Kamu Kok Iteman?

By Khata S. Fluorida - December 06, 2019

Siapa yang tidak kesal saat mendengar kata "kok kamu iteman?" pasti ada perasaan direndahkan atau terhina saat kata tersebut dilontarkan. begitu juga aku, seringkali merasa marah dengan basa-basi yang sama sekali tidak asik itu.


Love Yourself KecantikanSelf Acceptance Body Shaming

Dulu, saking bencinya dikatain item, aku jadi berusaha keras untuk memutihkan kulitku, baik dengan bahan alami maupun bahan kimia. Lemon, jeruk nipis, bengkoang, Hydroquinon, krim pencerah ponds, hair and lovely dan lain-lain yang diklaim dapat membuat wajahku lebih putih, bukannya memberikan hasil baik, wajahku malah makin bermasalah dibuatnya.

Setelah semua usaha yang tidak membuahkan hasil itu, aku jadi bertanya-tanya sendiri. Sebenarnya, apa yang membuat aku membenci kulit gelap? mengapa kebencian terhadap kulit gelap ini sepertinya sudah mengakar sekali, sampai tertanam dalam di dalam diri kita? keburukan apa yang dihasilkan dari berkulit hitam, atau kulit gelap, sehingga kita semua mengeluarkan effort yang besar untuk mengenyahkannya dari kehidupan kita? Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, aku berharap dapat menentukan apakah aku akan terus membenci warna kulitku ini, atau mulai menerimanya.

Pada akhirnya, setelah bosan mencari dan mengais-ngais di internet, aku tidak menemukan satu keburukan apapun dari menjadi kulit hitam. kalian bisa cari sendiri. Tidak ada alasan yang terlalu kuat untuk bisa mengatakan bahwa kulit gelap memang sungguh pantas dibenci. Karena beresiko membawa penyakit tertentu, atau membuat kita benar-benar terlihat jelek. kenyataannya, semua kejelekan dari kulit gelap tidak ada dimana-mana, hanya ada di khayalku sendiri.

Bahkan, bukan kulit kuning kecokelatanku yang membuatku terserang masalah kulit (Jerawat), tapi justru usahaku untuk memutihkan kulitlah yang beresiko mendatangkan banyak resiko buat kulitku, tubuhku, dan mentalku. 

Bayangkan aja, dengan memakai bahan-bahan yang klaimnya bisa memutihkan kulit itu, kulitku bisa saja jadi lebih cerah. Tapi lemon membuat kulitku makin tipis yang rentan jika terkena sinar matahari. Begitupula jeruk nipis. Waktuku juga habis untuk mengolah bahan-bahan makanan tersebut. Memakai bahan kimia? sama buruknya buat kulitku. Hidrokuinon malah dapat membuat semua jerawat yang terpendam muncul dengan dalih menghabiskan jerawat yang ada di dalam. Aku pribadi tidak pernah bisa percaya dengan obat yang katanya mengeluarkan semua jerawat dulu biar wajahku bersih. Bagiku, yang namanya obat yaa mengurangi masalah bukannya menambah masalah. Bukan hanya itu, masalah di tubuh kita yang tidak kita ketahui, baru diketahui setelah berpuluh tahun nanti.

Tapi semua itu tidak seberapa dengan satu penyakit parah yang muncul akibat dari obsesi kulit ini. kesehatan mental. Berharap memiliki kulit putih ketika kulit kita berwarna kuning kecokelatan itu sangat berpotensi mendatangkan penyakit mental. Aku sendiri pernah mengalaminya, dimana aku merasa sangat tidak percaya diri hanya karena kulitku tidak putih. Sebenarnya itu sungguhlah perasaan yang aneh dan tidak perlu, mengingat masih banyak hal lain yang lebih patut dipikirkan ketimbang memikirkan cara memutihkan kulitku. Aku jadi selalu parno kalau keluar rumah, pakai ini-itu buat mencegah kulitku menggelap. Habis uang untuk membeli krim-krim pencerah. merasa insecure kalau kena sinar matahari, dan ketakutan-ketakutan tidak beralasan lain yang sangat annoying kalau diingat-ingat lagi. itu semua terjadi dari SMP sampai SMA. 

Merubah pola pikirku untuk kemudian menganggap kulit gelap tidaklah jelek juga sebenarnya bukan perkara gampang. Awalnya sangat sulit. bagaimanapun aku mencoba meyakinkan diriku kalau aku tidak perlu berkulit putih, kalau orang-orang dengan kulit gelap itu juga cantik, aku tetap tidak bisa mengubah sudut pandangku. Itu memakan waktu yang sangat lama sampai akhirnya aku menemukan formula sendiri untuk diriku agar bisa tetap menghargai kulit gelap ini.

Melihat Publik Figur Berkulit Gelap
Aku mencari-cari artis berkulit gelap, sebagai bukti kalau ada juga orang berkulit gelap yang terlihat cantik. Ini usaha yang paling membuahkan hasil. Aku menemukan Zendaya, Naomi Scott, Deepika Padukone dan Kelsey Meritt. Dengan melihat mereka, aku sadar, kecantikan memang bisa muncul dari warna kulit apa saja. Jujur saja, melihat publik figur dengan warna kulit gelap ampuh sekali untuk menaikkan kepercayaan diriku. Dari merekalah kemudian aku mulai bisa mengubah pola pikirku dan mencintai warna kulitku sendiri.

Kurangi Menonton Hal yang Mempromosikan Kecantikan dari Kulit Putih
percaya tidak percaya, hal ini juga berpengaruh besar dalam perubahan pola pikirku. Waktu SMP dulu, aku sangat terobsesi dengan Drama Korea. Semua orang di dunia ini tahu, kalau orang korea sangat memuja kulit putih, dan semua orangnya pun berkulit putih. Dulu ini sangat berpengaruh ke pola pikirku. Berkat obsesi itu, aku jadi spontan berpikir kalau aku jelek. Kalau Kulit yang cantik itu ya seperti pemain drama korea. yang bening, putih natural begitu. Belakangan, aku sudah tidak sebegitunya lagi nonton Drama Korea. Maka pola pikirku tentang cantiknya kulit putih juga mulai hilang. Aku tidak lagi insecure dengan warna kulit. Untuk menyeimbangkan, aku menonton film-film dari berbagai negara, yang otomatis menampilkan warna kulit yang berbeda-beda. Dari sanalah aku mempelajari kalau kecantikan itu datang dari berbagai warna kulit, bukan hanya warna putih. aku pun mulai menyukai warna kulitku sendiri, sejak saat aku memutuskan tidak terlalu berkiblat kepada satu negara lagi untuk mendefinisikan kecantikan.
 
Menyadari Kalau Kecantikan Bukan Datang Dengan Kulit yang Putih, Tapi Tubuh dan Mental yang Sehat
Hal ini yang paling penting yang harus ditekankan kepada diri kita masing-masing. Permasalahannya bukan pada warna kulit, tapi seberapa sehat tubuh dan mental kita. Aku banyak sekali melihat orang yang biasa-biasa saja, tapi terlihat sangat menarik, dan aku yakin itu karena mental dan tubuhnya yang sehat. Olahraga dengan teratur, makan-makanan sehat, minum air putih secukupnya, mungkin adalah nasehat-nasehat standar yang selalu kalian dengar dimanapun dan kapanpun, tapi itu memang benar-benar berpengaruh ke kecantikan kita. Berusaha untuk menghilangkan segala penyakit mental yang ada di dalam diri kita, termasuk perkara warna kulit ini. biasakan untuk berpikir kalau semua warna kulit memiliki kecantikannya masing-masing. hal-hal sederhana ini, dapat berikan efek positif yang kuat pada mental dan tubuh kita, dan dengan tubuh yang sehat serta mental yang sehat pula, akan memberikan efek positif pada kepercayaan diri. Lalu secara otomatis, orang-orang yang percaya diri akan terlihat lebih menarik. Dengan begini, pikiran-pikiran ini, pikiran bahwa kecantikan datang dengan kulit yang putih pun bisa hilang perlahan.

