Medan Perang

By Khata S. Fluorida - December 01, 2019


Semakin bertambah usia, maka bertambah pula pengalaman baik maupun buruk dalam kehidupan kita. Kalau ketika umur belasan dulu, aku sering kali marah dengan keadaan, aku merasa dunia ini tidak adil, sekarang aku sudah lebih menerima dengan hati yang lapang.

Aku sekarang lebih menerima diriku dan orang lain, kalau sebenarnya, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, termasuk aku. Jadi, tidak apa-apa kalau aku berbuat kesalahan, tidak apa-apa pula kalau ternyata aku tidak sehebat yang aku pikirkan. sungguh tidak apa-apa. hatiku menjadi lebih damai, ketika tau bahwa sesungguhnya di dunia ini, kita dilahirkan di medan perang kita masing-masing. Tidak ada dari kita yang punya medan perang yang sama persis, setiap dari kita autentik. Medan perang yang kumaksud adalah dosa yang akan menjadi medan juang kita.

Setiap orang memiliki setidaknya satu dosa yang seumur hidup mereka harus mencoba untuk melawannya. Dalam prosesnya kita akan terus merasa tidak berguna, frustasi, marah kepada diri sendiri, marah kepada takdir, dan merasa tidak ingin menerimanya. namun, kenyataannya, tidak menerima kekurangan adalah suatu kemunduran. Langkah pertama untuk memperbaiki ini adalah berdamai dengan diri sendiri. setelah itu, percayalah, kita akan siap untuk langkah selanjutnya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments