuk mengatur shalat sebagai manajemen waktu, apakah kamu punya tips lain untuk menggunakan shalat sebagai manajemen waktumu? atau kamu punya request tulisan? tulis di kolom komentar ya.


  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Masya Allah, saya baru pernahnya ngerasain sholat sebagai istirahat. Yaitu, pas di kampus padet sama kuliah dan agenda-agenda lain, sholat jadi momen istirahat pikiran. Selesai sholat Dzuhur tidur sebentar

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisaa juga yaa jadi istirahat pikiran, karena paginya sudah dibombardir sama banyak aktivitas dan informasi, shalat jadi sarana buat mengistirahatkan diri sejenak. Kalau gasalah namanya Qailullah. cuma kalau Qailullah dilakukannya sebelum Zuhur :)

      Delete