Memulai untuk meyakinkan diri jika kulit gelap tidaklah jelek
Aku berulang-ulang menyugesti diriku agar tidak membeda-bedakan warna kulit. Awalnya aku merasa seperti munafik, karena aku mengatakan bahwa seorang berkulit gelap cantik, padahal di pikiranku sebaliknya. tapi belakangan ini, aku sudah tidak merasa kesulitan lagi untuk memikirkan itu. pujianku terhadap orang berkulit gelap juga jadi lebih tulus. Aku amat senang dengan perubahan pola pikirku ini.
Self Love
Ini juga poin yang sangat penting. mudah dikatakan, sulit dilakukan. Mungkin memakan waktu lama, tapi percayalah, Self Love mengurangi banyak masalah di kehidupan kita, termasuk soal pola pikir rasis ini. dengan kecintaan diri kita sendiri, kita belajar menerima diri kita, warna kulit yang kita miliki, sehingga kita tidak lagi membandingkan dengan orang lain. dengan tidak lagi membanding-bandingkan diri kita, akan menyelamatkan kita pula dari kebencian terhadap warna kulit gelap.
Cara-cara diataslah yang di pengalamanku sangat ampuh untuk mengubah pola pikirku tentang masalah kulit ini. Aku sadar, sebenarnya perang melawan kebencian terhadap warna kulit ini masih berlangsung di dalam diriku, dan di dalam masyarakat. aku sadar pula kalau mengubah pola pikir masyarakat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi akupun yakin kalau ini sama sekali bukan hal yang sia-sia, dan hal ini harus dimulai dari sekarang, dan dari diri kita sendiri. Mungkin butuh bertahun-tahun, bisa pula tidak ngefek, tidak berhasil di diri sendiri. Tapi usaha-usaha yang kita lakukan ini, bisa jadi nantinya dapat menular ke orang terdekat. atau orang yang nanti akan kita didik, generasi masa mendatang. satu orang saja yang terpengaruh dapat membuat perbedaan yang amat berarti. siapa tahu, satu orang tadi nantinya dapat memengaruhi satu orang lagi. Bisa pula diterapkan pada pola asuh terhadap anakku kelak. Pola pikir ini dapat membantu dia untuk mengenyahkan satu pola pikir yang tidak bermanfaat, sehingga dia mempunyai lebih banyak ruang di dalam pikirannya untuk memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat ketimbang benci terhadap kulitnya sendiri.

Jadi, yuk mulai untuk melawan pola pikir rasis ini.

Salam

  • Share:

You Might Also Like

30 comments

  1. Love by yourself. Mencintai diri sendiri itu penting, agar kita bisa menerima diri dengan segala kondisinya. Be comfort by yourself, right? ^^

    ReplyDelete
  2. Bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan.
    Saya sendiri dari 2 bersaduara adik dan kakak, semua berbeda.
    Kakak kulit sawo matang, saya kuning langsat, adek ga hitam ga kuning ga tau apa sebutannya.
    Kalau ingin bebas jerawat yang penting kita menjaga kebersihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa bener banget mba, yang terpenting itu rapih dan bersih ya. udah pasti enak dilihat.

      Delete
  3. Ini gegara framing dari media sih ya yang membuat kita jadi punya mindset bahwa cantik itu harus putih, langsing, tinggi. Padahal kita cantik itu dari inner beauty juga loh, banyak kok orang yang gak perfect kaya di iklan or TV tapi mereka tetap menarik. Love ourself intinya sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, inner beauty itu yang penting banget, mau diluarnya sesuai dengan standar kecantikan pun, kalau inner beautynya gada, ya ga bakalan keluar juga cantiknya.

      Delete
  4. aku gak suka sama orang-orang yang body shaming atau rasis. Entah kebiasaan atau pola pikir yang berkembang dilingkungannya, atau kekurangan akan kesadaran mencintai ciptaan Tuhan apa adanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya jugaa, sayangnya secara tidak langsung, dulu saya punya mindset rasis. baru belakangaan ini saya coba merombak ulang semuaa pola pikir saya supaya saya bisa jadi orang yang lebih baik :D

      Delete
  5. Kalo kata Mamak Meira Anastasia (istri Ernest, penulis buku Imperfect): ubah insekyur jadi bersyukur, imperfect menjadi i'm perfect. Hehehe. Saya pun berkulit cokelat kehitaman kok mba. Sekarang aja rada putihan karena udah berhijab dan jarang banget motoran. Kalo dulu mah, jangan ditanya. Hihihi. Cintai diri sendiri ya mba, itu hikmahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa cintai diri sendiri, dan hilangkan mindset kalau hittam itu jelek, minimal jangan sampai anak kita punya mindset yang begitu juga. jadi dia bisa mikirin hal yang lebih bermanfaat yaaa. :D

      Delete
  6. Sekarang tiap ketemu orang - orang saya selalu jadi sasaran, Gendutan ya sekarang. Duh sedih tapi ya gimana lagi saya susah ngendaliin omongan cablak orang, cuman bisa manyun aja sambil kesal,

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini juga salah satu yang sering dikeluhkan orang yah, mba. yaa begitulah, mindset kita masih harus banyak yang diperbaiki lagi..

      Delete
  7. Aku terlahir paling hitam diantara 5 saudara perempuanku. Aku bungsu. Dan dulu temen, sodara..semua sering ngebully, item dll
    Sampai kuliah masih gitu dan bikin kezel. Terus pas kerja, mulai kena ruang berAC, jarang panas-panasan , jadi terang. Sekarang , jadi IRT keluar kalau ada keperluan, makin terang dah kwkwkw
    Bersyukur dengan yang kita punya karena kadang kita lupa kelebihan kita apa jika terus-terusan melihat kurangnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, dan mindsetnyaa juga sih, untuk ngga mengglorifikasi warna kulit tertentu. setidak-tidaknya dari diri kitaa sendiri, kalau misalnya diri kita aja udah menganggap kulit gelap itu jelek, yaa ga bakal bisa bersyukur jugaa...

      Delete
  8. Setuju banget, semua berasal dari persepsi yang dibuat terus menerus
    Padahal berapa persen sih rakyat Indonesia yang kulitnya putih

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah akhirnya bisa menyadari serta mensyukuri semua yang telah digariskan Tuhan kepada kita ya Mbak.
    Cantik yg sebenarnya memang dari dalam hati. Dengan banyak bersyukur akan semakin tampil cantik diri kita ini

    ReplyDelete
  10. Mmm ... Apa ya bagian dari diriku yang dulu pernah nggak aku suka? Oiya, hidung. Ibuku cantik, berhidung mancung, kakak-kakak pun begitu. Aku, sudahlah hidungnya paling pesek, suka dicela pula. Jadinya sebal sama hidung sendiri. Tapi itu lagi-lagi karena pengaruh orang lain, ya. See, betapa besar pengaruh kalimat orang lain terhadap diri kita. Beranjak dewasa, hilang dengan sendirinya sih rasa sebal itu. Bagian dari diri yang istimewa, jauh lebih banyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, setiap dari kita punya keistimewaannya masing-masing. cuma seringkali yang disoroti yang jeleknya aja. saya lagi belajar buat menahan bicara saya juga supaya ngga menyakiti hati orang lain..

      Delete
  11. Sedih pasti ada ya, cuma ya udah abaikan aja. Tapi bisa diolah mindsetnya jadi anggap aja itu sebagai suatu perhatian, meski memang susah, seperti orang tanya kapan nikah 😌

    Dan untuk temannya memang seharusnya nggak perlu dilafazkan sih, demi jaga perasaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener ya mba, positif thingking aja kalau itu bentuk perhatiannya dia haha. sekarang saya juga sedang berusaha membangun mindset yang begitu. dan juga lebih menjaga bicara saya ssendirisupaya tidak menyakiti hati orang lain..

      Delete
  12. Sedih ya Mbak dikatai seperti itu. Aku pernah ngalamin dengan hinaan senada juga. Bedanya saya dikomentari bagian wajah yang katanya tak cantik.

    Self love itu butuh proses, bisa lebih panjang waktunya jika sebelum kita memulai saja sudah ada yang menjatuhkan.

    Semangat Kakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa. semangat jugaa yaa kak. kita semua berproses. selama ada niat dan kesungguhan, pasti bisaa :D

      Delete
  13. Anak kedua saya tuh dari lahir emang berkulit gelap. Gemesnya adaaaa aja yang pas nengokin tuh singgung-singgung si adek sekadar bilang "eh yang ini item ya?", "hihihi..laki sekali kulitnya", atau kalau pas ketemu sekarang dikomentarin lagi karena sekarang dia gak segelap dlu yaa..seiring usia mungkin, dikomen gini "eh, sekarang agak putih ya? ingat banget waktu lahir dulu itemnya..."

    Astageee...rese bener orang-orang itu wkwkwk.
    Untung saya lagi males komentarin. Yang penting bahagia aja sama si kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, ngga terlalu penting warna kulit itu gimana. terus terang saya juga masih berjuang menghilangkan pola pikir kaya gitu sampai ke akar-akarnya di dalam diri saya juga. Semoga kita bisa menilai orang tidak lagi hanya berdasarkan warna kulit yah..

      Delete
  14. Sedih banget emang mbak kalau dikata-katain orang lain.Dan kalau aku paling males dibilang : "kok kamu tambah gendut sih!" Asli emang mencintai dan menerima diri sendiri itu penting supaya bisa bodo amat dengan penilaian orang lain.Karena cantik itu bukan soal kulit ataupun bentuk tubuh. Lagipula kalau semua orang bentuk dan warna kulitnya sama kan bosen juga liatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaap bener bangeet mba, kalau udah menerima diri sendiri, mungkin kita bakal tetep ngga nyaman kalau dikatain, tapi setidaknya perasaan itu lebih cepet hilangnya karena kita udah punya tameng yg kurang di dalam diri kitaa..

      Delete
  15. nah bener banget kak.. kita ini terlalu berkiblat pada kecantikan yang standartnya kulit putih.. padahal kulit gelap pun keren.. apalagi kalo bersih dan mengkilat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa bener banget, harusnya daripada kita memuji kulit yang putih, mendingan mencari cara supaya kulit kita tetep sehat...

      Delete